Istilah senior-junior pada kalangan mahasiswa menjadi hal yang umum di kampus. Alih-alih merekatkan hubungan antarangkatan mahasiswa, istilah tersebut justru menimbulkan jurang pemisah antara senior dan junior. Ajang senioritas ini merujuk pada sikap atau perilaku di mana mahasiswa yang lebih senior dianggap memiliki hak istimewa, kekuasaan, atau dominasi atas mahasiswa yang lebih junior.

Dalam beberapa waktu yang lalu telah ditemukan kasus kekerasan dan tindakan tidak wajar senior kepada junior. Kasus-kasus tersebut banyak didapati pada masa ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus) berlangsung. Bentuk-bentuk tindakan senioritas cukup beragam. Seperti memberikan perlakuan preferensial kepada sesama mahasiswa senior, merendahkan secara verbal, membentak-bentak, bahkan melakukan kekerasan fisik. Kemudian, muncullah pertanyaan “Apakah senioritas masih relevan untuk saat ini?” Rasa-rasanya jawaban dari pertanyaan tersebut sudah dapat diketahui bahwa senioritas sudah tidaklah taksim escort relevan.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa hingga saat ini banyak organisasi mahasiswa di kampus yang masih mengadopsi struktur hierarki berdasarkan senioritas. Budaya tersebut masih dipertahankan dengan berbagai alasan, seperti ingin selalu dihargai, dihormati, dan dijunjung oleh para junior. Alasan tetap dipertahankannya budaya tersebut sangat tidak menjawab kebutuhan mahasiswa baru pada ruang gerak dan tanggung jawab yang digembar-gemborkan oleh pelaku senioritas.

Perlakuan tidak masuk akal dalam konteks senioritas di atas sudah seharusnya dihentikan. Hierarki yang sengaja diciptakan justru disalahgunakan untuk menakut-nakuti mahasiswa baru dan tidak jarang menimbulkan trauma bagi mereka. Trauma yang ditimbulkan akibat senioritas yang semena-mena dianggap sepele dan sering dikatakan sebagai “mental lemah” oleh para pelakunya.

Membangun budaya tanggung jawab dan rasa menghormati satu sama lain tidak hanya melalui senioritas. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan ruang yang inklusif bagi seluruh mahasiswa, baik senior maupun junior. Perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat untuk membangun ruang belajar yang kolaboratif, inklusif, dan adil bagi seluruh mahasiswanya. Sebab, praktik senioritas akan menciptakan kesenjangan dan perlakuan tidak adil dalam proses perkembangan belajar mahasiswa di kampus. Sejatinya memang budaya tersebut harus bisa diputus agar prinsip kesetaraan menjangkau seluruh penghuni kampus.

Penulis : Savina Rizky Hamida

Editor : Dimas Septo Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *