Sumber Gambar: berita.99.co

Bicara tentang prinsip “etika”, konsep ini berperan penting dalam mempengaruhi dunia politik jika konteksnya merujuk pada prinsip moral yang mengatur perilaku manusia terhadap satu sama lain. Sementara itu, “politik” mengacu pada proses pembentukan kebijakan dan pengambilan keputusan yang mempengaruhi masyarakat. Kedua konsep ini seringkali saling bertentangan, namun juga memiliki keterkaitan satu sama lain.

Tidak sedikit masyarakat yang berspekulasi bahwa politik adalah hal kotor yang tidak berjalan lurus dengan prinsip-prinsip etika yang ada. Namun, bukan berarti bahwa prinsip-prinsip etika harus dikorbankan demi mencapai tujuan politik. Justru etika harus ditempatkan di garis depan dalam segala aktivitas politik yaitu mencakup sikap jujur, transparan, bertanggung jawab dalam berkomunikasi dengan publik, serta mampu menerima perbedaan pendapat tanpa harus terprovokasi.

Berpolitik dengan etika berarti menghindari kampanye yang mengandalkan serangan pribadi atau penyebaran informasi palsu tentang lawan politik. Sebaliknya, berfokus pada kampanye yang mengunggulkan penyampaian visi, gagasan, serta rencana kebijakan yang jelas kepada pemilih.

Sangat disayangkan, pada era Pemilihan Umum Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Indonesia tahun 2024, media sosial dipenuhi dengan kalimat pendukung masing-masing pasangan calon yang cenderung berfokus pada hujatan fisik dan kehidupan pribadi lawan yang tidak ada kaitannya dengan politik.

Sebagai contoh, temuan di media sosial X berupa hujatan kepada paslon 01 yaitu, “Pak Anies, Simple saja, ANDA PASTI KALAH 2024…. dah itu aja en*g liat mukanya… jel*k banget.

Lalu, terdapat temuan di platform Youtube berupa hujatan kepada paslon 02 yaitu, “Kalau mengurus rumah tangga saja gagal, bagaimana mengurus bangsa yang besar ini.”

Terdapat pula ujaran kebencian kepada paslon 03 di media sosial X yaitu, “Moh gobl*k, masih percaya Ganjar yg nontonnya bok*p.

Tidak sedikit warganet yang saling merendahkan satu sama lain hanya karena tidak sejalan dengan pilihan yang didukung. Pesta demokrasi yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengkampanyekan program unggulan dari masing-masing paslon malah beralih menjadi ladang black campaign secara halus.

Pemilih bersorak-sorai soal etika dan demokrasi tanpa menerapkan bagaimana caranya untuk dapat beretika dengan baik ketika mendukung salah satu paslon. Lantas, apakah hal ini akan dilestarikan menjadi budaya 5 tahun sekali yang dapat memecah belah masyarakat Indonesia itu sendiri? Tentu tidak.

Pertama, etika masyarakat dalam berpolitik seharusnya termasuk menghormati perbedaan pendapat dan menghindari konflik yang dapat memecah belah masyarakat itu sendiri. Dalam suasana politik yang penuh gejolak, penting bagi masyarakat untuk tetap tenang dan berdialog dengan sopan. Perdebatan yang sehat dan berbobot akan membantu masyarakat memahami sudut pandang yang beragam dan membuat keputusan yang lebih baik saat memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Lalu, penting bagi masyarakat untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. Memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden bukanlah tentang memenuhi kepentingan individu atau kelompok tertentu, tetapi tentang memilih pemimpin yang mampu berkontribusi dengan baik dalam melayani kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

Selanjutnya, etika masyarakat dalam berpolitik juga mencakup tanggung jawab dalam menggunakan hak suara. Masyarakat harus memahami betapa berharganya hak suara mereka dan menggunakan hak tersebut dengan sungguh-sungguh. Hal ini berarti tidak hanya memilih berdasarkan popularitas atau janji-janji manis, tetapi juga mempertimbangkan kualifikasi, integritas, dan kapabilitas dari setiap pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Tantangan utama dalam menjaga etika masyarakat dalam mendukung salah satu pasangan presiden baru adalah adanya tekanan dari berbagai pihak yang berkepentingan. Propaganda politik, black campaign, dan upaya manipulasi dapat mempengaruhi persepsi masyarakat dan mengaburkan pandangan objektif tentang setiap pasangan calon. Namun, sebagai warga negara yang bertanggung jawab, masyarakat harus mampu mengevaluasi informasi dengan kritis dan memilih berdasarkan penilaian yang objektif.

Kesimpulannya, pentingnya etika masyarakat dalam mendukung salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di Indonesia tidak boleh diabaikan. Etika masyarakat harus mencakup perilaku yang jujur, adil, bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan bersama. Dengan mempertahankan prinsip etika ini, masyarakat dapat memastikan bahwa pemilihan presiden berlangsung dengan baik dan menghasilkan pemimpin yang mampu memimpin bangsa ini menuju masa depan yang lebih cerah.

Penulis: AM-14

Editor: P1D08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *