Sumber gambar: Nazila Rahmaniah

Kamis, (24/11) BEM UNAIR telah bekerjasama dengan media Kompas TV dengan melangsungkan bincang gagasan calon presiden dan wakil presiden bertempat di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus C, Universitas Airlangga. Acara yang bertemakan “Pemimpin Bicara Bangsa” ini dihadiri oleh capres dan cawapres paslon nomor 1 dan 3. Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk mengedukasi civitas akademik Universitas Airlangga tentang visi dan misi para paslon, selain itu acara ini bertujuan agar para mahasiswa sadar akan pentingnya berpartisipasi dalam pemilu tahun depan. 

Meskipun acara ini disambut baik yang dibuktikan oleh antusiasme para peserta, namun masih banyak peserta yang mengeluhkan hal-hal terkait penyelenggaraan acara ini. Keluhan pertama datang dari peserta yang bertanya-tanya soal kapan datangnya paslon nomor satu. Mengingat mereka sudah menunggu sejak pagi dan tidak ada informasi dari pihak panitia soal waktu kedatangan paslon. Akhirnya paslon nomor 1 baru datang sekitar pukul 14.30 sore yang memaparkan isi gagasan mereka hingga pukul 16.00. 

“Jadi secara aku pribadi, aku tidak mendapatkan informasi mengenai keterlambatan para Paslon dari panitia apapun, nunggu lama banget, (aku juga bertanya-tanya sampai) berapa lama lagi nunggu para Paslon” Ungkap salah seorang peserta. 

Masalah juga terjadi pada antrean registrasi yang membludak, disebabkan oleh kurangnya jumlah panitia yang menjaga bagian registrasi sehingga kurang efektif untuk membantu proses masuk peserta ke dalam venue acara. 

“Aku sampe kampus tuh 8.28 baru sampe duduk di ruangan itu 09.42. Oh iya, temenku pun dia datang jam 8 pas, dan itu kita baru dapat tempat duduk di waktu yang sama. Jadi bisa diitung sendiri kan kita butuh waktu berapa lama untuk masuk di acara itu. Dan kamu tahu di jam yang tadi aku bilang tuh posisi antrian dah membeludak sampe bangunan yang apa yaa itu buat mahasiswa baru, ppmb apa ya? Itu dah lebih dari itu antreannya.”

Sampai di dalam venue acara tempat duduk peserta juga tidak kondusif. Banyak peserta yang akhirnya duduk tidak rapi dan mengganggu peserta lain. Tidak ada arahan lebih lanjut dari panitia mengakibatkan suara moderator dan pemaparan gagasan paslon tidak terdengar sampai belakang. Selain itu, peserta juga mengatakan bahwa sound yang tidak terdengar mengakibatkan suasana semakin riuh. 

“Emang microphone nya kurang keras, kurang kedengaranlah. Terus panitianya tidak ngarahin mahasiswa, jadi duduknya tidak rapi  ada yang tiduran (di tribun), akhirnya kita tidak fokus dan kurang memperhatikan pemaparan gagasan dari pak Ganjar (sesi 2).” ujar salah seorang peserta lain. 

Peserta juga mengungkapkan mereka tidak diperbolehkan keluar venue meskipun acara telah selesai. Akhirnya peserta terhenti di pintu keluar dan menumpuk di sana. 

“Terus ini juga kenapa peserta tidak boleh keluar padahal mahasiswa sudah ricuh (tidak kondusif) katanya acara belum selesai, kalau belum selesai ya harus tetap di dalam forum, sedangkan forum di dalam sudah selesai kenapa tidak boleh keluar. Padahal kami undangan delegasi.”

LPM Mercusuar sudah menghubungi pihak penyelenggara untuk diminta keterangan, Menteri Sosial Politik (Sospol) BEM Unair, Rifat Daulah Isma’i. Rifat selaku panitia memberi penjelasan mengenai keterlambatan paslon nomor 1 dan menjawab terkait keluhan para peserta. 

“Bagi kami, keterlambatan merupakan sesuatu yang kondisional. Kami coba memahami padatnya agenda dari paslon 01 yang memang itu diluar kehendak kami. Terkait pemberitahuan, saya kira agar peserta tidak pulang terlebih dahulu dan dapat mengikuti seluruh rangkaian acara GAGAS RI ini, toh juga rangkaian acara ini tidak hanya berputar pada sesi paslon, tapi terdapat sesi-sesi lain yang itu mengedukasi, menyenangkan dan menghibur.

“Untuk antrean registrasi sendiri yang membludak merupakan wujud antusias peserta pada acara ini. Antrean sudah mengular sejak beberapa jam sebelum acara dimulai.”

“Kami mencoba mengevaluasi terkait alur registrasi, yang kami sendiri akui cukup kurang efektif menghadapi antrean dari peserta yang sangat banyak. Kami memohon maaf kepada seluruh peserta terkait hal ini.” Tuturnya.

“Terkait penataan tempat, memang awalnya kami coba untuk memenuhi tribun atas karena faktor kuantitas tempat duduk yang lebih proper. Namun, kemudian terdapat arahan dari pihak KG Media untuk peserta memenuhi tempat duduk di lantai 1 guna siaran, agar tidak terlihat kosong. Akhirnya kami mengarahkan peserta untuk memenuhi tempat duduk lantai 1 hingga penuh, baru kemudian membuka pintu tribun atas kembali untuk dipenuhi.

Terkait ketertiban peserta, apalagi terkait posisi duduk, kami akui bahwa staf kami kewalahan. Sebabnya, banyak dari peserta yang berkomplot untuk masalah tempat duduk. Misal si a, b, c, dan d ini adalah sebuah circle pertemanan, maka mereka berempat tidak mau berpisah. Dan dalam kasus ini, banyak ditemui misal si a dan b duduk bawah sedangkan c dan d duduk di tribun atas karena registrasi duluan, maka si c dan d ini memaksa untuk turun ke bawah guna menghampiri temannya dan duduk bersama—begitu sebaliknya. Kami telah memperingatkan peserta untuk tertib dan duduk sesuai di tempat awalnya agar tidak merusak flow dan formasi, tapi banyak yang kemudian tetap memaksa.”

Atas anggapan peserta belum keluar saat acara yang dinilai sudah selesai, Rifat menjelaskan, 

“Terkait hal ini, kami mempertanyakan dimananya kami melarang peserta keluar ketika acara sudah benar-benar selesai? Kalau panitia tidak memperbolehkan peserta keluar, artinya acara belum selesai. Kami mengharapkan bahwa dengan mengikuti serangkaian penuh acara ini, peserta dapat memperoleh kesan yang insight full, hingga dapat meninjau juga visi dan misi dari para paslon baik di sesi 1 dan sesi 2. Sekali lagi, peserta secara etika ya wajibnya mengikuti dan menghormati seluruh rangkaian acara hingga benar-benar selesai, apalagi acara seperti ini jarang sekali diadakan (momen demokrasi 5 tahun sekali) dan sangat disayangkan apabila peserta tidak mendapatkan materi acara secara utuh.” Pungkasnya.

Penulis: Savina Rizky Hamida

Editor: Reno Eza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *