Sekolah Rodinda: Isu Pluralisme Bukan Hanya Konsep

Sekolah Rodinda: Isu Pluralisme Bukan Hanya Konsep

Kementerian Sosial Politik, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Universitas Airlangga (Unair) mengadakan webinar Pluralisme Indonesia bertajuk “Belenggu Rasisme, Diskriminasi Agama, Stigma LGBT, dan Penyimpangan Media pada Masa Kini”. Webinar ini diselenggarakan Sekolah Rodinda melalui aplikasi zoom dan live streaming youtube pada Sabtu (10/8/2021) dengan mengundang tiga pemateri, Anindya Shabrina dari Front Mahasiswa Nasional (FMN) Surabaya, Febby Damayanti dari Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos), dan Habib Husein Ja’far dari Akademi Kebudayaan Islam Jakarta. 

Materi pertama disampaikan oleh perwakilan FMN, Anindya dengan kasus Obby Kagoya untuk mengawali diskusi rasisme. Menurut Anin, tanpa diketahui kesalahannya, mahasiswa asal Papua yang tinggal di Asrama Kamasan, Yogyakarta mengalami kekerasan selama aparat kepolisian menangkapnya. 

“Alih-alih mendapatkan keadilan, Obby malah dikriminalisasi di meja hijau serta foto Obby yang sempat viral disebut hoaks oleh pihak kepolisian, hal ini memprihatinkan sekali,” ujar perempuan asal Surabaya.

Anin mengingatkan tersebarnya berita hoaks di media sosial tentang mahasiswa Papua penghuni Asrama Kamasan membuang bendera merah putih ke selokan, akibatnya asrama Papua dikepung oleh polisi, militer, masyarakat dan ormas-ormas nasionalis. Kejadian tersebut direspon dengan perlawanan besar-besaran di Papua tahun 2019 lalu, mengetahui saudara mereka di Jawa mengalami rasisme. 

“Saya juga masih ingat bagaimana pada waktu itu, berita-berita di media mainstream terkait apa yang terjadi di Papua ditayangkan dari satu sudut pandang, yaitu pemerintah. Penembakan-penembakan yang terjadi di sekolah, bagaimana militer memasuki kampus, itu tidak diberitakan sama sekali di media mainstream,” terang Anin.

Febby Damayanti, perwakilan komponen transpuan dan transgender, menyebutkan terdapat 349 transpuan di Surabaya yang mayoritas bekerja sebagai pekerja seks waria akibat sulitnya mendapatkan kesempatan kerja. Stereotip buruk dari keluarga, masyarakat, dan negara menghambat kebutuhan hidup sehari-hari transpuan, maka mereka terpaksa menjadi pekerja seks. 

“Kemarin di tahun 2020, teman kami transpuan asal Makassar telah tinggal di Surabaya selama tujuh tahun mendapatkan perlakuan (kekerasan) dari warga sipil di perbatasan Waru itu dipukul sampai dia mendapatkan jahitan luka di area bibir,” terang  Febby

Febby menambahkan bahwa pihaknya  sudah melakukan pelaporan sampai tingkat Polda Jatim dengan dibantu Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya .

“Sampai sekarang pun tidak mendapatkan respon atau tindak lanjut, kita juga akhirnya menganalisa. Apa karena kami waria, ya, jadi, laporan kami gak begitu diperhatikan,” ujarnya.

Transpuan asal Surabaya ini merasa kecewa apabila media menampilkan waria sebagai bahan candaan, olok-olokan, dan sebagainya. Terlebih waria yang muncul di media berpura-pura menjadi waria demi  tingginya rating dan sengaja membuat waria dijadikan lelucon, belum lagi stigma buruk masyarakat yang melekat pada transpuan. Ketika Febby melakukan penyuluhan kesehatan yang dibawahi Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Jawa Timur, ia dianggap pernah menderita penyakit HIV/AIDS karena dirinya transpuan.

Terakhir, Habib Husein Jafar mengatakan salah dan benar selalu terjadi dalam suatu perbedaan, namun pembahasan tersebut luput dari hak yang diberikan oleh Allah kepada semua manusia. “Saya misalnya yakin bahwa islam itu agama yang benar, kawan saya, pendeta Yerry pattinasarany yakin bahwa kristen protestan adalah benar. Tapi, diluar itu semua, ada hak yang harus dijaga oleh saya. Hak untuk hidup, hak untuk tidak menyakiti dia, itu hak dia dan kewajiban saya,” tuturnya.

Penulis buku Tuhan Ada di Hatimu tersebut memberikan nasehat bahwa media dapat menjadi peluang sekaligus ancaman. Menjadi peluang apabila kita dapat membangun persatuan melalui kegiatan positif dan inspiratif. Namun media sosial menjadi ancaman ketika berisi konten-konten yang memecah belah sebagai manusia. 

“Saya itu kalo ngeliat ada suster dan ustadzah nyebrang bersama berpegangan tangan dan viral fotonya, saya gak seneng, karena kenapa? Karena perbedaan dan toleransi masih luar biasa, masih menjadi hal yang luar biasa masih menjadi pemandangan yang jarang,” Jelas Husein

“Saya berharap nanti media sosial ada foto tentang dua orang yang bersama di tengah perbedaan itu gak lagi viral, karena itu sudah menjadi pemandangan yang biasa saja, gak lagi luar biasa,” pungkasnya.

Kejadian kekerasan dan diskriminasi di Indonesia menjadi benang merah topik yang diangkat dalam webinar yang diikuti lebih dari 500 peserta ini.

Penulis : Balqis Primasari

Editor : Tata Ferliana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *