/Refleksi Pejabat Kampus Bermasalah, MPM Sudah Sadar Untuk Berubah?
Sumber Foto : Kolase Pribadi

Refleksi Pejabat Kampus Bermasalah, MPM Sudah Sadar Untuk Berubah?

BEM UNAIR 2021 memberikan sebuah gambaran bagaimana memuncaknya keluhan mahasiswa terhadap sepak terjang BEM UNAIR setidaknya 2-4 tahun kebelakang. Bagaimana tidak, peristiwa miris layaknya siaran televisi tertangkapnya para pejabat publik yang terbukti melakukan tindakan penyelewengan atau manipulasi yang terjadi beberapa waktu lalu tentu sangat memalukan.

Universitas dalam dinamika organisasinya, sudah selayaknya miniatur negara, namun tanpa lembaga pengadilan atau yudikatif di dalamnya. Namun perkasanya gaung “Excellence With Morality” membangkitkan semangat mahasiswa untuk bersatu menghadapi para oknum yang memanfaatkan jabatan demi mendapatkan keuntungan berupa uang semata. Tidak tanggung-tanggung, yang dikorupsi adalah uang para mahasiswa, serta tipu muslihat kepada rektorat untuk mencairkan dana berpuluh-puluh juta.

Kita semua tahu, uang rektorat juga bercampur dengan uang UKT mahasiswa? luar biasa bukan. Ya, kebanyakan korupsi memang dilakukan secara kolektif, artinya tidak sendiri. Karena menurut para ahli, korupsi membutuhkan kerjasama, taktik, dan pembagian peran. Semuanya diperlukan untuk mengakali, mengibuli sistem, atau orang perorangan dan memberikan efek manipulatif yang lebih meyakinkan. Ini kata para ahli loh ya, namun tentu, para ahli ini juga belajar dari realita satu dengan realita yang lain. Demikian juga dengan kasus di Universitas tercinta ini, nyata dan sama pola nya.

Lantas, muncul pertanyaan, siapa yang akan melanjutkan nahkoda BEM UNAIR selanjutnya?. Saya sebagai mahasiswa biasa yang kegiatannya sekadar biasa-biasa saja  menaruh harapan penuh kepada para nahkoda BEM UNAIR selanjutnya. Saya menaruh harapan penuh kepada mereka supaya selalu senantiasa memperjuangkan hak-hak dan kepentingan para mahasiswa. Bukan kepentingan individu atau kelompok atau bahkan pengampu kebijakan universitas.

Coba kita refleksikan di tahun 2019 lalu saat UKT mahasiswa dinaikkan hingga 100%, disitu muncul gejolak konflik antar para mahasiswa. Ada sebagian mahasiswa yang berusaha untuk memperjuangkan UKT dan sebagian lainnya ada yang berupaya untuk membela birokrat kampus karena takut atau “sungkan”.  Takut atau “sungkan” dengan birokrat kampus ini sejalan dengan terminologi umum di ilmu sosial, yaitu karena adanya posisi sub-ordinat antara kelompok stakeholder mahasiswa dengan birokrat kampus. Posisi sub-ordinat ini diakibatkan karena adanya keterkaitan hubungan yang tidak sehat seperti hutang budi, tidak independen, mudah mendapat intervensi, mendapat instruksi, menjilat atau menuruti kemauan-kemauan yang tidak ideal. Tidak hanya itu, posisi sub-ordinat ini juga dilengkapi dengan sikap mahasiswa yang tidak memiliki pendirian atas keberpihakannya kepada mahasiswa atau masyarakat. Jadilah, bertemulah kedua sikap yang seakan akan seperti saling menyambut itu. Seharusnya, kedua golongan mahasiswa yang berkonflik itu saling bersatu padu untuk memperjuangkan hak-hak mahasiswa bukan malah saling bertentangan satu sama lain.

Saya sadar, kalau memiliki keterbatasan atas suara saya. Saya bukan bagian dari majelis  yang ikut menentukan arah kepemimpinan BEM UNAIR kedepan. Tentu, karena sistem pemilihan yang bukan pemilihan secara langsung, tetapi melalui perwakilan. Maka dari itu, besar harapan saya agar semua orang yang mengaku mewakili saya dan ribuan mahasiswa UNAIR lainnya yang tergabung dalam lembaga legislatif, mampu merefleksikan pesan ini. Serap aspirasi kami, dan jadilah manusia yang amanah.

Penulis : Muhammad Nuzulil A.

Editor : Primanda Andi Akbar