Perludem atau Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi yang menggandeng Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), untuk memfasilitasi beberapa organisasi lokal di Surabaya sekitar untuk mendapatkan pelatihan perihal Prebunking. Acara yang berlangsung pada tanggal 15 Agustus 2023 di Hotel Santika Premiere Gubeng itu diisi oleh organisasi-organisasi dari berbagai macam latar belakang.
Organisasi yang diundang adalah perwakilan dari AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya dan Sidoarjo, Bawaslu Surabaya dan Sidoarjo, Mafindo Surabaya dan Sidoarjo, Ada juga 2 organisasi internasional yang turut berpartisipasi dalam acara ini, yaitu perwakilan dari WYDII akronim dari Women and Youth Development Institute of Indonesia dan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Teman – teman dari kalangan mahasiswa juga turut hadir. Mereka ialah perwakilan dari Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan Lembaga Pers Mahasiswa Mercusuar Universitas Airlangga, dan yang terakhir adalah rekan dari komunitas difabel yaitu perwakilan dari Disabled Motorcycle Community.
Pelatihan yang memang ditujukan untuk membasmi hoaks jelang adanya pesta pemilu di tahun 2024 ini menargetkan agar para peserta bisa mengaplikasikan apa yang dinamakan Prebunking, sebagai salah satu senjatanya. Adapun senjata lain disebut Debunking. Pengaplikasian ini bisa dilakukan lewat media konten di sosial media maupun artikel di media-media arus utama.
Debunking adalah upaya klarifikasi hoaks. Jadi, penggunaan dari metode Debunking ini adalah dengan cara menunggu datangnya hoaks dengan kemudian mengklarifikasinya. Dalam kata lain, metode ini adalah metode menunggu bola. Alih-alih bisa mengklarifikasi seluruh hoaks yang ada, ketimpangan antara jumlah para pembuat dan penyebar hoaks dengan para pengklarifikasi hoaks lah yang menjadi alasan utama mengapa cara ini dianggap kurang efektif meskipun cukup berhasil.
Berbeda dengan metode Debunking yang cenderung reaktif, metode Prebunking adalah metode yang proaktif. Metode ini adalah metode yang mendorong si subjek untuk melakukan tiga langkah strategis, yaitu : memprediksi, memproduksi, dan mendiseminasikan konten penyebaran hoaks. Dengan mengenalkan pola-pola hoaks yang berulang kepada penonton. Diharapkan para penonton yang telah menonton konten Prebunking akan tahu dan bisa melakukan langkah preventif kepada hoaks-hoaks yang berulang. Dan tahu bahwa sebuah konten itu adalah hoaks ataupun tidak sebelum konten tersebut diklarifikasi kebenarannya.
Selain menginformasikan tentang Prebunking, para pengajar dari Mafindo juga meminta peserta agar melakukan langkah konkret dengan langsung membuat konten Prebunking dengan output berupa video, artikel, maupun infografis. Para pengajar juga memberitahu para peserta bagaimana cara membuat hoaks. Dari bagaimana mengganti judul hingga gambar langsung di website berita, membuat template siaran langsung seperti di TV, menggunakan AI untuk memanipulasi suara bahkan wajah dari tokoh tertentu untuk membuat hoaks. Diharapkan dengan adanya materi tentang pembuatan hoaks akan membuat peserta paham tentang bagaimana proses pembuatan hoaks berlangsung. Seperti metode vaksin, menyuntikkan virus agar tubuh mengenali virus dan membuat benteng lebih kuat untuk melindungi tubuh dari virus itu sendiri.
Di akhir sesi, panitia lewat sesi post-test juga menanyakan kepada para peserta apakah mereka akan melakukan langkah lanjutan untuk menyebarkan konten-konten Prebunking. Sesuai dengan apa tujuan dari diadakannya pelatihan tersebut.
Penulis: R. W. Elang
Editor: Daffa Amelia Yasa