Tuhan memindahkan mataku
ke dalam tubuhmu
hati berdialog dengan dirinya sendiri menakar pikiranmu yang telah
menjadi kopi susu,
Kau tak melihat, intuisi terbangun dari kuburan dari kematian masa lalu.
“Meski kau dan aku telah duduk di satu meja, antara kopi susu yang kupesan dan teh hangat yang barangkali membuatmu lebih berkesan, tuhan telah menempatkan kita di antara perjamuan malam”
kumasuki De’ Layana dari waktu ke waktu yang bergulir, menganulir masa lalu dengan sirr, di antara orang melebur diri mereka dengan kopi susu, kau adalah segelas yang mereplika dalam Kekayonku
telah tergambar bayangan-bayang ilu-ilu banaspati dan sorga dalam samudera berlayar perlahan menuju kalpataru cinta.
Penulis : Abdul Rahman Oka Fahrudzin
Editor : Balqis Primasari
