Sumber: ladiestory.idSumber: ladiestory.id

Indah rasanya, melihat seberang jalan sana ada anak muda membantu bapak tua mendorong motornya yang kehabisan bensin. Pun secarik senyum ibu penjual koran yang menerima uang lebihan. Bisa dibayangkan betapa bahagianya orang-orang yang “dibahagiakan”. Namun, terbayangkah di benak anda bahwa kedua subyek yang membantu juga memiliki kebahagiaan yang lebih? Panggil mereka: filantropis.

Filantropi adalah sifat seorang individu bercinta kasih terhadap individu yang lain. Seorang filantropis akan menemukan kebahagiaan tersendiri ketika bisa membantu orang lain, dengan atau tanpa didampingi timbal balik yang menguntungkan; ikhlas. Dua gambaran di atas menegaskan bahwa untuk menjadi filantropis, kita tidak harus berkaca pada George Soros yang telah menyumbangkan lebih dari 32 miliar USD (448 triliun rupiah) melalui Yayasan Open Society, atau Jeff Bezos pengusaha masyhur “pemegang hulu amazon” yang telah menyumbangkan hartanya lebih dari 29,8 triliun rupiah, serta filantropis “kelewat kaya” lainnya. Hal kecil nan sederhana dalam membantu orang lain juga bisa membuat kita merasakan kebahagiaan yang sama dengan para dermawan dunia. Kita tak hanya bisa menikmati kebahagiaan itu sendiri, melainkan juga menyebarkan kebahagiaan itu kepada individu lain. Berbagi kebahagiaan bukan tentang kuantitas (sebab setiap orang memiliki keterbatasan masing-masing) namun tentang kapasitas, yang berarti upaya untuk memaksimalkan potensi-potensi kebaikan yang terkandung dalam diri kita.

Aksi-aksi filantropi dalam rangka meringankan dampak tragedi atau bencana alam seperti misalnya gempa Turki dan tsunami Aceh 2004 perlu untuk segera diterjunkan sebab yang dihadapi ialah kondisi yang sangat kritis dan darurat. Bencana yang demikian terjadi dalam rentang waktu cukup singkat, namun memiliki impact yang signifikan dibuktikan dengan tingginya angka kematian dan dampak pada persoalan ekonomi hingga bertahun-tahun setelahnya. Bentuk kepedulian yang dapat diberikan meliputi; makanan, air bersih, pakaian, hingga MCK darurat, agar bantuan dapat langsung dirasakan oleh para korban bencana. Lantas, bukan berarti bantuan yang tidak dapat dirasakan secara langsung merupakan bantuan yang sia–sia, kedua skema bantuan ini menempati perannya masing-masing. 

Pada kasus yang mengharuskan kita berhadapan langsung misalnya dengan masalah pendidikan, kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, dan masalah “mengakar” lainnya, skema bantuan tidak langsung diperlukan disini, sebab berkaitan dengan long–term effect atau efek jangka panjang. Model bantuan yang dapat diberikan misalnya pembebasan biaya pendidikan. Pemberian beasiswa semacam ini diharapkan tidak hanya habis untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan “di permukaan”, melainkan ada long-term effect yang harus dicapai yakni kewajiban para penerima bantuan untuk berkontribusi pada pemberi bantuan untuk menciptakan taraf pendidikan yang lebih baik. Hal serupa juga dapat diterapkan pada upaya pengentasan kemiskinan. Pemberian bantuan seyogianya tak hanya mampu memenuhi kebutuhan sandang pangan dalam waktu singkat melainkan diwujudkan dalam bentuk yang berkelanjutan untuk bisa menopang hajat hidup orang banyak (sustainability), misalnya menciptakan wisata kuliner desa yang dikelola masyarakat sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan. 

Menjadi filantropis merupakan kebaikan. Lebih baik lagi jika menjadi filantropis yang kritis, bijak, dan bersifat problem-solver. Juga, filantropis yang bisa memposisikan secara cermat                    tentang bagaimana bentuk dan kebermanfaatan dari kebaikannya, apakah berupa kebaikan short-term effect ataukah yang mengandung long–term effect. Mari menjamah dengan hati, mari berfikir disertai nurani, mari memupuk filantropi.

Penulis:  R.W. Elang

Editor: Arizqa Novi Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *