Sumber Gambar: M, Mahasiswa Papua Barat
Sejumlah mahasiswa asal Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) mendapat intimidasi dan teror dari orang tak dikenal, baik sebelum maupun setelah menggelar aksi unjuk rasa menolak represifitas militer dan investasi di tanah Papua. Aksi tersebut berlangsung pada Jumat, 20 Juni 2025 di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Salah satu mahasiswa dengan inisial M, mahasiswa asal Papua Barat yang kini menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, menuturkan bahwa bentuk teror yang mereka alami meliputi ancaman pembunuhan melalui pesan WhatsApp, pengiriman dua ekor biawak hidup, serta pemasangan baliho bernada rasial di tempat tinggal mereka.
Sehari sebelum AMP dan IPMAPA menggelar aksi, delapan mahasiswa Papua dan seorang relawan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendapat ancaman pembunuhan dan tekanan untuk membatalkan aksi. M mengatakan bahwa ancaman dikirim melalui pesan WhatsApp dari dua nomor tak dikenal. Pesan itu berbunyi, “Kami ada di sampingmu, kami akan membunuhmu. Batalkan aksi unjuk rasa. Jika tetap dilangsungkan, kami akan membunuhmu.” Ia juga menambahkan bahwa intimidasi tidak hanya dialami oleh anggota AMP dan IPMAPA, tetapi juga oleh mahasiswa Papua lain yang tidak terlibat langsung. Teror tersebut, menurutnya, bertujuan untuk melemahkan kondisi psikologis mahasiswa Papua dan memecah solidaritas di antara mereka.
Tiga hari setelah menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, yakni pada 23 Juni 2025, asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, mendapat kiriman dua ekor biawak hidup dari orang tak dikenal. Kedua biawak itu dibungkus dalam karung beras berukuran 50 kilogram dan diserahkan oleh pemilik rumah di sebelah kiri asrama kepada mahasiswa Papua yang saat itu berada di lokasi. “Kami bertanya kepada tetangga kami tersebut, dan ia mengatakan bahwa dirinya diminta oleh dua orang tak dikenal untuk menyerahkan kiriman biawak itu kepada penghuni asrama,” jelas M, mahasiswa asal Papua Barat.
Baliho bermuatan narasi rasial ditemukan di sejumlah tempat tinggal mahasiswa Papua di Surabaya pada rentang 21–22 Juni 2025. Spanduk tersebut terpasang di kontrakan mahasiswa asal Yahukimo, kontrakan di kawasan Keputih, serta asrama mahasiswa Papua di Rungkut. Selain itu, baliho serupa juga terlihat sekitar 50 meter dari Asrama Papua di Jalan Kalasan, serta di depan kampus Poltekkes Surabaya. “Baliho yang dipasang itu narasinya seragam, yakni: Masyarakat Surabaya harus tahu, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) adalah kelompok separatis jaringan Organisasi Papua Merdeka (OPM),” ucap M.
Merespons aksi teror dan intimidasi yang dilakukan oleh orang tak dikenal, perwakilan AMP mendatangi kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Surabaya untuk menggelar konferensi pers bersama sejumlah media. Selain menyampaikan sikap di hadapan publik, AMP juga berencana menempuh jalur hukum dengan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian dan Pemerintah Kota Surabaya. Intimidasi terhadap mahasiswa Papua bukan kali pertama terjadi. Aparat kepolisian disebut kerap bertindak represif saat aksi unjuk rasa, terutama ketika AMP menggelar demonstrasi memperingati Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dan Hari Anti Rasisme. “Kami didorong-dorong dan dihalang-halangi oleh polisi saat unjuk rasa,” jelas M.
Hingga berita ini diterbitkan, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) belum melaporkan insiden tersebut kepada pihak kepolisian maupun Pemerintah Kota Surabaya. Menurut keterangan M, AMP saat ini masih berfokus pada penguatan agenda internal organisasi. Langkah hukum akan dipertimbangkan setelah konsolidasi internal selesai dilakukan.
Nama penulis: Fal
Editor: M. Nafis Wirasaputra