Audiensi Kedua, Kasubag Umum dan Perlengkapan FST: Masih Memungkinkan Advokasi Kantin

Audiensi Kedua, Kasubag Umum dan Perlengkapan FST: Masih Memungkinkan Advokasi Kantin

Setelah diadakan audiensi terkait penggusuran kantin FST oleh BEM FST, BLM FST, dan BEM Unair dengan Direktorat Logistik, Keamanan, Ketertiban, dan Lingkungan (Lokamtibling) pada Selasa (15/6), mereka mengadakan audiensi lanjutan dengan staf bagian sarana prasarana FST (25/6).

Cuk Prasetyo Hudoyo, SS.,SE.,M.Si selaku Kepala Sub Bagian Umum dan Perlengkapan FST Unair mengatakan tetap mungkin jika kantin FST dipertahankan, namun dengan beberapa pertimbangan.

“Sebenarnya kalau salah satu alasannya dibuat untuk jalan mobil, ya kurang tepat karena di seberang kan ada Gedung Pertamina, ruang lab, kelas, ruang baca. Jadi berbahaya kalau ada mahasiswa yang mondar-mandir,” jelasnya.

“Bisa saja kantinnya tetap di sana tapi jalan mobilnya lewat depan FST kemudian ke kiri sampai belakang FST, FKM, sampai ke Ulul Azmi. Kemudian di Kampus C ini kan tempatnya luas, kalau direlokasi jaraknya pasti relatif jauh,” lanjut Cuk Prasetyo.

Mengutip dari Instagram @fstbergerak, audiensi tersebut dilakukan untuk mendapat data yang lebih lengkap dari penanggungjawab kantin FST, mengingat pada audiensi sebelumnya pihak Rektorat mengatakan bahwa alasan penggusuran kantin FST ditinjau dari segi kehigienisan makanan, kebersihan tempat, pengelolaan limbah, dan kelayakan bangunan.

Mengenai manajemen pengelolaan limbah, mulai pengairan hingga sampah organik dan anorganik, Cuk Prasetyo mengatakan jika sanitasi pengairannya langsung ke sungai dekat pertamina.

“Untuk sanitasinya insyaallah aman. Kemudian untuk sampah organik maupun anorganik itu ada orangnya dari eksternal FST. Para pedagang FST juga berinisiatif iuran untuk mempekerjakan orang dalam membersihkan sampah organik maupun anorganik,” ujarnya dikutip dari Instagram @fstbergerak.

Sementara itu, mengenai bagian belakang kantin FST yang digunakan sebagai tempat cuci piring yang terkesan kumuh, ia menjawab disebabkan adanya lorong belakang kantin tepat pada tempat cuci piring yang sempat jebol.

Namun, lanjutnya, hal tersebut langsung termasuk ke dalam renovasi Kantin FST yang sudah dilakukan pada akhir tahun lalu.

Selain dekorasi kantin yang mirip dengan tempat makan pada umumnya, kehigienisan makanan yang dijual di kantin FST pun sudah sesuai dengan warung-warung umum dan layak makan.

“Poin terpenting adalah jika dipandang masih kurang higienis, sedangkan selama ini tidak ada keluhan keracunan, sakit perut, ataupun lainnya,” tegasnya.

Tak sama dengan fasilitas air yang disediakan secara gratis oleh kampus, biaya penerangan kantin dibebankan kepada pedagang itu sendiri.

“Tetapi, saya rasa jika pihak kantin memberi masukan untuk memberi penerangan yang lebih cerah juga akan diterima,” tambahnya.

Ditanya mengenai harga sewa kantin FST, ia menjawab bahwa harga sewa per petak adalah sebesar 12,5 juta per tahun.

“Uangnya nanti langsung diserahkan ke universitas,” pungkasnya.



Penulis: Amelia Rahima
Editor: Risma D. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *