Sumber: FreepikSumber: Freepik

Grade is just a number, but knowledge is forever. 

Bulan-bulan ujian, baik ujian tengah semester maupun akhir semester, menjadi waktu penentu seberapa paham mahasiswa atas materi yang telah disampaikan dari waktu semester yang telah berjalan. Sebagian mahasiswa berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tersebut. Persiapan yang dijalani bermacam-macam: mulai dari belajar sendiri, belajar berkelompok, tutor bersama kating, memanfaatkan ruang belajar perpustakaan, dan lain-lain. Hal itu dilakukan demi hasil ujian yang memuaskan. Namun tidak menutup kemungkinan ada juga mahasiswa yang hanya sekadar mempersiapkan diri tanpa belajar materi.

Kita tahu bahwa menyontek jadi fenomena yang tidak jauh dari hal-hal mengenai ujian. Pasalnya, istilah ini sudah sering kita dengar bahkan sejak kita sekolah dasar. Tidak hanya terjadi pada siswa di bangku sekolah menengah saja, tapi juga terjadi di kalangan mahasiswa. 

Metode menyontek yang dilakukan bermacam-macam, ada yang mencatat di selembar kertas atau ada juga yang memanfaatkan teknologi dengan membawa smartphone ke ruang ujian dan secara diam-diam menggunakannya untuk searching jawaban. Semua itu dilakukan agar mendapatkan nilai yang tinggi. Padahal perilaku ini sangat amat bertentangan dari tujuan dan fungsi adanya pendidikan sendiri, sebagaimana yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Tujuan dan Fungsi Pendidikan Nasional yaitu “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.” 

Akan tetapi, realita yang terjadi sangat berbanding terbalik. Maka dari itu, apakah menyontek ini sudah dianggap menjadi bagian yang alami dari kalangan pelajar dan mahasiswa?

Pemikiran mengenai nilai lebih dijunjung dibanding kejujuran menjadi salah satu alasan yang membuat para pelajar dan mahasiswa melakukan perilaku menyontek. Memang harus kita akui juga bahwa hampir sebagian dari kita sejak di sekolah dasar sudah diwajarkan untuk melihat hasil dibandingkan prosesnya. Kita lebih sering ditanya “berapa nilaimu?” dibandingkan “bagian mana yang sulit?” ketika hasil ujian keluar. Maka, tak heran apabila kebiasaan mementingkan hasil sampai terbawa hingga menjadi mahasiswa. Tak heran juga budaya pelajar dan mahasiswa lebih berorientasi mencari cara yang mudah dibandingkan cara yang benar. Namun, apakah hal ini harus terus menerus diwajarkan? Apakah kita harus membiarkan orang-orang atau bahkan diri kita menjadikan perilaku menyontek ini sebagai budaya dan fenomena yang kerap kali diabaikan? 

Pembohong saja pasti tidak ingin dibohongi. Penipu ulung sekalipun juga tak senang bila ditipu. Maka dari itu, mengapa kita tidak berusaha untuk tetap jujur sekalipun itu menunjukkan kelemahan kita? Ada kalimat yang mengatakan bahwa, “Grade is just a number, but knowledge is forever.” Memang kita sebagai orang yang dianggap pintar berdasarkan angka boleh khawatir akan nilai. Namun, yang perlu dikhawatirkan bukankah nilai yang besar tetapi ilmunya tidak sama besar? 

Perilaku menyontek ini memang tidak mudah untuk dihilangkan apalagi hal ini sudah menjadi budaya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Semakin maju zaman, semakin maju pendidikan, maka akan semakin berkembang juga metode-metode dalam menyontek yang dibuat. Yang harus dilakukan memang bukan perubahan atas budayanya, tapi perubahan akan pola pikir diri kita masing-masing. 

Maka, pertanyaan yang kini harus ditanyakan, lebih milih nilai mulus atau jujur? 

Bagaimana menurutmu? 

Penulis: Mega Putri Mahadewi

Editor: Daffa Amelia Yasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *