Sumber Gambar: Tim Redaksi LPM Mercusuar
“Agama jurnalis adalah kemanusiaan.”
Demikian ucapan Muni Moon dalam agenda Infest yang merupakan rangkaian kegiatan Sinestesia 2024. Dengan bertajuk “Kritis Akan Kewarasan Negara Dalam Mereparasi Hak Asasi Manusia”, diskusi ini mengusung topik-topik sastra, seni, sejarah, dan budaya. Diskusi tersebut dihadiri oleh Muni Moon yang merupakan jurnalis Project Multatuli sebagai pembicara utama serta didampingi oleh Muhammad Jibril. Acara ini diselenggarakan oleh BEM FIB UNAIR di Amphiteater Kampus B pada Senin (9/9).
Selain menggelar diskusi, Sinestesia 2024 juga mengadakan bazar buku dalam agenda Bibliovalley yang mendatangkan sejumlah penerbit dan mahasiswa Universitas Airlangga. Acara ini akan digelar selama tiga hari, yakni pada 9–11 September 2024.
Memasuki diskusi bertopik pergerakan dan perjuangan rakyat, mahasiswa, serta elemen sipil, Muni Moon memaparkan berbagai bentuk pergerakan. Ia meyakini, dimulainya sebuah gerakan harus berasal dari diri sendiri, misalnya sikap berpikir kritis, empati, rasa saling mencintai dan mengasihi. Hal-hal demikian merupakan gerakan-gerakan yang dapat dimulai dari diri sendiri. “Karena kita harus menanamkan pada diri kita sendiri, kemanusiaan itu. Manusia itu apa sih? Kita harus sadar dulu. Bedanya kita dengan makhluk lain itu apa?” Jelas Muni Moon.
Topik lain yang juga disinggung Muni Moon adalah terkait kesadaran moral sebagai sesama manusia serta pondasi berpikir kritis. Ia pun menyorot pentingnya masyarakat untuk tidak serta merta menerima begitu saja berbagai kebijakan pemerintah. “Kenapa? Kita punya hak sebagai rakyat. Rakyat itu punya kekuasaan. Kekuasaan tertinggi itu di tangan rakyat, bukan di tangan pemerintah. Karena pemerintah dibayar oleh rakyat,” terangnya.
Ia menekankan kondisi saat ini yang tidak jauh berbeda dengan masa orde baru yang hanya dibalut kemasan tak seragam. “Hari ini, kita bisa ngomong. Tapi tetap, ada ancaman nilai dan lainnya,” ujarnya. Pentingnya membangun kesadaran diri sebelum membangun kesadaran masyarakat menjadi poin penting yang disampaikan Muni Moon dalam diskusi.
Usai memaparkan perspektif tersebut, barulah Muni Moon menyimpulkan peran sastra, seni, dan budaya dalam pergerakan. Karya-karya jurnalistik, seni, sastra, film, hingga fotografi merupakan bagian dari pergerakan. Ia pun menjelaskan pengaruh dari karya visual terhadap emosi yang secara instan dapat membangun kekuatan besar.
Sepakat dengan Muni Moon, Muhammad Jibril juga memberikan pandangannya atas peran seni sebagai elemen perlawanan. “Seni sebagai salah satu perlawanan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Bahkan, di Surabaya sendiri kita punya contohnya, orang yang melawan atau kelompok yang melawan pakai seni. Kita bisa lihat Tambak Bayan. Itu, temen-temen bisa lihat di Project Multatuli soal bagaimana Tambak Bayan melawan lewat seni,” papar Muhammad Jibril. Ia pun menerangkan kekuatan kata dalam membangun semangat pergerakan dan perlawanan.
Menjelang akhir diskusi, Muni Moon meyakinkan anak muda untuk mulai bergerak selagi masih memiliki kekuatan, harapan, dan mimpi yang besar. Dengan optimis, ia menilai anak muda memiliki kepekaan dan kesadaran lebih tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya. Menurutnya, nurani dan empati tidak terlahir begitu saja, tetapi menjadi hal yang perlu diasah lewat banyak cara. “Kita sering membaca buku sastra, kita sering melihat orang, mendengarkan orang, keluh kesahnya,” ungkap Mini Moon.
Muni Moon juga menambahkan, “Saya harus melihat, apakah itu korban, apakah itu narasumber. Dan itu memang berat. Karena itu harus terus dipraktekan. Makanya kita bilang, agama jurnalistik itu agama kemanusiaan. Bukan mengenai ideologi, itu bukan.”
Sebuah kalimat penutup dari Muni Moon. “Ketika hukum gagal menegakkan keadilan, senilah yang mengambil alih.”
Penulis: WI-07
Editor: RA-06