Sumber Gambar: LotusPathway.com

Dunia perkuliahan seakan menjadi tempat yang jauh berbeda dari jenjang-jenjang sekolah sebelumnya. Di sini, kita akan banyak menemui orang-orang hebat dengan ambisi mereka yang tinggi. Berbagai kesempatan berlalu lalang, baik organisasi maupun kepanitiaan, baik internal maupun eksternal. Tidak jarang melihat orang lain yang aktif, ikut sana ikut sini, menimbulkan rasa fomo (Fear of Missing Out) atau malah minder. Kalau fomo sudah sering dibahas, kali ini kita akan membahas tentang minder atau rendah diri.

Ketika individu berada dalam dunia perkuliahan, mereka akan dihadapkan dengan berbagai kegiatan ekstranya. Sebelumnya, kebanyakan orang pasti telah memiliki targetnya masing-masing yang ingin dicapai semasa kuliah. Lalu, perlahan mengambil langkah demi langkah, usaha demi usaha untuk mencapai target tersebut. Namun, tidak setiap usaha akan membuahkan hasil yang diinginkan. Semua orang pasti pernah gagal. Ketika rasanya kegagalan ini datang bertubi-tubi, pikiran negatif pun mulai berdatangan. Pikiran negatif yang merendahkan diri, seperti self-talk yang membuat diri sendiri merasa tidak mampu atau tidak pantas mendapatkan suatu hal. Di titik ini, individu seperti terombang-ambing, yang awalnya sudah memiliki tujuan tertentu bisa jadi goyah karena ada rasa tidak percaya diri. Pada akhirnya, justru pikiran negatif yang merendahkan diri tersebutlah yang membuat individu enggan berusaha dan jadi alasan kegagalan. Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal dengan self-sabotaging.

Self-sabotaging merupakan perilaku secara sengaja yang merendahkan progres dan mencegah diri sendiri dari mencapai tujuan. Hal ini berarti individu menjadi penghalang bagi kesuksesan dirinya. Meskipun terdengar aneh, tetapi hal ini dapat saja benar-benar terjadi. Bahkan orang yang melakukannya pun bisa saja tidak menyadari. Alasan dari perilaku ini sendiri bisa jadi masalah di masa kecil hingga efek masalah dalam hubungan. Selain itu, harga diri yang rendah, cara mengatasi masalah, atau disonansi kognitif juga dapat menjadi penyebab seseorang melakukan self-sabotaging.

Manifestasi perilaku ini sendiri dapat berupa prokrastinasi, perfeksionisme, dan self-medication.  Pertama, prokrastinasi atau yang lebih dikenal dengan kebiasaan menunda bisa menjadi salah satu tanda bahwa individu tidak siap karena takut akan hasil dari suatu hal yang mengecewakan. Selanjutnya, perfeksionisme, ketika individu mematok standar yang terlalu tinggi atau sulit dicapai tentu akan menghambat kesuksesan. Hal ini bukan karena standar yang ditetapkan itu sendiri, melainkan ketika dalam perjalanan terdapat sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi. Orang dengan perfeksionisme cenderung merasakan kesedihan yang luar biasa bahkan hingga depresi. Terakhir, self-medication, hal ini yang mungkin akan terasa paling ekstrem, ketika individu terlalu dalam larut dalam perang batin antara keinginan menggapai suaatu hal dan kepercayaan bahwa dirinya tidak mampu, individu bisa saja berakhir menggunakan obat-obatan terlarang, alkohol, atau bahkan self-injury.

Lalu, bagaimana jika telah terjebak dalam perilaku ini? Dari uraian sebelumnya, tentu hal ini harus segera dihentikan. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghentikan perilaku ini yaitu: Pertama, cari tahu penyebab perilaku itu sendiri; Kedua, berhenti melakukan prokrastinasi; Ketiga, berhenti hanya melihat pada target utama, mulailah perhatikan progres yang telah digapai; Keempat, berhenti berpikir secara perfeksionis, tentukan tujuan yang sekiranya dapat dicapai dengan kemampuan diri. Jika anda merasa tidak mampu menyelesaikan masalah ini sendiri, segera datang ke tenaga profesional untuk meminta bantuan.

Penulis: MR-07

Editor: KP-12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *