Sumber Gambar: LPM Mercusuar

Mengawali bulan Maret 2026, estafet kepemimpinan BEM Unair kembali digulir. Pasangan calon (paslon) Senja-Shintya secara resmi mendeklarasikan diri sebagai satu-satunya kandidat ketua dan wakil ketua BEM Unair 2026 usai melewati tahap verifikasi berkas pada 2 Maret lalu. Safari Kampus A yang digelar di Hall AMEC lantai 2 pada Kamis (5/3) menjadi agenda kampanye pertama yang dilakukan oleh paslon tersebut. Acara tersebut menargetkan audiens dari rumpun kesehatan, yakni Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Keperawatan, Fakultas Farmasi, Fakultas Vokasi (Departemen Kesehatan), dan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam Banyuwangi.

Mundur 20 menit dari jadwal yang terunggah pada laman Instagram @mpmunair, acara Safari Kampus A baru membuka registrasinya pada pukul 12.20 dan acara baru dimulai pada pukul 13.53. Acara dibuka oleh sambutan dari Ketua Panitia Pemilihan Ketua (PPK), Dinar Rahmatina, dan Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM), Maysha Akmala Dina. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan penayangan video profil dan pemaparan visi-misi paslon melalui grand design yang bertajuk “Cerita Loka”.

Melalui “Cerita Loka”, paslon Senja-Shintya menggaungkan narasi yang menempatkan BEM Unair sebagai rumah yang inklusif serta kompas gerakan yang adaptif sebagai visi, dan memetakan misinya pada lima pilar, yaitu Loka Potential, Loka Acceleration, Loka Movement, Loka Empowerment, dan Loka Collaboration. Berbagai program kerja unggulan berdasarkan 6 fokus isu turut diekspos, seperti Tjokroaminoto Project dan Swara Warga dalam isu public policy, Airlangga Global Economy Forum dan Airlangga Global Impact Project dalam isu globalization, serta Equaloka Minds dan Teman Loka dalam isu mental health & gender equality. Selain itu, ada pula Airlangga Techlab dan Rekayasa (Ruang Eksibisi Karya Ksatria Airlangga) dalam isu innovation and technology, Seminar dan Expo Beasiswa (SEMPOA) dan Lokal Career Academia dalam isu career and development, serta Loka Sehat Airlangga dan Eco-Leaders Camp dalam isu public health & environmental. Pemaparan grand design ini berlangsung melebihi durasi 10 menit yang sudah ditentukan sebelumnya.

Usai pemaparan grand design, sesi tanya jawab pun dibuka dengan menargetkan tiga pertanyaan pertama dari audiens. Widya Pancawati, salah seorang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, mempertanyakan urgensi dan kebaruan program dalam fokus kesehatan mental dan kesetaraan gender yakni “Teman Loka”. Ia menilai fungsi program tersebut beririsan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Satuan Tugas Pencegahan & Penanganan Kekerasan (Satgas PPKPT) universitas. Menanggapi hal itu, paslon menjelaskan bahwa platform berbasis AI tersebut berperan sebagai langkah awal pendampingan dan jembatan bagi mahasiswa, yang nantinya akan dilanjutkan pada tahap advokasi dan rekomendasi oleh Satgas PPKPT. Kinerja platform tersebut nantinya akan tetap melibatkan respons manusia dan dinaungi oleh kementerian terkait seperti Kesetaraan Gender, Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa, dan Kesehatan—terkhusus pada direktorat jenderal (Dirjen) Pemberdayaan dan Pendampingan Psikososial. 

Pertanyaan berikutnya muncul dari Afifa Aqilah, mahasiswa Fakultas Keperawatan, yang menyinggung kesenjangan antara kebijakan Universal Health Coverage (UHC) dengan realitas klinis di lapangan, salah satunya tercermin pada isu BPJS. Menjawab keresahan tersebut, Senja mengakui bahwa aktivisme kampus di ranah kesehatan saat ini memang masih dirasa kurang. Lantas, Paslon mengklaim akan mengoptimalkan peran BEM Unair yang kini menjabat sebagai koordinator isu kesehatan di tingkat BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) untuk mengawal kebijakan publik tersebut secara lebih inklusif.

Selain itu, menjawab pertanyaan salah seorang mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan mengenai efektivitas seminar mental health, Shintya menjelaskan bahwa program Equaloka Minds tidak hanya berhenti pada seminar, tetapi juga menyediakan Mental Health Expo untuk screening data dan layanan konsultasi gratis bagi mahasiswa. 

Isu independensi dan integritas organisasi juga menjadi sorotan ketika salah seorang mahasiswa Fakultas Keperawatan mempertanyakan sikap paslon terhadap potensi tekanan politik, baik dari pihak rektorat maupun eksternal. Menanggapi hal tersebut, Senja menegaskan bahwa BEM Unair harus memposisikan diri sebagai mitra strategis sekaligus kontrol kebijakan yang tetap berpihak pada kepentingan mahasiswa.

Mengenai integritas, Shintya menjelaskan bahwa paslon telah merumuskan sistem evaluasi yang ketat melalui penyusunan Key Performance Indicators (KPI) untuk setiap kementerian. Selain itu, akan dilakukan monitoring dan evaluasi (monev) rutin setiap tiga bulan untuk memastikan program berjalan sesuai target ideal. Seluruh hasil capaian dan evaluasi tersebut nantinya akan dipublikasikan secara transparan kepada publik agar organisasi tetap akuntabel.

Setelah sesi tanya jawab dirasa cukup, paslon menyudahi sesinya dengan closing statement. Setelah sesi dokumentasi bersama, MC menandai berakhirnya agenda di Kampus A. Meskipun demikian, perjalanan ini dipastikan belum usai. Safari Kampus akan segera berlanjut ke Kampus B dan Kampus C dalam beberapa hari ke depan. 

Penulis: Tim Liputan Khusus LPM Mercusuar

Editor: Tim Editor LPM Mercusuar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *