Sumber Gambar: Tim LPM Mercusuar UNAIR
Mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga menggelar pertunjukan seni teater dan pameran jurnalistik yang bertajuk Dramaturgi XX featuring Pameran Jurnalistik pada Jumat (27/6) di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Acara ini merupakan bagian dari tugas akhir mahasiswa, pada mata kuliah “Dramaturgi dan Bahasa Indonesia Jurnalistik” yang diikuti oleh beberapa mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Acara dibuka secara informal pada pukul 15.00 WIB dengan pameran jurnalistik yang menampilkan karya dari enam media mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Puncak kegiatan ditandai dengan pementasan teater bertajuk Elliot: Tentang Emma, dan yang lain.
Open gate teater dilaksanakan pada pukul 18.00 WIB. Rangkaian dibuka dengan Tari Sri Gayong, kemudian dilanjutkan pembacaan sajak Pesan Pencopet kepada Pacarnya karya WS Rendra, dan ditutup dengan penampilan teatrikal puisi “Kepada Kawan” karya Chairil Anwar.
Tepat pukul 19.00 WIB, puncak acara yang dinantikan pun dimulai. Penampilan teater yang bertajuk Elliot: Tentang Emma, dan yang lain mengusung tema Magnifico Primrose. Sebuah metafora mengenai sesuatu yang tampak megah dan indah, namun sesungguhnya rapuh. Primrose, bunga yang mempesona tetapi mudah diterpa angin, menjadi lambang dari dunia batin sang tokoh utama. Naskah Elliot: Tentang Emma, dan yang lain ditulis oleh Dyah Ayu Setyorini dan diadaptasi oleh mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Pementasan ini dibintangi oleh Velina C. Azzahra, Netta Farania, Imelda N. Prastika, J. Van Danu, dan Septia Dwi N. Cerita berpusat pada sosok Emma, seorang perempuan yang mengidap skizofrenia dan Dissociative Identity Disorder (DID). Dalam upayanya mempertahankan kewarasan, Emma menciptakan dunia khayalan tempat berbagai sosok penting dalam hidupnya muncul silih berganti: Elliot, Mama, Kekasih, serta para Penyihir. Traumatik masa kecil dan harapan masa depan menjelma dalam figur Mama dan Kekasih, sehingga terus menarik Emma menuju dua kutub emosi yang saling bertentangan.
Penonton menyoroti akting dari tokoh utama, Emma, yang dinilai mampu membawakan peran dengan emosi yang kuat dan konsisten sepanjang pementasan. Karakter Emma menjadi pusat perhatian karena berhasil menghidupkan cerita dan terasa autentik. Terakhir, pementasan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama tim produksi dan para aktor di atas panggung.
Media-media seperti Rukiah Projects, Bangjo Pers, SuaraBaya, Folklora.id, Nowteens.id, dan Suarasa menghiasi area akses masuk menuju ruang pementasan teater dengan mendirikan booth. Masing-masing booth menghadirkan warna dan fokus jurnalistik yang beragam. Rukiah Projects menyoroti isu-isu sosial dengan semangat inklusivitas dan kesetaraan. Bangjo Pers mengulas persoalan fasilitas umum di Surabaya. SuaraBaya menyajikan feature-feature mendalam seputar isu urban. Folklora.id mengangkat keberagaman budaya dari berbagai penjuru Nusantara. Sementara itu, Nowteens.id hadir dengan konten gaya hidup yang dikemas melalui pendekatan khas Gen Z dan Suarasa menyuarakan berbagai isu sosial kontemporer. Setiap booth dari keenam media tersebut menyuguhkan berbagai permainan interaktif yang menarik.
Penulis : Fal
Editor : Ismail Marzuki