/Dugaan Masalah Perizinan Venue, Panitia AYIFEST Buka Suara
Sumber Foto : Istimewa

Dugaan Masalah Perizinan Venue, Panitia AYIFEST Buka Suara

Munculnya rumor yang beredar di media sosial terkait pembatalan konser musik AYIFEST 2022 semakin ramai diperbincangkan. Dugaan perizinan venue tidak jelas, kekurangan dana hingga masalah internal organisasi menjadi bahan pembicaraan yang belum menemukan titik terang. Sejak hari-h (15/10) pembatalan konser musik tersebut, tidak ada klarifikasi dari pihak penyelenggara yang menjawab banyaknya informasi yang berkeliaran. Melalui wawancara eksklusif dengan salah satu panitia AYIFEST, yang namanya kami samarkan yakni Mawar (20), dan salah satu volunteer yang juga namanya kami samarkan yakni Bunga (20), tim investigasi LPM Mercusuar berusaha mengumpulkan informasi atas rumor-rumor yang beredar.

Saat diwawancarai seputar tupoksi sebagai salah satu panitia dan volunteer, Mawar dan Bunga menerangkan jika mereka berada di divisi ticketing dengan tugas menjual tiket secara offline maupun online, ikut mempromosikan acara tersebut di media sosial Instagram, TikTok, Whatsapp, Twitter, dan mengajak orang-orang terdekat untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Iya bener, aku panitia di AYIFEST. Aku di divisi ticketing. Awalnya aku ikut AMERTA terus ketemu temen aku, dia anak BEM Ekraf. Ternyata dia punya program kerja AYIFEST ini, terus dia kayak ngajak aku buat join gitu. Nah, fyi aku bukan anak BEM kan, terus kayak yaudah coba-coba aja di ticketing. Aku juga penasaran gimana sih kerja di event konser besar, makanya aku tertarik buat ikut”, terang Mawar.

Bunga sebagai volunteer juga menjelaskan beberapa tiket yang ditawarkan oleh AYIFEST mulai dari Early Bird, Presale 1, Presale 2, Presale 3, OTS dengan berbagai promosi dan banting harga.

“Penjualan tiket cukup lancar, banyak yang beli karena banyak promosi yang dilakukan oleh panitia seperti karaoke di Amphiteater (kAYIoke) dan pasang baliho elektronik di jembatan dekat Tunjungan Plaza”, jelas Bunga.

Menanggapi pembatalan konser musik AYIFEST 2022, Mawar dan Bunga sama-sama merasa dikecewakan. Mawar menjelaskan saat h-2 acara, panitia masih mengadakan rapat untuk pembagian jobdesk hari-h dan merasa semua baik-baik saja. H-1 acara, Mawar datang ke venue, Exhibition Hall Grand City Surabaya untuk persiapan, dan baru mendapat informasi pembatalan saat itu juga.

“Yang lebih kecewanya itu karena aku tahunya juga sebagai panitia itu h-1 sebelum acara, which is yang h-2 nya tuh kita udah pembagian jobdesk segala macem, udah pembagian kayak kita hari-h mau ngapain, udah kayak besok kita bagi nih ya nametag nya terus idcard nya segala macem kek gitu-gitu, kek masih seneng-seneng gitu loh. Nah pas h-1 aku tahu gagal, ternyata ada masalah perizinan segala macem, terus regulasi Surabaya yang baru segala macem gara-gara Jatim Expo. Jadi, setahuku gara-gara Jatim Expo, ya. Aku kecewa banget sih, kayak aku ngerasa apa yang udah aku lakuin sama temen-temenku ticketing tuh gagal walaupun aku rasa ticketing belum sesuai target seratus persen, which is kita udah 80% lah. Aku juga tahu atasan-atasan juga udah berusaha semaksimal mungkin buat acara ini tetep jalan, tapi mungkin keputusan terbaiknya nggak diselenggarain ya yaudah kita terima aja”, terang Mawar.

Tidak jauh berbeda dengan Mawar, Bunga juga merasa dikecewakan atas pembatalan konser musik AYIFEST 2022. Bunga menjelaskan jika sering ditanya seputar AYIFEST yang ramai di kalangan masyarakat khususnya mahasiswa Unair.

“Sangat kecewa, marah, malu, karena saya sudah bekerja sesuai dengan jobdesk yang diberikan dengan baik dan benar, meluangkan waktu, tenaga, materi, sampai saya harus sering ditanyain tentang AYIFEST yang sebenarnya saya udah muak, tapi mau gimana lagi tanggung jawab. Mau gimana pun hak tersebut akan berdampak besar ke depannya. Contoh munculnya trust issue artis untuk hadir di acara Unair dan sponsorhip juga susah didapatkan karena mendengar berita tersebut berdampak kepada semua warga Unair”, jelasnya.

Bunga sebagai volunteer juga memberikan keterangan jika tiba-tiba terdapat pembatalan yang diinformasikan h-1 kepada panitia yang menurut Bunga seharusnya hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh BPH seperti masalah perizinan. Dirinya juga mengungkapkan ada beberapa hal yang beredar di media sosial tentang alasan pembatalan tersebut benar dan menyayangkan kurangnya transparansi antar panitia.

“Kurangnya transparansi panitia inti kepada panitia di bawahnya. Panitia inti tidak menganggap panitia di bawahnya untuk bisa mikir bareng-bareng tentang permasalahan yang terjadi, seharusnya bisa diarahkan atau dibicarakan apapun permasalahan yang terjadi di kepanitiaan tersebut karena tanggung jawab bersama. Akhirnya para panitia inti kelabakan sampai meminta sumbangan lagi kepada panitia di bawahnya pas h-1 acara. Jadi, pas kumpul di GC (Grand City), panitia ‘atas’ meminta sumbangan seikhlasnya kepada para panitia di bawahnya, karena ada pilihan bahwa acara akan tetap terlaksana di ACC Unair. Namun, ternyata engga soalnya tabrakan sama SEMPOA kalo ga salah.”, ungkap Bunga.

Sebagai panitia, Mawar turut merasakan kesedihan atas pembatalan konser musik tersebut secara mendadak. Bunga juga menjelaskan jika panitia sudah menjanjikan untuk pengembalian dana (refund) tiket penonton seratus persen.

“Jujur perasaanku sedih banget. Aku juga baca-baca menfess tuh kayak orang-orang yang nulis itu ada beberapa yang nggak beli tiket, jadi cuma kayak ikut-ikutan aja. Aku tahu kalau jadi mereka yang beli tiket, pasti aku bakalan marah. Tapi kan, kita juga udah ngejanjiin refund seratus persen. Pokoknya aku yakin ‘atasan’ tuh kayak udah berusaha semaksimal mungkin biar kita nggak malu juga, pokoknya biar acara tetep berjalan. Tapi kayak nggak bisa gitu loh, mau pindah ke ACC juga nggak bisa, mau mundurin jadwal juga nggak bisa, kan ada beberapa GS yang hari Minggu tuh nggak bisa segala macem kayak gitu”, jelas Mawar.

Menanggapi kondisi internal kepanitiaan AYIFEST 2022, Mawar mengkritik jika terdapat circle antar panitia yang dirasa kurang transparan selama kegiatan berjalan.

“Tolong kalo panitia inti jangan satu circle kalo pun satu circle boleh-boleh aja, tapi lihat kemampuannya, karena ini menyangkut masalah se-univ, sama transparan apapun yang terjadi, karena namanya satu organisasi satu kepanitiaan tujuannya sama kalo di bawahnya gatau apa-apa gimana mau jalan?”, ujarnya.

Bunga juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, transparansi antar panitia dirasa kurang selama acara berlangsung seperti perizinan lokasi acara yang tidak diinformasikan h-30 jika memang terkendala. Dirinya juga mengaku selama penjualan tiket hanya mengetahui ‘jual tiket, transfer’ tanpa diberitahu ke mana arah uang hasil penjualan tersebut entah pembayaran guest star atau hal yang lain. 

“Kritik dan saran dari aku ya, mungkin kalau misalkan kita mau bikin event yang besar, kita harus belajar dulu, paling nggak sama yang udah berpengalaman, misalkan kita nanya-nanya dulu ke @konser.jatim, terus juga komunikasi itu harus dibangun, apa-apa harus transparan. Jadi biar kalo ada kayak satu divisi sulit, kita bisa saling bantu, lebih aware antar satu masalah. Terus kayak harus terkonsep gitu loh. Misalkan kita mau 6 guest star tapi kita bingung bayarnya kayak gimana, mungkin 2 guest star dulu yang penting kita bisa full bayarnya. Kek gitu sih, itu kan lebih terkonsep”, pungkas Bunga. 

Penulis : Tim Investigasi LPM Mercusuar

Editor : Tim Investigasi LPM Mercusuar