Sumber Gambar: Pinterest
Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia. Dalam presentasinya, profesor riset dari Pusat Riset Metalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Efendi menyampaikan materi dengan judul “Pengenalan First Use dan End Use: Nikel dan Potensi Hilirasinya di Indonesia” yang menjelaskan tentang limpahan cadangan biji nikel perlu dimaksimalkan dengan mengembangkan produk nikel hilir untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Komoditi ini yang selalu dijanjikan oleh Presiden dan Luhut kepada para investor di luar negeri.
Nikel identik dengan energi hijau sebagai pengganti energi fosil dan memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia di masa depan seiring dengan berkembangnya industri mobil listrik.
Melihat kilas balik pada pertemuan Luhut dan Elon Musk di Amerika, jelas hal yang menjadi pembicaraan adalah nikel. Begitu juga ketika Presiden Jokowi bertemu dengan pemilik Tesla ini, topik utamanya pun adalah nikel. Bagaimana tidak, komoditas tambang ini dalam beberapa dekade terakhir menjadi perbincangan dan mengalami kenaikan tren dari tahun 2015 hingga 2020.
Berdasarkan hasil survei pada tahun 2017, hampir 70% penggunaan dari komoditas ini adalah untuk baja tahan karat. Namun, diprediksi pada tahun 2030, 37% nikel akan digunakan sebagai bahan baku baterai mobil dan motor listrik. Hal inilah yang melatarbelakangi pembahasan Jokowi dan Luhut dalam pertemuannya dengan Elon Musk sebagai pemilik perusahaan mobil listrik ternama di dunia, Tesla.
Berdasarkan data USGS tahun 2021, tercatat sebanyak 23% persen nikel dunia berasal dari Indonesia. Pada 2019, Indonesia berada di posisi kedua setelah China sebagai produsen nikel terbanyak dengan total produksi mencapai 487 ribu ton per tahun. Jika nikel tidak di ekspor ke China, maka Indonesia akan menjadi produsen nikel terbesar di dunia. Jumlah smelter nikel milik Indonesia yang lebih sedikit dari China menjadi faktor kekalahan mereka dalam memproduksi nikel. Atas dasar inilah, Jokowi sangat mendorong program hilirisasi melalui PERMEN ESDM Nomor 11 Tahun 2019, di mana aturan larangan ekspor biji nikel diberlakukan. Ekspor akan dilakukan ketika biji nikel sudah diproses menjadi logam di smelter khusus milik perusahaan besar.
Kebijakan tersebut secara spontan akan membuat Indonesia menjadi rentan. Pada tahun 2022, China mengendalikan 21 dari 23 smelter di Indonesia. Kebijakan tersebut secara tidak langsung membuat ekspor nikel di Indonesia dikendalikan penuh oleh China. Hal tersebut terbukti pada tahun 2016 hingga 2021, tren penjualan mobil listrik di dunia mengalami kenaikan yang signifikan. Perusahaan China banyak yang membangun pabrik smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), salah satunya di Indonesia yaitu pabrik nikel milik Harita Group di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Permasalahannya adalah ekspansi perusahaan China yang berinvestasi tambang di banyak benua pasti akan diiringi oleh masalah, salah satunya isu pencemaran lingkungan. Inilah realita yang sekarang terjadi di Pulau Obi, namun jarang terekspos ke media sosial.
Entah mengapa, sejak Mei 2019, pabrik nikel Harita diberikan perlakuan spesial oleh negara dengan menjadikannya objek vital nasional oleh Kementerian ESDM. Hal ini kemudian berdampak pada pengamanan TNI/Polri yang semakin ketat, bukan untuk kesejahteraan masyarakat di sekitar area pabrik nikel, melainkan untuk keamanan pabrik dari jamahan pengunjung asing. Hal tersebut menjadikan kawasan pabrik nikel Harita amat eksklusif.
Salah satu desa yang paling terdampak di area pabrik adalah Desa Kawasi. Bahkan saking eksklusifnya, penjagaan ketat di kawasan pabrik terlihat membuntuti jurnalis yang ingin meliput kegiatan pabrik serta mengintimidasi narasumber lokal.
Isu lingkungan yang terjadi adalah pencemaran laut. Ketika hujan, air laut menjadi berwarna coklat kemerah-merahan. Studi mengatakan, hal tersebut diakibatkan oleh limpahan ore nikel ke laut. Dampaknya, biodiversitas laut menjadi rusak tidak karuan. Hasil dari sampel yang diambil di sungai Todoku menunjukkan angka kandungan nikel mencapai 9,43 mg/liter. Angka tersebut jelas sudah melebihi batas kadar pencemaran yang seharusnya hanya 0,5 mg/liter.
Studi lain yang menggunakan foto satelit di sekitar kawasan pabrik menunjukkan bahwa banyak hilir pencemaran laut di Pulau Obi. Limbah pabrik dibuang melalui pipa buangan besar di berbagai titik yang disembunyikan di dasar laut; semuanya berasal dari sungai Todoku, sungai Akelamo, dan sungai-sungai kecil lainnya.
Namun, ketika ditanya mengenai pipa-pipa pembuangan tersebut, Harita Group mengaku tidak paham dengan hasil temuan yang dimaksud, mereka berasumsi bahwa pipa temuan tersebut adalah water intake yang mengambil air dari laut, bukan pipa limbah buangan.
Keanehan lain muncul ketika pabrik Harita mendapat perlakuan spesial dengan diberikan izin membuang limbah tailing ke laut dalam. Hal tersebut jelas mendapat penolakan keras dari warga, aktivis, serta organisasi advokasi lingkungan. Wacana tersebut akhirnya mengambang sehingga pembuangan tailing secara legal belum dilaksanakan. Tidak berhenti di sana, pihak Harita kemudian mengajukan izin pelepasan kawasan hutan yang nantinya diperuntukkan untuk dibangun bendungan limbah tailing. Hal yang janggal muncul ketika izin ini baru diproses pada akhir 2021, di mana operasional perusahaan telah berjalan lebih dari tiga tahun. Pertanyaannya, ke manakah limbah tailing bermuara selama tiga tahun terakhir ini? Bagaimana limbah dibuang sebelum izin pembuangan keluar?
Kerusakan ekosistem laut pada perairan Obi akibat perusahaan tersebut sudah tidak bisa dibilang ringan. Temuan riset yang dilakukan Universitas Khairun Ternate yang meneliti sampel ikan di lautan Obi menunjukkan sel-sel yang rusak pada jaringan ikan. Terjadi nekrosis pada insang, usus, dan otot. Salah satu sampel ikan bahkan mengindikasikan keracunan. Pada akhirnya, penelitian tersebut menyimpulkan adanya polusi logam berat di perairan Obi yang terakumulasi dalam fisiologis dan histologis ikan yang mulai rusak. Efek buruknya yaitu ketika ikan tersebut dimakan oleh manusia, maka akan terjadi biomagnifikasi. Bukannya menyehatkan, justru malah membuat kerusakan pada otak manusia.
Bagian paling mengejutkan adalah terkait Harita Group yang telah menandatangani MOU jangka panjang dengan GEM dan CATL. Sebuah perusahaan baterai listrik dari China yang menguasai 30% pasar baterai global. Dengan kata lain, nikel yang diperoleh di kawasan Kawasi akan dipakai untuk mobil listrik merek-merek ternama. Di masa yang akan datang, saat kota-kota di China dan Eropa semakin hijau dan asri, maka yang terjadi di Pulau Obi adalah sebaliknya.
Penulis: ND-09
Editor: PK-06