Sumber : Putri EndrianaSumber : Putri Endriana

Bagaimana bentuk rumah? Apa warnanya? Bagaimana deskripsinya? Jika pertanyaan itu diberikan kepada anak kecil, mungkin jawabannya sederhana. Kotak. Biru. Ada atapnya. Namun, tidak bagi Jane. Ia tak bisa menjelaskan tentang rumah. Gambar rumah yang ada di kepalanya sudah berubah sejak lima tahun lalu, sejak pertama kali ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Mungkin hal itu sudah lama ia rasakan, hanya saja Jane baru menyadarinya ketika isi kepalanya semakin rumit. 

Jane beruntung memiliki keluarga yang utuh dengan perekonomian yang cukup, meski setiap saat ia harus mendengar keributan di keluarganya. Ia seringkali diatur, dibanding-bandingkan dengan saudaranya atau anak tetangganya, mendengar keluh kesah ibunya, tanpa tahu apa yang sedang Jane alami. Mungkin terdengar normal bagi sebagian orang, tetapi hal yang terjadi selama bertahun-tahun itu membuat Jane sangat muak. Bahkan untuk keluar dari rumah sekalipun, ia harus berdebat dengan keluarganya. Ia harus berkuliah di universitas dan jurusan keinginan orang tuanya agar diizinkan ke luar kota. Ya, orang tuanya merasa merekalah yang benar, tak peduli salah atau tidak, tak peduli Jane punya pendapat pribadi atau tidak. Jane tidak pernah mendapat pujian dari orang tuanya. Alih-alih pujian, hanya ceramah yang ia terima setiap harinya.

Lima tahun ini Jane memilih untuk tinggal di sebuah kota yang jaraknya dapat ditempuh hingga empat jam via kereta api. Agustus ini akan genap enam tahun ia merantau. Selama ini Jane hanya pulang setidaknya dua kali dalam setahun, saat lebaran dan tahun baru. Ia jarang berkomunikasi dengan keluarganya, mungkin sebulan sekali. Sibuk. Itu alasan paling masuk akal yang bisa Jane pikirkan. Padahal ia hanya tidak tahu apa yang harus ia bincangkan, apa pertanyaan yang bisa ia lontarkan. Sejauh itu hubungan Jane dengan keluarganya. 

Rumah yang seharusnya menjadi tempat ia pulang, tidak pernah Jane rasakan keberadaannya. Ia selalu ingin pergi, kabur, bahkan tidak kembali. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, justru membuatnya sesak. Isi kepalanya yang ricuh menjadi semakin ricuh. Jika ditanya kenapa, Jane tidak tahu jawabannya. Sakit dari luka yang selalu tergores ditempat yang sama menjadi semakin dalam. Ia tidak pernah merasa nyaman, bahkan merasa sesak hanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia dengar, meski pertanyaan itu bukan untuknya. Ia bahkan pernah berpikir untuk secepatnya kabur dari rumah. Rumahnya terlalu berisik untuk Jane yang ingin sepi. Rumahnya terlalu dingin untuk Jane yang ingin merasakan hangat seperti yang dikatakan orang-orang.

Kadang Jane iri dengan orang-orang yang punya cerita lucu dengan keluarganya. Meskipun hanya cerita, Jane merasakan kehangatannya. Kapan terakhir kali ia merasakan kehangatan itu? Kapan kali terakhir Jane berpikir untuk pulang karena merindukan orang-orang rumah? Kapan kali terakhir Jane ditanya ‘bagaimana hari ini’? Kapan terakhir kali ia merasa tidak sendirian?

Sampean akhir minggu ndak pulang, Mbak Jane?”

Pertanyaan Rumi sore itu, menjadi pertanyaan yang cukup horor bagi Jane. Bagaimana tidak? Di ruang yang hanya tersisa Jane dan Rumi, tiba-tiba ia bertanya di tengah keheningan dengan senyum yang sejak asar belum luntur dari bibirnya. Seharusnya Jane bisa menebak apa yang akan dikatakan Rumi, dan seharusnya pertanyaan itu bisa Jane jawab seperti biasanya. Singkat, untuk mengakhiri pembicaraan. Namun, Jane malah membalikkan pertanyaan Rumi meski ia masih berkutat dengan pekerjaannya. 

“Akhirnya aku bisa pulang, mbak. Udah kangen sama masakan ibu. Padahal baru tiga bulan aku ndak pulang. Mbak Jane emangnya nggak kangen rumah, mbak? Mau nunggu tahun baru sekalian?”

Pertanyaan Rumi hanya dijawab senyum tipis oleh Jane.

“Ibu ndak pernah tanya mbak, kapan aku pulang, yang ditanyain cuma gimana kerjaan aku, kadang aku males buat jawab pertanyaan ibu. Ngebosenin, ngeselin. Tapi, kemarin beliau tanya, ada tanggal merah pulang ndak, padahal aku udah kepikiran buat pulang, hahaha”, tawa Rumi memenuhi ruangan.

Ia mendengarkan celotehan Rumi tentang keluarganya yang membuat fokusnya terbagi. Biasanya ia akan menegur Rumi, tapi kali ini ia membiarkan Rumi dengan ceritanya.

Hingga jam menunjukkan pukul 10 malam, pertanyaan itu masih hinggap di kepala seorang Janeta. Apakah ia tidak merindukan rumah? Apakah ia akan menunggu tahun baru yang masih beberapa bulan lagi untuk pulang? Bulan lalu ibunya juga bertanya, apakah bulan ini ia akan pulang atau tidak. Ah, mungkin efek dari kehujanan petang tadi. Mungkin juga efek dari sakit kepala yang ia rasakan kini. Tidak, tidak, itu hanya sebuah penolakan atas perasaannya saat ini. Pertanyaan Rumi berhasil mengetuk ruang kecil di hati Jane. Ruang yang tidak pernah siapapun ia izinkan untuk mengetuknya, bahkan dirinya sendiri. Pertanyaan yang tidak ia prediksi keluar dari mulut seorang Elrumi, cerita bagaimana Rumi ingin pulang kampung karena Senin tanggal merah, bagaimana semangatnya ketika Rumi bercerita tentang tiket yang telah ia beli.

Lampu kamar kosnya telah padam, sunyi, baginya malam ini jauh lebih sepi dari biasanya. Mungkin orang-orang telah selesai dengan aktivitasnya dan kembali memberi ruang untuk diri sendiri. Dua puluh menit Jane menatap ponselnya. Layar kontaknya menjelaskan siapa yang ingin ia hubungi. Ibu. Terakhir ia mendengar suara ibunya mungkin satu bulan lalu, ketika Jane menelepon hanya untuk menyelesaikan kewajibannya untuk memberi kabar. 

Jane mencoba menelepon setelah perdebatan yang ia alami. Ia berharap mungkin ibunya sudah tidur. Setidaknya dengan itu, besok ia bisa memberikan alasan lain agar tidak perlu berbincang. Namun jelas, harapannya hanya sekedar harapan. Di dering ketiga, panggilan itu terjawab.

“Halo”

Untuk beberapa detik Jane tidak mampu menjawab. Satu kata dari orang di seberang sana mampu membuat hati Jane bergemuruh. Mati-matian Jane berusaha agar suara yang akan ia keluarkan tidak terdengar bergetar. Pandangannya buram. Ia bahkan bernafas dengan mulutnya.

“Halo, bu. Belum tidur?”

“Belum mbak, ini masih nonton sinetron. Gimana mbak, sehat toh?”

Kepala Jane mendongak, ia menatap langit-langit kamar kosnya. Jane mengelus dadanya agar tangisnya tidak pecah sekarang.

“Sehat, ibu sehat?”, kata Jane.

“Sehat mbak, baru pulang kerja toh? Sudah makan tadi, mbak?”

“Udah, baru nyampe kos jam tujuh”.

Iya, selalu ibu yang bertanya dan Jane hanya menjawab. Tapi kali ini sebelum ibunya kembali bertanya, Jane terlebih dahulu berkata, “Bu, jumat habis isya aku pulang”. Satu kalimat yang bisa membuat sang ibu terdengar antusias berkali-kali lipat. Satu kalimat yang memberikan rentetan pertanyaan melebihi pertanyaan yang ibu tanyakan saat lebaran atau tahun baru. Bahkan, Jane juga mendengar antusias bapak yang ingin menjemputnya meski hampir tengah malam saat ia tiba nanti.

Malam itu, yang Jane pikirkan hanya pulang. Pulang ke rumah dimana ada keluarganya. Pulang di mana dulu ia tinggal di sana begitu lama. Jane hanya ingin pulang ke rumahnya. Rumah yang tidak lagi sama. Rumah yang tak akan memberikan jaminan apapun untuk Janeta. Pulang hanya karena ingin pulang. Meski mungkin ia hanya mendengarkan keributan bapak dan ibunya, atau ia akan saling diam dengan saudaranya, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tetangganya yang akan membuat ia muak. Ia ingin makan masakan ibunya, seperti yang Rumi katakan. Ia tidak ingin berekspektasi apapun, Jane tidak akan membiarkan dirinya kecewa. 

Untuk pertama kalinya Jane menangis tanpa suara hingga tubuhnya bergetar. Nafasnya tak beraturan, matanya begitu berat. Tidak ada alasan lain. Kali ini, kepulangannya bukan karena kewajiban. Ia pulang karena ia ingin pulang ke rumah yang tidak bisa memberikan Jane jaminan bahwa ia akan selalu bahagia saat di sana. Harusnya Jane sadar rumahnya telah berubah, orangtuanya tidak lagi seperti dulu. Waktu yang telah berlalu merubah orang tuanya, merubah dia. Ia tidak pernah dipaksa, tidak pernah diatur, orang tuanya selalu perhatian dengan menanyakan kesehatan dan apakah ia sudah makan atau belum. Harusnya Jane juga sadar sejak awal kalau warna setiap rumah berbeda, bentuk setiap rumah berbeda, ia tidak harus merasa bahwa ia yang paling tersiksa, ia tidak harus membuat dirinya merasa sendiri. Bukannya lari, ia harusnya merawat rumahnya, bukan hanya sekadar iri dengan rumah yang dimiliki orang lain. Kali ini Jane berjanji pada dirinya, ia akan pulang sesering mungkin saat ia bisa dan mampu. Meski sesakit dan sesesak itu, rumah adalah tempat pulang terbaik dari rutinitasnya di luar. Ia masih punya tempat untuk kembali. Malam itu, Jane menumpahkan segala lelah dan sakitnya setelah sambungan telepon berakhir. Ternyata untuk menyadari semua itu, bisa dari hal kecil yang tidak pernah ia sangka.

Penulis : Putri Endriana

Editor : Dimas Septo Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *