Sumber Gambar: iNews

Teknologi Artificial Intelligence atau yang dikenal dengan AI sudah bisa melakukan hal-hal yang tidak terduga. Pernahkah kita berpikir jika tulisan ini dibuat oleh AI? Lukisan-lukisan terkenal bisa diduplikasi oleh AI, bahkan diperkirakan pekerjaan di masa depan akan diambil alih oleh AI. Maka, pertanyaan yang mungkin muncul adalah apakah AI berbahaya untuk umat manusia? Apakah AI sebuah ancaman atau peluang?

Pada bulan September 2013, Benedikt Frey dan Michael A. Osborne, dua peneliti dari Oxford menerbitkan “The Future of Employment”, sebuah survei yang mengatakan bahwa dalam 20 tahun ke depan teknologi AI sangat memungkinkan untuk menggantikan pekerjaan manusia. Penelitian tersebut juga didukung oleh fakta bahwa sejak kemunculan Chat GPT pada bulan Februari 2023 telah terjadi layoff besar-besaran oleh banyak perusahaan. Sebagai contoh Mega-cap technology, Google, dan Microsoft layoff 10.000 hingga 12.000 pekerjanya. Tentunya pekerjaan-pekerjaan seperti penjaga keamanan, pelayan, dan supir akan sangat mudah terdisrupsi oleh AI.

Eksistensi Chat GPT sangatlah masif sehingga dianggap mengancam oleh banyak pihak terutama sektor industri dan startup. Bahkan menariknya, produk besutan OpenAI ini digadang-gadang akan lebih banyak mendisrupsi pekerja kerah putih, pekerja lulusan sarjana, S2, maupun S3. Maka, pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan muncul adalah apakah manusia di masa depan menjadi tidak berguna? Apakah kehidupan manusia di masa depan menjadi tidak bermakna? Masih perlukan manusia untuk belajar?

Itulah masa depan yang diprediksi oleh Dosen Sejarah di Universitas Ibrani Yerusalem, sekaligus penulis buku Sapiens, Yuval Noah Harari. Ia juga mengatakan bahwa di masa depan akan ada kelas manusia yang tidak mempunyai fungsi apa-apa, masyarakat pengangguran, manusia akan menjadi Useless Class. Orang-orang yang termasuk Useless Class adalah mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi, masih memiliki pemikiran primitif. Bahkan, Yuval mengungkapkan bahwa seorang dengan kemampuan critical thinking yang biasa saja dapat termasuk dalam golongan Useless Class. Dengan kata lain, hanya soal waktu teknologi AI akan merebut pekerjaan manusia dan membuat manusia menjadi pengangguran.

Namun, teknologi AI hanyalah sebuah algoritma komputer, sebuah alat yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Bagaimana bisa AI menggantikan pekerjaan manusia padahal manusia adalah teknisinya? Bagaimana AI bisa semakin pintar dan mendorong keluar manusia dari dunia industri? Jawabannya adalah ada pada teknisi itu sendiri, manusia. Manusia yang menggunakan AI, lima hingga sepuluh tahun ke depan akan mampu mengeksploitasi diri sendiri dengan lebih baik, juga akan mengalahkan orang-orang yang tidak bisa beradaptasi dengan AI dengan mudah. Fakta ini diperkuat dengan melihat bahwa masifnya perkembangan AI membuat orang-orang hebat mulai memperingatkan bahaya dari AI.

Dengan memanfaatkan kemampuan kognitif dan fisik yang dimiliki, manusia dimungkinkan dapat survive dari era disrupsi AI. Kita perlu menanggapi dengan serius jika AI adalah teknologi di antara penemuan luar biasa atau bom waktu bagi manusia. Pahami jika AI tidak memiliki kesadaran yang lebih dari manusia. Setidaknya itulah kelebihan manusia daripada AI. Jadikan AI sebagai bagian penting dari kehidupan kita, sebab tidak ada jaminan keterampilan yang kita pelajari di perguruan tinggi ketika berusia 20 tahun tetap akan relevan di usia 40 tahun nanti. 

AI bisa mempersonalisasi pembelajaran, tetapi masih membutuhkan sentuhan emosi manusia. AI mungkin menggantikan guru, tetapi belum bisa menggantikan kasih sayangnya. Pelajari lebih mendalam sehingga kita akan berada pada titik untuk menyimpulkan bahwa teknologi AI dan self-development adalah kombinasi yang sangat luar biasa. Ini adalah peluang besar untuk berkembang dengan biaya minim.

Memanfaatkan internet dan gadget bukan hanya untuk sekadar sosial media, tetapi juga untuk belajar dan berkarya. Jangan hanya konsumtif, tetapi juga produktif. Menurut Harari, “Anak-anak yang hidup hari ini akan menghadapi konsekuensinya. Sebagian besar dari apa yang dipelajari orang di sekolah atau di perguruan tinggi mungkin tidak relevan pada saat mereka berusia 40 atau 50 tahun. Jika mereka ingin terus memiliki pekerjaan, dan untuk memahami dunia, dan relevan dengan apa yang terjadi, orang harus menemukan kembali diri mereka lagi dan lagi, dan lebih cepat dan lebih cepat.”

Penulis: ND-09

Editor: WI-07

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *