/Idealnya Ormek dalam Berdinamika di Internal Kampus : Antara Ketabuan Belaka dan Utopia Pertukaran Gagasan
Sumber Foto : Antara News

Idealnya Ormek dalam Berdinamika di Internal Kampus : Antara Ketabuan Belaka dan Utopia Pertukaran Gagasan

Sumber Foto : Antara News

Tentang Organisasi Mahasiswa

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa organisasi pada tingkatan mahasiswa tentu banyak macamnya. Organisasi-organisasi ini menurut ruang lingkupnya dibagi menjadi organisasi ekstra kampus yang kemudian disebut “Ormex” dan organisasi intra kampusyang kemudian disebut “Ormin”. Tentu secara harfiah kita akan mudah menangkap maksudnya, apa itu organisasi ekstra kampus dan apa itu organisasi intra kampus.

Sebelum adanya organisasi intra kampus tentu merujuk pada sejarah, organisasi ekstra kampus hadir terlebih dahulu. Beberapa organisasi ekstra kampus yang popular salah satunya adalah yang tergabung dalam organisasi cipayung plus. Seperti contoh adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan oleh Kakanda Lafran Pane, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta (sekarang UII) pada 1947 ketika itu, kemudian Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang didirikan dengan restu Presiden Soekarno melalui kongres pada tanggal 23 Maret 1954. Begitu pula PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang didirikan oleh Abangda Mahbub, GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) dan lain sebagainya.

Dahulu juga ada pula organisasi ekstra kampus bernama CGMI (Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang merupakan organisasi yang secara kultural merujuk pada PKI (Partai Komunis Indonesia). Mereka berdinamika, termasuk dengan HMI yang saat itu terancam dibubarkan. HMI tentu kita kenal sebagai organisasi ekstra kampus yang amat keras perlawanannya baik secara ideologi ataupun konfrontasi secara fisik terhadap PKI (Partai Komunis Indonesia). Tentu mereka telah berdinamika terlebih dahulu dalam menghiasi sejarah bangsa ini. Banyak hal yang telah mereka korbankan dan sumbangkan. Ormek tentu telah memberi sumbangsih yang besar untuk negara ini, terutama dengan menghasilkan kader bangsa kader ummat, kader-kader pemimpin mulai dari pusat hingga tingkatan RT (Rukun Tetangga).

Sejalan dengan berdirinya organisasi intra kampus yang memiliki tujuan utama yaitu study government. Itulah yang akhirnya menjadikan kampus sebagai miniatur negara. Itu adalah alasan mengapa struktural dan nomenklatur dalam organisasi internal mirip dengan pemerintahan kita seperti Presiden BEM, Gubernur BEM, kemudian ada lembaga legislatif juga seperti DLM dan BLM sebagai wujud penerapan dari trias politika ala Montesque. Organisasi intra kampus juga pada akhirnya menganut trias politika, dimana kelembagaan eksekutif diemban oleh BEM, DEMA, LEM atau EM, kelembagaan legislatif diemban oleh BLM, DLM, MPM dan sebagainya. Hanya saja tidak ada untuk kelembagaan yudikatif.

Kemudian, bagaimana yang terjadi dewasa ini mengenai keberadaan ormek di kampus? Saya berpendapat bahwa telah terjadi degradasi pemahaman terhadap ormek di kalangan mahasiswa yang awam terhadap organisasi ekstra kampus. Jumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ekstra kampus di kebanyakan kampus di Indonesia adalah minoritas. Sedangkan sebagian besarnya, memang awam terhadap organisasi mahasiswa ekstra kampus.

Ketika saya memposisikan diri sebagai mahasiswa yang awam terhadap ormek dan jika saya hanya melihat secara sepintas saja, maka citra ormek yang terlihat dalam pandangan saya adalah organ yang sangat oportunis belaka. Mengapa? Karena jika saya adalah awam yang tidak melihat terlalu dalam, maka yang terlihat dimata saya terhadap dinamika ormek didalam kampus hanyalah soal bagaimana perebutan kursi Ketua BEM saja yang dijabat oleh salah seorang kader ormek. Dinamika yang bisa dilihat hanyalah ormek mana yang duduk menjabat dan berkoalisi dan ormek mana yang beroposisi.

Agaknya saya menjadi tidak puas ketika dinamika yang terlihat selama ini hanyalah perebutan kekuasaan dan soal politik praktis yang sangat teknis itu. Malah-malah ketika saya menanyai beberapa mahasiswa tentang pendapatnya mengenai ormek di fakultasnya dan universitasnya, yang dikatakannya hanyalah orang-orang yang biasanya menjabat di organisasi internal di fakultas dan universitas serta yang biasanya sering mengikuti pemilihan umum raya saja, sekedar itu. Argumentasi-argumentasi semacam itulah yang menyebabkan ormek dimata sebagian mahasiswa dipandang sebagai organ yang amat politis yang selalu berebut kekuasaan saja.

Lalu Bagaimana Idealnya?

Ada hal yang lebih penting daripada sekadar soal politik yang amat teknis itu, apalagi hanya sekadar perebutan kursi Ketua BEM. Tanpa menafikan soal itu, ormek haruslah menjadi pusat diskursus ilmiah dan intelektual di kampus. Ormek bisa menjadi wadah untuk mengeluarkan gagasan-gagasan dan ide-ide yang baik mengenai kemanusiaan, politik, kelembagaan di kampus, pengetahuan, bahkan mengenai kebangsaan.

Hal itu patut dilakukan guna mewarisi tradisi luhur ormek, seperti yang dilakukan oleh Nurcholis Majid (Cak Nur) di Himpunan Mahasiswa Islam yang mengeluarkan tulisan bernama Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang berisi sudut pandang Islam mengenai Dasar-Dasar Kepercayaan, Kemerdekaan Manusia dan Keharusan Universal, Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi dan lain sebagainya. Karya Nurcholis Majid itulah yang saat ini menjadi landasan ideologis organisasi HMI. Kemudian semisal dengan GMNI yang marhaenis, atau IMM dan lain sebagainya pasti memiliki landasan ideologis tersendiri. Itulah yang seharusnya “dipertengkarkan” dan menjadi sebuah diskursus, bukan malah intrik-intrik yang membosankan.

Membuka Tabir Ketabuan Ormek di Dalam Kampus

            Membuka tabir secara transparan mengenai ormek dan para kader ormek patutnya harus dilakukan. Ormek bukanlah organisasi yang buruk dan politis saja. Akan tetapi pasti semua hal memiliki kekurangan, termasuk ormek. Maka kekurangan ini yang harus diperbaiki sedikit demi sedikit dan diskursus atau pertarungan ide-ide haruslah direstorasi kembali. Memperdebatkan ide dan gagasan antar ormek harusnya bukan hal tabu dan harus menjadi sebuah hidangan yang lezat bagi akal-akal sehat mahasiswa.

 Agenda semacam itu bisa dilakukan ketika ormek telah menjadi organ yang menjadi ruang untuk saling bertukar pikiran dan gagasan secara intelektual antar para mahasiswa. Ormek bukan hanya dijadikan sebagai wadah yang politis saja untuk memperebutkan kursi Ketua BEM. Jadi, marilah kita wujudkan itu secara bersama-sama dan dimulai dari kampus kita masing-masing.

Penulis : Ahmad Rajul D.

Editor   : Primanda Andi Akbar