Beberapa hari sebelumnya, sempat beredar surat pengumuman perihal pembekuan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik. Tertera pada surat pengumuman tersebut bahwa HIMA ini dibekukan akibat adanya pelanggaran dan tindak kekerasan yang dilakukan kepada mahasiswa baru selama rangkaian Power 2023 atau ospek jurusan Ilmu Politik. Merespon surat tersebut, Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Thoriq Haidar Al Roychan Ghozali buka suara dan mengajak dekan hingga departemen untuk berdiskusi.

Dalam wawancaranya bersama dengan anggota Mercusuar, Thoriq memaparkan bahwa pembekuan HIMA Ilmu Politik dilakukan secara mendadak dan sepihak, “Kami juga baru mengetahui ketika di tanggal 29 kemarin, pada pukul 4 sore dan kami mengetahuinya ya ini dari eksternal, di luar mahasiswa politik dan kami juga kaget karena itu surat permohonan dari dekanat kepada departemen yang menindaklanjutinya terkait masalah pembekuan Hima”, papar Thoriq.

Dirinya juga menyanggah adanya perizinan yang melewati batas waktu yang tertera pada SIK, “Jadi awal itu SIK kita udah H-3 hari kalau nggak salah sebelum hari kegiatan, itu SIK dari Direktorat Kemahasiswaan itu sudah turun yakni bahwa kegiatan ospek jurusan ini ditelepon oleh Prof. Bagong untuk memberhentikan secara tiba-tiba. Nah kita mempertanyakan terkait hal ini karena tidak ada surat instruksi”, tambahnya.

Dengan SIK yang mereka miliki dan di bawah pengawasan dosen Ilmu Politik, serangkaian kegiatan Power tetap dilanjutkan. Kegiatan berjalan terus hingga akhirnya dibubarkan pada jam 7 malam, “Ketika dosen-dosen Ilmu Politik mendampingi, tiba-tiba di kegiatan sekitar pukul 7 malam nah itu tiba-tiba, tetap ingin membubarkan dan akhirnya kita sebagai mahasiswa juga ikut perkataan beliau semua”, ujar Thoriq.

Para panitia pun dikabarkan memulangkan mahasiswa barunya pada pukul 9 malam, “Jam 9 tepat, kita mengantarkan mahasiswa baru ke depan untuk bertemu dengan orang tuanya yang dijemput oleh orang tuanya. Setelah itu, kita beres-beres untuk mempersiapkan pembubaran acara karena memang kita komitmennya ingin menjaga hubungan baik dengan teman-teman”, tambah konfirmasi Thoriq mengenai isu bahwa mahasiswa baru dilibatkan hingga dini hari.

Perihal isu kekerasan dan pelanggaran yang terjadi di kegiatan Power, pihak panitia sudah menyediakan Google Form untuk mahasiswa baru sebagai wadah pengaduan terkait pelanggaran atau kekerasan yang terjadi pada mereka, “Tidak ada yang menyatakan bahwa mereka menjadi korban kekerasan ataupun perpeloncoan dan sebagainya. Itu tidak ada.”

Dalam kegiatan mereka, mereka mengakui adanya keterlibatan alumni dalam serangkaian kegiatan, “Ada yang namanya Politik Cup, ada yang namanya Dekan Cup, itu semuanya kita melibatkan alumni. Kita selalu melibatkan mereka semua di hal ini, baik itu ospek, seminar Airlangga Politik karena ini menjadi bentuk relasi kita. Ini menjadi bentuk komitmen terkait masalah relasi dari teman-teman mahasiswa politik yang selalu menjaga relasinya, baik dari angkatan bawah sampai angkatan tua-tua yang punya anak itu”, Thoriq kemudian menambahkan lagi bahwa alumni tetap ikut terlibat dalam kegiatan ini dikarenakan rasa kekeluargaan yang mereka miliki, “Asas yang dipegang oleh HIMA yang pertama, asas kekeluargaan, yang kedua adalah profesionalitas. Nah, kekeluargaan ini menyambung terkait masalah relasi di sana. Nah, di kekeluargaan sendiri itu relasi yang di profesionalitas, yang ditanggung jawab dan juga berpikir kritis.”

Nizar selaku ketua pelaksana Power menambahkan apa yang terjadi di lapangan, “Kami yang ada di teman-teman panitia itu justru melihat apa yang ada di lapangan ini sebagai bahasa kedekatan, karena kami udah kenal jadi lebih ke bercanda asik sih. Cuman memang kadang mungkin ada pakai nada teriak satu-dua kali. Cuman itu dari kami teman-teman panitia nggak mengalami kekerasan sama sekali terkait masalah verbal, non-verbal.”

Nizar juga mengakui adanya kegiatan buka baju panitia laki-laki, “Jadi memang di kegiatan kami kan ada proses inisiasi.  Itu yang memang terjadi dalam budaya kami. Nah, di situ aku juga teman-teman panitia itu mengarahkan, mengajak bareng-bareng. Jadi itu memang pelepasan sebagai bentuk ekspresi kami dalam malam yang bahagia seperti itu”, tambah Nizar sembari mengkonfirmasi bahwa tidak adanya unsur paksaan dalam pelepasan baju.

Selain Thoriq dan Nizar, ada juga kesaksian Abdurrohman sebagai salah satu mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan Power ini, “Jadi disini angkatan saya sama sekali tidak mengalami yang namanya kekerasan, bahkan sama sekali tidak disentuh. Dan tentang terkait adanya alumni di acara itu, kita dari angkatan kita malah senang”, pengakuan Abdurrohman terkait kegiatan yang diikutinya, “Ketika jam 9 kami dipulangkan dan kita setelah itu mungkin sepengetahuannya ketika kita di luar, kita menunggu jemputan itu mungkin agak lama gitu. Tapi untuk dipulangkannya, jam 9 itu kita sudah dipulangkan dan dari angkatan saya juga sangat menyayangkan ketika nanti HIMA Politik dibekukan, karena kita berproses dan datang di sini belajar di Ilmu Politik bukan hanya belajar formal, tapi juga ingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di kampus ini. Jadi kalau misal nanti dibekukan kita mau belajar berorganisasi di mana. Kita mau berkembang dan proses di mana. Itu yang dari angkatan saya rasakan sekarang dan ingin sampaikan”, imbuhnya.

Menanggapi laporan adanya kekerasan dan pelanggaran melalui Help Center UNAIR, para narasumber menyanggah adanya laporan tersebut, “Itu menurut data dari UNAIR, kita juga punya data yang menjelaskan bahwa tidak ada yang namanya perpeloncoan atau kekerasan seksual, dan yang ditutupkan apapun itu tidak ada. Teman-teman Mercu dengar sendiri dari Aab (Abdurrohman), angkatan 23, dari Nizar, dari perwakilan panitia yang menjelaskan bahwa tidak ada perpeloncoan dan juga kekerasan seksual atau apalah yang dituduhkan.”

Selain itu, Thoriq juga menanggapi perihal pengosongan Kampus B selama kegiatan Power berlangsung, “Mungkin ini stigma yang melekat ya di Ilmu Politik bahwa tiap tahunnya kita mengusir atau sterilisasi Kampus B padahal di evaluasi di tahun ini kita tidak ingin adanya sterilisasi karena semua mahasiswa juga punya hak yang sama untuk pergi ke Kampus B tetapi yang perlu menjadi catatan adalah ada beberapa tempat yang memang dipakai oleh teman-teman mahasiswa politik itu memang harus dikosongkan. Kalau tidak salah beberapa ada yang ospek jurusan juga yang jamnya sama tapi kita tidak pernah melarang terkait hal itu, jadi isu-isu tersebut itu hanya stigma yang melekat di tiap tahunnya.”

Sepanjangan pemaparan, Thoriq menyampaikan alasan bahwa beberapa tindakan dosen yang kurang mengenakkan ketika kegiatan Power berlangsung, “Karena teman-teman ini sudah forum sendiri, mahasiswa baru mengatakan ingin lanjut ospek, akhirnya dari situ dosen-dosen ini semakin agak marah dan juga bahkan sampai ngomong di depan dengan lantang kita ini sudah punya satpam keamanan untuk membubarkan dan sebagainya.” 

Akhir kata, Thoriq mengajak adanya ruang diskusi yang sehat antar mahasiswa, departemen, dan dekanat untuk mencari jalan keluar permasalahan ini, “Ini kalau boleh jujur ya, aku ingin ada ruang-ruang diskusi yang sehat, yang terbuka menjelaskan bahwa misalkan teman-teman dari departemen dan juga dekanat punya data,  teman-teman HIMA juga sudah menyiapkan data, ayo kita cari ini yang benar mana, takutnya ada misinformasi, jangan sampai keputusan pembekuan HIMA ini hanya dilatar-belakang oleh satu pihak sisi saja.”

Penulis: Nico Gilang

Editor: Sri Dwi Aprilia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *