Wacanakan Integrasi Magang UKM dengan MKWU, Kampus Belum Siap?

Universitas Airlangga (Unair) kembali dengan inisiatif program barunya. Sistem magang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) diwacanakan akan berintegrasi dengan Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU).

Diketahui, Pusat Pendidikan Kebangsaan, Karakter dan Inter-Professional Education (PPK2IPE) Unair menginformasikan wacana tersebut melalui Forkom Unair dan disampaikan melalui forum penyampaian program mata kuliah pengembangan diri yang diadakan pada Sabtu (8/5/2021).

Kurikulum baru program mata kuliah pengembangan diri dengan UKM ini melibatkan mahasiswa baru angkatan 2021. Dalam program tersebut, mahasiswa akan diwajibkan mengikuti minimal 1 UKM sebagai praktik dari mata kuliah tersebut.

UKM yang ditunjuk sebagai partner kolaborasi diminta menyiapkan keperluan selama proses pembinaan berlangsung.  Sedangkan terkait sistem penilaian akan dilakukan oleh masing-masing UKM dengan menyesuaikan kebutuhan yang selanjutnya dikoordinasi oleh PPK2IPE.

Namun, menjelang penerimaan mahasiswa baru 2021, kampus belum juga memberikan mekanisme yang jelas beserta panduan dalam program tersebut.

Pengurus Forkom Unair sebagai penanggungjawab program magang, Kinmei mengatakan pihaknya belum mendapatkan kejelasan terkait persiapan mekanisme magang terintegrasi dari kampus.

“Sebelumnya saya minta maaf karena berdasarkan hasil diskusi bersama belum bisa menyampaikan perihal mekanisme magang karena masih ada beberapa hal yang belum terselesaikan,” tuturnya melalui Whatsapp pada Jumat (11/6).

“Jadi, saat ini saya mewakili tim masih belum bisa memberi jawaban,” lanjutnya.

Perubahan Sistem Magang

Sistem magang UKM yang baru berbeda jauh dengan sebelumnya, mengutip dari hasil notulensi forum bersama Forkom dan UKM yang diadakan Mei lalu, beberapa perbedaan dirangkum dalam tabel berikut:

Tanggapan Pengurus UKM Unair

Imam, Kepala Divisi Rekrutmen UKM Penalaran berharap sistem magang yang  baru dapat berjalan dengan baik. Sayangnya, mekanisme pelaksanaan program masih belum jelas. 

 “UKM Penalaran menyambut dengan baik, akan tetapi masih belum mendapatkan gambaran secara gamblang akan seperti apa mekanisme pelaksanaannya. Sehingga sampai saat ini belum dapat melakukan sesuatu untuk persiapan menyambut sistem magang terintegrasi. Dan diharapkan pihak Forkom maupun Universitas dapat memberikan arahan jelas selanjutnya agar UKM Penalaran dapat segera melakukan persiapan mengingat waktu pelaskanaanya beberapa bulan lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Muthia, pengurus UKM Kependudukan menyampaikan organisasinya perlu mempersiapkan secara matang apabila program magang terintegrasi benar-benar berjalan. Terlebih, banyaknya jumlah calon peserta menjadi beban tersendiri. Bagi UKM.

“Bisa dibilang kami sangat kaget, apalagi UKM ditarget untuk dapat menilai dari individu maba secara deskriptif. Dan kami juga berpikiran bagaimana nanti sistem yang akan kami jalankan ke depannya, banyak yang harus disiapkan secara matang dan ada rasa takut membludaknya peserta magang. Karena 7000 maba diwajibkan mengambil matkul magang ini ditambah dengan angkatan sebelumnya (yang belum lulus magang),” paparnya.

“Tidak berpengaruh besar pada rancangan proker kita, tapi banyak persiapan yang harus dikerjakan termasuk penilaian individu maba, dan masih dalam tantangan pelaksanaan perkuliahan kedepan akan dilaksanakan secara online atau offline,” lanjutnya.

Ketua UKM Sinematografi, Anuursyam Al Mukri pun turut berkomentar. Menurutnya, sistem magang baru terlalu kompleks. Padahal ia dan pengurus organisasinya berencana menyederhanakan kegiatan display UKM yang digelar setiap tahun pada saat Amerta.

“Tiap tahun program ini hampir menyita banyak waktu dan produktivitas UKM dalam memproduksi film. Saya rasa durasi magang sepertinya perlu dibuat lebih sederhana,” keluhnya.

“Kegitan magang yang dulu waktunya lebih fleksibel dan kriteria kelulusannya dibuat secara internal oleh UKM saja masih banyak yang tidak lulus. Itu karena jadwal magang suka bertabrakan dengan jadwal ospek fakultas atau ospek jurusan, akhirnya banyak yang bolos pada kehadiran magang. Saya rasa kampus perlu mempertimbangkan hal ini,” ujar Mukri.

Hingga saat ini, kampus belum memberikan gambaran yang jelas mengenai sistem pelaksanaan program magang UKM terintegrasi dengan MKWU. Pertimbangan beberapa pengurus UKM juga menampakkan belum siapnya program tersebut dijalankan.

Penulis: Diyanah Shabitah
Editor: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *