Renovasi Kantin FIB, Sejumlah Pedagang Bakal Direlokasi

Kantin Fakultas Ilmu Budaya Unair. (Sumber: MERCUSUAR/Fitri)

Reporter: Lailatul Fitriani

Editor: Annisa Fitriani

Kepala Sub Bagian Sarana dan Prasarana (Kasubbag Sarpras) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) membenarkan rumor yang beredar terkait rencana renovasi kantin FIB. Ditemui tim LPM Mercusuar, Jumat (24/01) di Ruang Kerja Sarana Prasarana FIB, Yani Rahmawati menyebut kantin FIB tidak memenuhi syarat kantin sehat dan selayaknya segera dilakukan renovasi.

“Ini sebenarnya program dari Direktur Sarana Prasarana dan Lingkungan Unair. Jadi, memang ada penataan untuk lingkungan kampus yang tidak memenuhi syarat. Dan kantin FIB jelas tidak memenuhi syarat kesehatan,” tutur Yani.

Renovasi kantin sudah sejak lama dicanangkan, lanjutnya. Hal itu lantaran Fakultas ingin mengajukan sertifikasi guna mendapat sertifikat kantin sehat dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.

“Kami ingin punya sertifikat kantin sehat dari Dinkes Surabaya. Kalau kita mau mengajukan itu dengan kondisi seperti ini, ya pasti tidak layak,” ungkapnya.

Syarat kantin sehat menurut Yani dapat dilihat dari sisi penataan dan higienitas seperti bangunannya, pembuangan sampahnya, proses memasaknya, hingga cara menghidangkannya.

“Kita mau ke arah sana, semua harus tertata karena maunya kan mencapai 500 dunia. Jadi, semua aspek tidak hanya dari sisi prestasi mahasiswa/dosen, tapi juga fasilitas kampus harus memenuhi persyaratan yang world class itu,” imbuhnya.

Perihal nasib pedagang di kantin FIB ke depan, Yani mengatakan jika para pedagang masih bisa terus berjualan seperti biasa selama tempat untuk relokasi belum ada.

“Yang saya tahu tempat relokasinya di gedung parkir baru itu, tapi apakah benar di situ atau apakah ada perubahan lagi kan dari pihak Unair. Tapi selama belum ada tempat untuk relokasi, ya masih tetap di sini,” jelas Yani.

Pihaknya juga telah menyosialisasi terkait hal ini sejak tahun 2018 kepada pedagang di kantin FIB. Namun di sisi lain, salah seorang pedagang mengaku bingung lantaran pembayaran sewa yang biasanya langsung enam bulan menjadi dua bulan saja.

“Bayar sewa biasanya setengah tahun kok jadi dua bulan sampai Februari. Katanya suruh nunggu info selanjutnya. Kepastiannya belum ada. Minta tolong lah, kalau belum ada tempat jangan dibongkar dulu,” kata Welas.

Menanggapi kabar adanya relokasi, Welas hanya berharap harga sewa tidak naik terlalu tinggi.

“Kalau terlalu mahal makanannya otomatis ikut mahal, kasian mahasiswanya juga. Yang penting dikasih tempat. Minta tanggung jawabnya, jangan dilepas tangan gitu aja,” pungkasnya.

Jumat sore (24/01) juga telah diadakan mediasi antara BEM FIB dan beberapa mahasiswa FIB dan FISIP bersama pedagang kantin untuk melakukan komunikasi dan jajak pendapat yang turut dihadiri mantan Dekan FIB di Student Center.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *