Sumber Gambar: Unsplash

“Keadilan sosial bagi orang-orang yang good-looking” 

Tuturan tersebut dinilai sangat relateable dalam merepresentasikan getirnya kehidupan sejumlah orang yang tidak mengantongi beauty privilege. Pemakaian istilah good-looking pun menjadi hal yang cukup sensitif. Sebab, lambat laun persoalan ini merembet ke isu interseksional. Bagaimana tidak? Beauty privilege kian hari kian menduduki hierarki tertinggi di pergaulan sosial, bahkan digadang-gadang sebagai simbol kesuksesan. Akibatnya, orang-orang yang tergolong ‘biasa-biasa saja’ harus mengalami sederet ketidakadilan dari lingkungan sekitarnya. Padahal, aspek fisik itu berada di luar jangkauan dan kemampuan mereka. Lookism, lebih tepatnya. Istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang memperlakukan orang lain secara diskriminatif hanya karena penampilan luarnya.

Beauty Privilege mengacu pada hak istimewa milik seseorang yang berparas menarik. Seseorang yang berhasil menyandang titel ‘si rupawan’ itulah yang acapkali memperoleh keuntungan dan perlakuan lebih spesial. Dari sini, terdapat pula korelasi antara beauty privilege dan beauty standard sebagai tolak ukur kecantikan yang ideal di kalangan masyarakat. Di Indonesia, kata ‘cantik’ seolah-olah pantas diberikan kepada mereka yang berkulit putih, berhidung mancung, dan bertubuh ramping saja. Standar tidak masuk akal ini telah hidup berdampingan dengan masyarakat, tumbuh mengakar dan dijadikan semacam atribut utama ketika hendak menilai seseorang. Betapa mirisnya nasib orang-orang yang tidak memiliki kriteria kecantikan tersebut. Mereka berulang kali dicekik oleh pahitnya realita, mulai dari kesulitan dalam memperoleh pekerjaan, perlakuan yang memojokkan, sampai ucapan-ucapan yang menyakitkan hanya karena tidak memenuhi prasyarat menjadi good-looking

Eksistensi beauty privilege memang lebih jelas terlihat apalagi jika berbicara tentang mendapatkan pekerjaan. Banyak profesi-profesi tertentu yang memprioritaskan fisik dan penampilan seseorang dalam proses rekrutmennya, terutama di lingkup dunia hiburan. Tidak heran apabila televisi dan media sosial akan selalu dipenuhi oleh orang-orang yang dianggap rupawan itu. Belum lagi dengan hadirnya para influencer yang memenuhi standar menarik, kini menguasai sebagian besar platform-platform terkenal. Inilah yang membuat masyarakat menjadi terbiasa dengan adanya standar kecantikan—yang sayangnya, akan terus dinormalisasi. 

Beberapa hari lalu, publik sempat dihebohkan oleh Livy Renata setelah ia berhasil membelikan mobil untuk ibunya. Mobil itu diduga terbeli berkat bantuan dana dari para penggemarnya lewat aplikasi Trakteer. Jika ditelisik lebih lanjut, hal yang menjadi sorotan utama bagi netizen adalah betapa mulusnya kehidupan Livy yang mampu meraup untung dengan hanya bermodalkan selfie eksklusif miliknya. “Beauty privilege is real,” komentar para netizen. Di samping kasus Livy tadi, tentunya masih banyak kasus-kasus lain yang berkaitan dengan maraknya standar ganda yang bersemayam di pergaulan sosial per hari ini. 

Era modernisasi justru membuat orang-orang semakin okular-sentris. Contohnya saja seperti beauty privilege yang kerap dijadikan sebagai alat untuk memaklumi perilaku buruk orang lain. Hanya karena orang tersebut bertampang menarik, pembelaan yang ditujukan kepadanya dianggap sah-sah saja. Padahal, tuntutan untuk menyudahi beauty privilege ini sudah seringkali diserukan. Namun, tetap sulit menyadarkan masyarakat dari pemikiran yang kuno dan menyesatkan tadi. Mereka enggan membuka mata, seakan-akan dibutakan dengan aspek kecantikan saja. Tidak mengherankan bila kondisi ini memicu kemungkinan bagi sejumlah orang untuk terobsesi untuk memenuhi standar kecantikan, sehingga mereka rela menghamburkan harta kekayaannya demi ‘memperindah’ fisik—tidak peduli jika hal tersebut bisa saja menyakitkan mereka. Beauty is pain, begitulah jawabannya. Mereka percaya bahwa setengah dari masalah hidup akan terselesaikan jika mereka adalah orang yang berparas rupawan.

Bukan tidak mungkin apabila persepsi tentang keharusan berparas cantik telah ditanamkan sejak dini. Anak kecil pun mampu dengan cepat menyerap doktrin beauty standard yang mereka pelajari dari orang dewasa di sekitarnya. Hal ini yang membuat mereka tumbuh dengan bayang-bayang untuk selalu mengedepankan fisik orang lain.

Beberapa orang berpendapat jika beauty privilege bisa saja memberikan dampak positif, seperti keinginan untuk merawat diri dan memperbaiki penampilan. Akan tetapi, jelaslah efek buruknya lebih banyak dan dominan. Beauty privilege berpeluang mengganggu sisi psikologis orang lain karena ia kerap dianggap tidak spesial. Ia akan selalu merasa tersingkirkan dari pergaulan, sehingga turut menurunkan rasa kepercayaan dirinya.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa fisik adalah salah satu hal yang menjadi perhatian pertama kita saat bertemu dengan orang lain. Namun, janganlah hal itu dengan mudah melahirkan subjektivitas dalam diri kita. Alih-alih hanya terpaku pada penampilan, faktor penting lain juga sudah sepantasnya untuk dipertimbangkan, terutama soal perilaku, kinerja, dan performa. Maka, mengeliminasi beauty standard dan beauty privilege merupakan suatu keharusan untuk memanifestasikan paradigma berpikir yang lebih adil dan progresif. Lagi pula, bukankah semua orang menarik dengan cara dan keunikannya masing-masing?

Penulis: AD-14

Editor: PS-13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *