Foto: Arsip Pribadi Puji Eka Sri Lestari

Long Distance Relationship atau LDR merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi di masyarakat. Namun kini hubungan jarak jauh nampaknya tidak hanya dirasakan orang yang memadu kasih. Saat ini mahasiswa baru juga harus merasakannya. Bukan dengan kekasih, melainkan dengan dosen, teman sejawat, bahkan kampusnya sendiri. Sama halnya dengan Ksatria Airlangga –sebutan untuk para mahasiswa Universitas Airlangga- selama kuliah daring. Pengetahuan mahasiswa terkait kampusnya sendiri tidaklah banyak.

Namun bagi Randi Fajri Rahman, mahasiswa tingkat satu prodi Ilmu Administrasi Publik, hal itu kembali pada masing-masing individu. Setiap orang dalam memperoleh informasi tidak dapat digeneralisasi. Tergantung pada bagaimana usaha individu tersebut. Banyak informasi yang bisa diperoleh melalui media yang sudah disediakan Unair misalnya Instagram, situs web, Twitter, bahkan akun TikTok yang baru-baru ini diluncurkan. Di samping itu, organisasi kampus juga menjadi wadah informasi jika individu ingin aktif beroganisasi. Misalnya dengan mengadakan bincang bersama kakak tingkat ataupun teman sejawat. Randi merasa cukup banyak mendapat informasi seputar Unair melalui organisasi yang diikutinya dan relasinya.

Namun di sisi lain, ia masih menyayangkan kondisi yang membuatnya belum bisa merasakan dan melihat bentuk fisik Unair secara langsung. Ia belum bisa merasakan fasilitas kampus secara nyata dan belajar di ruang kelas bersama. Juga belum dapat bertatap muka dan bercengkerama dengan dosen, berdiskusi serta menjalankan aktivitas perkuliahan tanpa perantara layar hp atau laptop.

Di sisi lain, hal tersebut dirasakan juga oleh Puji Eka Sri Lestari, mahasiswi baru prodi Akuakultur. Dirinya merasakan hal serupa dengan Randa. Ia merasa sedih lantaran belum bisa merasakan suasana kampus secara langsung, hingga ia merasa tak ada beda antara ia berstatus siswa dan mahasiswa. Ini karena sejak akhir masa SMA-nya, angkatan Puji sudah dihadapkan pada belajar daring. Kini tidak ada euforia khusus dalam dirinya yang menandakan bahwa ia sudah menjadi mahasiswa. Puji harus terhalang untuk duduk di bangku kelas kuliah, menggunakan fasilitas fisik yang disediakan kampus, pun kesulitan dalam menjalani praktikum di tengah pembayaran UKT yang tetap berjalan.

LDR dengan dosen

Ujian Akhir Semester telah berlalu, tapi rasa cemas dan khawatir masih bersemayam dalam diri mahasiswa. Begitupun dengan mahasiswa baru yang kini telah menjalani 6 bulan perkuliahan. Pasalnya minggu ini mereka akan mendapatkan gambaran hasil jerih payah belajar secara LDR-nya dengan kampus selama 1 semester ini. Randi kini merasakan perasaan yang tertinggal tersebut.

“Waduh deg-degan banget Mbak, apalagi mata kuliah yang jawabannya esai. Jadi nggak yakin,” ujarnya ketika diwawancarai oleh anggota LPM Mercusuar.

Randi mengaku merasa cemas akan IP pertamanya. Sebab memang kuliah daring ini merupakan pengalaman belajar daring perdananya. Meski begitu, dari sebagian nilai yang sudah muncul, Randi merasa cukup puas. Walaupun menurutnya ia bukan termasuk kategori mahasiswa yang sering bertanya selama kelas berlangsung.

Perolehan nilai tersebut tidak luput dari usahanya dalam menangkap pelajaran yang diberikan. Sebagai keluarga dari Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Randi menilai bahwa meski kuliah daring, kinerja dosen tetap terlihat kredibilitasnya. Khususnya pada dosen Ilmu Administrasi Publik. Menurutnya dosen mampu membangun suasana yang aktif dan komunikatif selama pembelajaran daring. Beberapa dosen seringkali mengadakan diskusi saat kelas berlangsung. Hal ini setidaknya sedikit membantu agar kelas tetap aktif meskipun jarak jauh. Di samping itu, dosen memiliki peranan penting saat menyampaikan materi. Kecakapan dosen dalam memaparkan materi dengan mudah sehingga gampang dimengerti oleh mahasiswanya menjadi nilai tambah.

Sementara Puji justru merasa tenang selama menunggu kemunculan nilai di akun cybercampus-nya. Dia juga merasa cukup puas atas pencapaiannya selama kuliah daring ini.

“Kalau nilai yang lain nggak terlalu kaget atau kecewa soalnya juga nggak terlalu rendah dan nggak terlalu tinggi. Jadi sesuai ekspektasi saya,” ungkapnya ketika dihubungi anggota LPM Mercusuar.

Menurut Puji, meski ada nilai yang kurang baik itu dikarenakan memang dirinya yang kurang memahami materi tersebut. Wilayah saintek menurutnya tidak dapat dikatakan mudah. Terlebih program studi yang ditekuninya memiliki beberapa mata kuliah yang memerlukan praktikum sebagai bahan pemantapan pemahaman materi mahasiswa. Sedangkan sejak awal berkuliah, angkatan Puji harus mengalami kuliah daring akibat muncul pandemi Covid-19. Dampaknya, praktikum yang seharusnya dapat dijalankan dengan baik dengan alat-alat semestinya di laboratorium, kini hanyalah angan belaka.

Puji menceritakan beberapa mata kuliah tetap melaksanakan praktikum seadanya. Kala itu, mata kuliah Ikhtio yang mengharuskan untuk praktikum. Ia melakukan pembedahan pada ikan untuk menunjukkan alat pernafasan tambahan atau yang dikenal sebagai gelembung renang pada ikan. Dirinya memilih ikan nila untuk bahan praktiknya.

“Waktu itu disuruh nunjukin alat pernafasan tambahan (gelembung renang) ikan nila, nah saya kan baru pertama kali ngelakuin itu. Selama praktek saya bedah ikan nggak nemuin gelombang renangnya. Sampai ulang 3 kali gagal terus. Kalau offline bisa enak nanya langsung ke asisten praktek cara bedah yang benar gimana biar gelembungnya nggak meletus. Saya gagal terus karena gelembungnya selalu meletus tertusuk gunting. Saking frustasinya ya udah ganti ikan lele aja,” katanya sembari tertawa kecil.

Alat yang digunakan sederhana saja, ada pisau untuk memotong ikan menjadi 3 bagian, gunting untuk bedah organ dalamnya, sedangkan penggaris untuk mengukur panjang sirip dan usus ikan. Sebab mau bagaimana lagi, hanya alat-alat itu yang tersedia di rumahnya.

Untuk mengetahui langkah-langkah yang harus ditempuh, Puji menonton tutorial dari Youtube yang diunggah oleh dosennya. Sebagai bahan penunjang, dosen juga memberikan materi melalui Zoom. Namun sayangnya, ada satu mata kuliah yang sama sekali tidak dapat melalukan praktikum karena harus menggunakan mikroskop. Sedangkan mikroskop tidaklah murah untuk dibeli.

Sosialisasi dengan teman sejawat

Tidak hanya LDR dengan dosen, sebagai mahasiswa baru angkatan 2020, mereka juga harus merasakan pertemanan virtual. Randi memiliki ekspektasi tinggi untuk kuliah di Universitas Airlangga. Dia ingin belajar mandiri dengan menjadi anak rantau, menemukan suasana baru dan memperbanyak relasi.

“Ingin kuliah di Jawa Timur karena mau belajar mandiri, merasakan suasana baru, juga memperbanyak relasi. Karena sebelumnya kan SD dan SMP di Jakarta, SMA di Jawa Barat. Makanya memilih kuliah di Jawa Timur,” ungkap mahasiswa berdarah Jakarta itu.

Namun, apalah daya pandemi terlanjur menghampiri dan ekspektasi hanyalah sekedar mimpi. Jangankan menjadi anak rantau, menginjakkan kaki di tanah kota Pahlawan saja belum sempat. Namun jika tujuan menjadi anak rantau belum tercapai, itu tidak berlaku untuk menjalin relasi. Menurut Randi, jarak dan kondisi bukanlah suatu hambatan untuk memperoleh relasi. Dirinya justru tetap memiliki banyak teman dan relasi dari berbagai daerah dan program studi lain. Itu semua melalui wadah yang diberikan Unair untuk mahasiswanya untuk dapat mengembangkan potensi diri.

Dalam hal membangun relasi dan memperbanyak teman, Randi memilih untuk aktif di berbagai ormawa kampus. Di antaranya magang di Badan Legislatif Mahasiswa FISIP UNAIR dan menjadi staff Badan Eksekutif Mahasiswa UNAIR di Kementrian Hubungan Luar. Apalagi dengan maraknya platform daring yang dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan ruang tersebut.

“Interaksi dengan teman-teman selama online bisa dilakukan dengan banyak komunikasi di grup atau personal chat. Biasanya juga kan ada anak yang nggak nyambung kalau ngobrol di grup atau slow respons, nah itu diinisiasi dengan adanya video call group tersebut. Jadi kalo vcg kan bisa lihat mukanya jadi tahu yang mana orangnya. Selain itu juga bisa dengan tugas kelompok. Ada juga UKM dan BSO,” tukas Randi.

Randi juga mendapati keniscayaan lain, yaitu perbedaan kultur dan bahasa. Nakun baginya hal tersebut tidaklah masalah. Karena dalam komunikasi pun teman-teman mayoritas menggunakan bahasa Indonesia sehingga tidak menyulitkan bagi warga luar Jawa untuk berdialog dalam grup. Ia mengaku, sekalipun ada yang tidak sengaja berbahasa Jawa, bahasa yang digunakan masih dalam kategori bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti.

“Justru kadang diajarin sama mereka (mahasiswa berbahasa Jawa), jadi ada tukeran belajar bahasa biar sama-sama ngerti. Jadi kalau untuk masalah komunikasi sih masih aman,” ungkapnya dengan tenang.

Seperti yang sudah dikatakan diawal oleh Randi, perihal sosialisasi dan komunikasi ini tergantung pada individunya. Bagaimana niat seseorang dalam menjalin pertemanan, mencari relasi, dan mendapatkan banyak kawan. Wadah-wadah tersebut sangat terbuka di Unair. Organisasi mahasiswa daerah, organisasi internal kampus, organisasi eksternal kampus, UKM, dan lainnya aktif melakukan open recruitment. Melalui hal tersebut dan niat kuat dalam diri, maka mendapatkan banyak relasi dan teman di dalam maupun luar program studi sangat bisa dilakukan.

Penulis: Dewi Manjasari

Editor: Baitiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *