Agenda pertama pelantikan pengurus HIPMI Unair pada Jumat (12/2) (Gambar: dokumen pribadi HIPMI Unair)

Pandemi Covid-19 di Indonesia tak kunjung reda. Salah satu imbasnya, para pebisnis gulung tikar dan tak sedikit yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada karyawan.

Sesi talkshow dalam rangka pelantikan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Unair bertajuk ‘Berhenti Mencari Pekerjaan dan Ciptakan Lapangan Pekerjaan’ diadakan pada Jumat (12/2). Acara yang digelar secara offline dan online itu dihadiri oleh para pebisnis senior yang tetap mampu mempertahankan bisnisnya di masa pandemi.

Adilah Daffadany Rabbani, S.T., Chief Operating Officer (COO) Jokopi, menceritakan awal mula berdirinya kedai kopi yang digemari anak muda tersebut. Lika-Liku yang paling berat, disebutnya terjadi ketika memasuki awal perintisan bisnis lantaran keterbatasan modal.

Berawal dari sistem Open Purchase Order (PO), bisnis coffee shop itu berhasil mengumpulkan modal dan menjajakan produknya melalui event Car Free Day (CFD). Hingga pada akhirnya, mereka berhasil membeli stand sekaligus perlengkapannya.

Disebut Adilah, berbisnis menjadi pilihan tepat di samping semakin sedikitnya lapangan kerja yang membuka lowongan.

Selain itu, dalam posisinya, pebisnis dengan karyawan tentu berbeda. Ketika bekerja, seorang karyawan berada pada posisi comfort zone dengan gaji besar namun pasif. Tak hanya itu, karyawan juga dituntut bekerja dengan baik sesuai iklim perusahaan.

Hal itu berbeda dengan pebisnis, umumnya, seorang pebisnis harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk mengembangkan usahanya ke depan.

“Semua itu memang secara ekonomi makro kan sangat membutuhkan ya, cuma kalau sekarang hanya berfikir bekerja sementara lapangan pekerjaan juga sangat sedikit maka akan menjadi beban pemerintah. Namun, apakah berbisnis itu lebih baik? Belum tentu juga,” ujaar Imron Hamzah, CEO Anterin.id saat talk show berlangsung

Dalam memulai bisnis, hal-hal yang perlu diperhatikan yakni modal usaha, basic skill, dan relasi atau hubungan dengan banyak pihak.

Lebih lanjut, Daffany menyampaikan, bagi anak muda yang akan merintis bisnis, passion dan peluang harus diimbangi. Ia menganalogikan bisnis dan passion layaknya marathon.

“Karena ketika kamu suka atau menyukai sesuatu maka kamu akan rela mengorbankan sesuatu yang lebih untuk mencari tau apa yang kamu suka itu, ” pungkas Daffany.


Penulis: Melinda Kusuma
Editor: Risma D.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *