“Jauh kak, bunda nggak kasih izin.”
Masih dalam musim kenaikan kelas, saya sempat berbincang dengan adik kelas saya yang naik kelas 12 mengenai pilihan universitas. Seperti kebanyakan mahasiswa Universitas Airlangga lainnya, saya menawarkan Unair sebagai pilihan. Namun sayang, tawaran saya Ia tolak mentah-mentah dengan jawaban tadi. Lucunya, Ia menimpali saya dengan pertanyaan sejuta umat, “Unair itu jatuhnya underrated nggak sih kak?”
Kata-kata Unair dan underrated tidak jarang dijodohkan, terutama di sosial media. Tidak jarang pula, pernyataan tersebut berujung diskusi panas karena salah kaprah pengertian underrated. Padahal, underrated itu maksudnya menerima rate atau ulasan yang lebih rendah dari keadaan aslinya, seolah “diremehkan”. Singkatnya, Unair dinilai kerap lewat dari lirikan mata para pendaftar PTN. Meski demikian, tidak sedikit yang mengklaim bahwa untuk mendapatkan satu bangku di Unair rasanya seperti melawan şirinevler escort dunia.
Dari sudut pandang mahasiswa asal luar provinsi, saya tidak merasa mengalami hal tersebut. Malah justru kebanyakan bingung kenapa saya memilih Unair ketimbang beberapa perguruan tinggi yang tak kalah bergengsi dan lebih dekat dengan domisili saya. Hal ini secara tidak langsung membuktikan bahwa daya tarik PTN seringkali bergantung pada domisili pendaftarnya. Mengambil sampel terdekat, berdasarkan data domisili mahasiswa angkatan 2022 di fakultas saya, mahasiswa dengan domisili asal Provinsi Jawa Timur mendominasi dengan angka fantastis 71%, dimana 43% di antaranya memiliki alamat Surabaya.
Namun, kata “jauh” masih kurang memuaskan untuk saya. Kebetulan, beberapa hari lalu lewat di lini masa sosial media saya pertanyaan bernada sama, “Kenapa pada jarang pilih mandiri Unair?” pertanyaan yang dilayangkan melalui media sosial TikTok itu ditanggapi secara anonim melalui akun base populer @sbmptnfess dengan jawaban cekak aos (langsung pada inti) “Jauh, panas, mahal.” Kiriman yang diunggah pada tanggal 7 Juli 2023 tersebut mendapatkan 1,1 juta tayangan dan lebih dari seribu komentar. Berikut merupakan beberapa jawaban yang saya temukan, beserta pendapat saya yang didukung oleh beberapa data.
Panas dan Biaya Hidup Mahal
Ini adalah jawaban paling umum yang saya temui. Jawaban teratas yang tampil dalam utas ini adalah bahwa Surabaya panas. Tapi tak sedikit pula orang yang menampik hal ini sebagai pertimbangan relevan dengan “kamu itu kuliah nyari kualitas apa nyari vibes?” Masalah panas, saya tidak terlalu bisa berkomentar. Bagi saya yang selama ini tinggal di pantai utara, panas Surabaya tak jauh beda dari rumah saya, hanya sedikit lebih menyengat. Mengenai biaya hidup, saya tidak terlalu setuju. Mengutip salah satu pengguna Twitter yang turut berdiskusi perkara ini, masih banyak tempat makan dan toko kebutuhan sehari-hari yang murah, utamanya di sekitar kampus Unair. Bahkan seorang pengguna Twitter turut menambahkan bahwa Surabaya akan jadi mahal jika tiap hari makan di pusat perbelanjaan akbarnya, seperti Tunjungan Plaza, Galaxy Mall, apalagi Pakuwon City.
Kurang promosi
“(Unair) bagus, tapi kurang promosi” Tulis salah satu pengguna Twitter dalam merespon tanggapan seorang mahasiswa Unair dalam utas yang sama. Saya tidak menganggap ini hal yang benar. Bila promosi Unair terhitung minim, lantas apa maksud tujuan dari 1001 banner Unair yang sudah jadi ciri khas kesayangan para Ksatria Airlangga kalau bukan promosi? Saking cintanya dengan media promosi banner, beberapa pekan lalu, saat Unair resmi mendapatkan peringkat 345 sedunia berdasarkan penilaian dari QS World University Ranking, tak sedikit mahasiswa yang merespon dengan gurauan bahwa sebentar lagi Surabaya akan dipenuhi dengan banner peringkat baru Unair. Hal itu dibuktikan dengan unggahan yang dikirimkan secara anonim melalui base Twitter @airlanggafess pada tanggal 29 Juni 2023, satu hari setelah pengumuman kenaikan peringkat Unair di Instagram @univ_airlangga. Meski menjadi identitas, perlu diakui bahwa media banner memiliki jangkauan wilayah yang amat terbatas. Untuk melengkapi, promosi di sosial media Unair sebetulnya sudah lebih dari sekedar baik. Beberapa konten kreatif yang diunggah oleh Instagram resmi @univ_airlangga menurut saya adalah upaya yang sangat baik demi menggaet perhatian publik. Meski begitu, kita perlu menelan kenyataan bahwa berdasarkan angka pengikut Instagram, Unair masih kalah jauh dengan beberapa PTN yang peringkatnya tak jauh beda.
Daya Tampung Sedikit
Saya membandingkan daya tampung dari lima program studi (prodi) dengan peminat tinggi (kedokteran, ilmu hukum, psikologi, manajemen, dan farmasi) Unair dengan PTN nomor satu dan dua se-Indonesia, UI dan UGM. Hasilnya, saya merasa bahwa pernyataan ini tidak valid. Berdasarkan data yang dilansir dari situs resmi dua Universitas tersebut, di kelima prodi yang saya bandingkan, Unair hanya kalah daya tampung prodi Ilmu Hukum dengan Universitas Indonesia. Untuk empat prodi lainnya, Unair memiliki daya tampung tertinggi. Di prodi kedokteran misalnya, UI memiliki daya tampung sebesar 150 mahasiswa, UGM sebanyak 180, sedangkan Unair 300 mahasiswa. Sebagai mahasiswa di prodi tersebut, saya bisa mengaminkan bahwa angka 300 melalui jalur reguler (non-kelas internasional) tersebut benar adanya. Setelah mengontak teman saya di dua universitas tersebut, dan jumlah mahasiswa satu angkatan mereka memang tidak meleset jauh dari angka yang saya dapatkan di website.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada PTN dengan daya tampung yang lebih masif daripada Unair. Sebut saja Universitas Brawijaya (UB). Berdasarkan jawaban di utas Twitter yang sama, UB memiliki daya tampung 605 mahasiswa di prodi hukum, sedangkan Unair, seperti hanya membuka kesempatan untuk 350 mahasiswa baru. Dari kelima prodi yang saya bandingkan, daya tampung terkecil UB dibanding Unair ada pada prodi farmasi dan kedokteran, dengan 150 : 278 untuk prodi farmasi dan 275 : 300 untuk prodi kedokteran. Sisanya, UB memiliki daya tampung tertinggi dibanding tiga universitas tadi.
Mahal
Mengutip balasan utas yang sama, “Tapi Unair mahal di awal doang tau. Kalo diitung sampe lulus mah ya murahan Unair, cuma emang enggak semua orang punya uang segede itu buat bayar saat itu juga.” Balasan tersebut menerima lebih dari dua ratus like. Dari kedua alasan yang saya sebutkan sebelumnya, saya rasa ini alasan yang paling relevan, terutama masalah uang pangkal mandiri. Apalagi UI dan UGM merupakan dua universitas yang memiliki jalur masuk mandiri tanpa uang pangkal. Di UI sendiri, uang pangkal hanya ada untuk SIMAK paralel, yang mana hanya dibuka untuk prodi tertentu saja. Uang pangkal SIMAK paralel juga berbanding fantastis dengan uang pangkal minimal mandiri Unair yang dicantumkan di situs resmi Seleksi Mandiri Universitas Airlangga (SMUA). Misalnya, uang pangkal SIMAK paralel untuk prodi Farmasi adalah sebesar 20 juta rupiah, sedangkan uang pangkal minimal untuk farmasi di Universitas Airlangga mencapai angka 60 juta rupiah. Lain pula dengan UGM, yang mana tidak semua mahasiswa diterima membayarkan sumbangan institusi. Di UGM, mahasiswa jalur ujian mandiri UM-CBT UGM yang perlu membayarkan sumbangan institusi sebesar 20 juta untuk rumpun sosial humaniora dan 30 juta untuk rumpun saintek hanyalah mahasiswa dengan golongan UKT tertinggi (kemampuan ekonomi baik).
Meski begitu, kembali lagi pada komentar yang saya garis bawahi. Tidak sedikit orang yang menganggap Unair tidak semahal itu apabila dikalkulasikan dengan UKT hingga lulus. Kendati begitu, saya rasa keberadaan uang pangkal dengan nominal fantastis yang harus dibayar di muka dengan biaya keseluruhan pendidikan yang dibayar tiap semester tidak bisa dibandingkan apple to apple. Tapi kembali lagi, masalah mahal atau murah adalah sesuatu yang subjektif.
Saya menarik kesimpulan bahwa Unair sebetulnya tidak se-underrated itu. Tapi tetap kita perlu menerima bahwa sama seperti wilayah yang bisa dijangkau media promosi konvensional, ada beberapa hati yang gagal dijamah segala upaya promosi, mulai dari rekomendasi mahasiswa, sosial media, bahkan banner angka cantik 345. Meski memang kerap terlewat dari pembicaraan masyarakat mengenai PTN, Unair tetap eksis di pasarnya sendiri. Dengan segala prestasi dan keunggulan yang kian meningkat serta upaya pembenahan yang terus berlangsung, semoga hari dimana almamater tercinta mendapatkan apresiasi yang layak dari publik segera datang. Mengutip lagu Hindia, esok mungkin kita sampai (peringkat satu nasional).
Penulis: Raisa Saffanahati (Kontributor)
Editor: Rumaisya Milhan