/Museum Etnografi Kembali Dibuka, Mahasiswa Bisa Belajar Budaya Nusantara
Sumber Foto : Satriyani Dewi Astuti

Museum Etnografi Kembali Dibuka, Mahasiswa Bisa Belajar Budaya Nusantara

Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP Unair kembali dibuka untuk umum setelah pandemi. Ditandai dengan pameran eksklusif yang digelar pada Kamis (29/09) dengan mengangkat tema Terakota, tema ini dibahas lantaran terakota merupakan salah satu benda yang berhubungan erat dengan beberapa upacara kematian di beberapa daerah di Indonesia.

Dosen Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Dr. Phil Toetik Koesbardiati mengungkapkan bahwa museum etnografi merupakan museum yang mengangkat tentang kematian manusia.

“Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian FISIP UNAIR merupakan salah satu museum yang mengangkat topik unik, yaitu tentang kematian manusia. Karena tanpa kita sadari, kematian menjadi proses terakhir manusia yang juga memiliki budaya beragam khususnya di nusantara,” jelas Dr. Phil Toetik Koesbardiati.

Museum etnografi menerapkan tiga asas penting yakni, pendidikan, rekreasi dan penelitian. Secara lokasi yang berada di area kampus, museum etnografi memberikan sarana belajar bagi siapa saja untuk mengamati koleksi-koleksi yang dimiliki. Dilengkapi dengan 7 ruangan sekaligus 1 lab, pengunjung disuguhkan dengan berbagai koleksi baik dari luar negeri hingga dalam negeri.

Mengambil tema kematian, Museum Etnografi menampilkan model pemakaman di nusantara, penjelasan tentang fenomena mati suri kisah kematian unik dari berbagai daerah, area model kematian yang tidak wajar, dan lain sebagainya.

Selain itu, museum etnografi telah meraih penghargaan dari Indonesia Museum Awards 2018 sebagai kategori “Museum Terunik” yang menyisihkan 435 museum lainnya.

“Kami berharap setelah kembali aktifnya kegiatan pameran di Museum ini, khususnya para pengunjung bisa memanfaatkannya kembali untuk berbagai hal positif. Terlebih mahasiswa yang bisa melakukan penelitian, diskusi dan menggali pengetahuan terkait sejarah yang berhubungan dengan etnografi dan tradisi kematian di Nusantara,”ungkap Dr. Phil Toetik Koesbardiati.

Penulis : Satriyani Dewi Astuti

Editor : Primanda Andi Akbar