Sumber Gambar: Reddit.com
Kondisi ketika orang dewasa tidak mampu bersikap selayak usianya, bersikap kekanak-kanakan, dan enggan mengambil tanggung jawab merupakan sebuah kondisi yang biasa dikenal dengan istilah Peterpan Syndrome. Seiring bertambahnya usia seseorang, semakin matang sikap dan emosi mereka. Keadaan ini berakibat pada tanggung jawab seseorang yang semakin bertambah. Namun, kenyataannya banyak orang yang masih belum siap atas tanggung jawab tersebut sehingga membuat mereka merasa takut dan tidak ingin menjadi dewasa. Tanggung jawab dianggap sebagai sebuah beban.
Nama Peterpan Syndrom diambil dari karakter fiksi Peterpan dalam cerita J. M. Barrie, di mana Peterpan tidak ingin meninggalkan Neverland dan tidak ingin tumbuh dewasa. Sebutan lain dari sindrom ini adalah King Baby atau Little Prince Syndrome. Fenomena ini semakin sering diperbincangkan terutama oleh generasi Z. Seseorang yang terkena sindrom ini memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya sebagai berikut:
- Cenderung memiliki sifat dan perilaku kekanak-kanakan serta ketidakmatangan dalam mengelola emosi
- Menghindar atau takut akan tanggung jawab, baik dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi
- Bergantung pada orang lain dan tidak bisa mandiri. Mereka memiliki kekhawatiran berlebih ketika melakukan sesuatu sendirian sehingga selalu mengandalkan orang lain, baik dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi
- Menghindari komitmen. Mereka sering menghindari komitmen jangka panjang, seperti pekerjaan tetap atau hubungan jangka panjang
- Memilih aktivitas yang menyenangkan daripada aktivitas yang memerlukan tanggung jawab
- Cenderung menghindari konflik sebab tidak dapat mencari solusi dari sebuah permasalahan
- Tidak memiliki rencana masa depan, tidak ingin mengembangkan diri, hingga tidak menerima kritik
Belum diketahui apa pemicu pasti dari sindrom ini, namun ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami Peterpan Syndrom. Pertama, lingkungan keluarga dengan pola asuh orang tua yang protektif dan memanjakan anak dapat memicu sifat kebergantungan berlebih pada orang tua dan membuat anak tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Kedua, tekanan ekonomi dan masyarakat sosial membuat generasi muda merasa takut untuk tumbuh dewasa dan mengambil tanggung jawab besar. Ketiga, cara pandang kepada diri sendiri dan lingkungan yang salah. Terakhir, peran media dan budaya populer yang semakin bebas tanpa filter ikut berkontribusi menjadi faktor penyebab Peterpan Syndrome.
Peterpan Syndrome tidak termasuk dalam diagnosis resmi gangguan mental kendati termasuk dalam masalah psikologis. Meski memiliki ciri-ciri yang sama seperti yang dituliskan di atas, individu jangan sampai melakukan self-diagnosis kepada dirinya sendiri. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan sebab sindrom ini sulit untuk diidentifikasi. Namun, bagi seseorang yang mengalaminya, mengatasi masalah Peterpan Syndrome dapat dilakukan dengan cara konsultasi dan terapi psikologis untuk mengatasi ketakutan yang menghambat kedewasaan, mengikuti pelatihan atau kursus yang dapat meningkatkan keahlian, menambah pengetahuan tentang pentingnya tanggung jawab, serta berada di lingkungan yang positif baik lingkungan keluarga, pertemanan, maupun sosial masyarakat.
Peterpan Syndrome merupakan fenomena yang semakin banyak ditemui di masyarakat. Penting bagi generasi muda untuk belajar menghadapi tantangan dan tidak takut mencoba apapun, selagi positif dan bermanfaat bagi banyak orang. Mengatasi Peterpan Syndrome bukan hanya mengubah perilaku sehari-hari, namun membangun pondasi mental yang kuat untuk masa depan.
Penulis: EP-07
Editor: RF-08