Dewasa ini psikologi sering dijadikan konsen oleh khalayak ramai. Self – Awareness atau kesadaran diri juga mulai dijamah muda – mudi sebagai media mencari tahu jalan mana atau cara terbaik apa supaya mereka bisa berkembang mencapai atau bahkan melebihi potensi diri masing – masin g.
Sejauh berjalanya muda – mudi yang baru mulai mengenal apa itu tipe kepribadian berdasarkan tes di internet, mereka bisa mulai mendapat data tentang tipe kepribadian mulai dari yang tidak suka merencanakan suatu rencana secara rinci sampai tidak terdesain untuk menjadi pribadi yang mudah untuk memahami perasaan orang lain. Tanpa disandingi dengan ilmu psikologi yang mumpuni dengan hanya berpatok pada hasil yang muncul pada tes tersebut, hanya akan mengkotak – kotakan individu pada suatu kesempitan tertentu. Padahal kenyataannya manusia lebih kompleks dari itu.
Jika seseorang memiliki fix – mindset, mereka akan menelan utuh – utuh kelemahan yang mereka temukan pada tes tersebut. Mereka percaya pada diri mereka sendiri bahwa hal tersebut melekat pada pribadi mereka. Hal tersebut akan menjadikan mereka sebagai orang yang terkurung dalam sangkar bukan seorang infinite learner yang ingin terus berkembang.
Misalnya, seseorang dengan fix-mindset terdesain sebagai seorang introvert. Nantinya ketika ia diharuskan berhadapan pada suatu tanggung jawab yang mengharuskan mereka berkomunikasi dengan orang banyak, dia hanya akan mengatakan “ aku nggak bisa, kan aku Introvert “, sebuah sesat pikir yang sering saya jumpai akhir – akhir ini. Seorang introvert padahal bisa melakukan hal tersebut dengan begitu baik. Ia juga memiliki potensi yang sama dengan apa yang bisa dilakukan oleh extrovert, tentunya dengan metode – metode dan juga pendekatan yang berbeda. Bukan malah menjadikan itu sebagai dalih dan membuat sangkar semu yang membuat diri mereka terkurung dalam takdir yang salah tafsir.
Membuat naskah dengan rinci, berlatih berbicara didepan kaca, pula didukung dengan gestur yang memadai adalah sedikit contoh dari apa yang bisa seorang introvert praktekkan untuk bisa berbicara didepan umum. Ada juga extrovert yang bisa menghafal poin – poin, mengumpulkan banyak bahan tambahan, serta mengobservasi atmosfer atas panggung yang diikuti kemampuan untuk melakukan improve dan lain sebagainya.
Jangan jadikan nasibmu sekarang sebagai sebuah batasan, coba cari tahu tentang siapa dirimu lebih jauh. Tidak ada yang lebih memahamimu selain dirimu. Coba untuk tidak berpatok kepada apa yang pihak lain katakan, ingat dirimu adalah orang yang paling tahu tentang dirimu. Jangan lupa untuk mengosongkan dulu gelasmu sebelum kau mencari pengetahuan tambahan, sesungguhnya mereka yang sok tahu lebih merusak daripada orang yang sama sekali tidak tahu.
Penulis : R.W. Elang
Editor : Ina Shofiyana
