Telah terselenggara Malam Puncak Muhibah Budaya Kota Madiun Jawa Timur di Balai Kota Madiun pada Selasa (25/7) malam. Gala dinner ini merupakan serangkaian kegiatan dari “Merajut Budaya Mataraman dari Yogyakarta untuk Indonesia” sekaligus sebagai penutupan acara. Pada acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh Pak Maidi sebagai Walikota Madiun, namun turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X. Kegiatan ini merupakan kerjasama dalam bidang pariwisata dan kebudayaan antara pemerintahan Kota Madiun dengan pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan sejak tanggal 20 Juli hingga 25 Juli yang lalu.

Serangkaian acara yang diselenggarakan selama 5 hari tersebut meliputi pembukaan Pameran Mahabandhana, yang diselenggarakan di rumah dinas Walikota Madiun, Pawiyatan Jawa yang ada di kantor Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun, pameran sastra, klinik aksara, pertunjukan wayang, berbagai kegiatan workshop, terdapat workshop digitalisasi aksara jawa, workshop tari, workshop pakaian adat, workshop macapat, workshop seni grafis, serta pelatihan cagar budaya dan sejarah.

Dalam sambutannya, Pak Maidi menyampaikan perlu adanya kesinambungan masalah kerjasama budaya dengan Yogyakarta, mengenai budaya mataraman yang perlu dikembangkan dan ditingkatkan terutama untuk anak didik generasi muda yang dirasa masih banyak ketinggalan. “Tetapi kota ini memang kita desain, budayanya kita mengikuti Yogyakarta, tetapi kemajuannya kita mengikuti dunia,” ungkap Pak Maidi. Dalam sambutan Gubernur Yogyakarta, dijelaskan terdapat benang merah yang menyambung hubungan antara Yogyakarta dengan Madiun, yang diawali dengan adanya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 dimana Madiun dan beberapa daerah lainnya di Jawa Timur menjadi daerah mancanegara Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dalam acara penutupan tersebut dimeriahkan dengan penampilan tari klasik Yogyakarta, Beksan Golek Jangkung Kuning, Beksan Pethilan Anila Prahasta dan lantunan gending macapat yang diiringi gamelan jawa. Beksan Golek Jangkung Kuning menggambarkan tingkah laku atau solah bawa seorang gadis remaja yang senang merawat tubuh dan bersolek. Tari ini diciptakan oleh Kanjeng Raden Tumenggung Wiroguno pada 1931. Sementara Beksan Pethilan Anila Prahasta diambil dari Serat Ramayana yang menceritakan peperangan antara Patih Prahasta dari Alengkadiraja melawan Raden Anila dari Pancawati. Hal ini melambangkan kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan.

Acara sukses digelar hingga akhir. Halaman Balai Kota Madiun dipenuhi oleh warga yang penasaran dan ikut menonton serangkaian acara penutupan. Meski pada awal acara sempat terdapat kendala teknis, namun hal tersebut cepat teratasi dan tidak berlangsung lama. Acara muhibah budaya mataraman ini juga dilaksanakan di Tulungagung pada 24 Juli, yang pusat kegiatannya dilaksanakan di Kota Madiun. Selain itu, acara penutupan ini juga ditayangkan langsung di kanal youtube tasteofjogja.

Penulis : Putri Endriana

Editor: Sri Dwi Aprilia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *