Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena flexing menjadi sangat populer terlebih pada platform sosial media. Istilah flexing umumnya mengacu pada tindakan memamerkan kekayaan, harta benda, atau penampilan fisik. Namun, banyak juga yang berpendapat bahwa flexing dapat menjadi sebuah cara untuk melakukan apresiasi diri jika dilakukan dengan cara yang sehat dan positif. Misalnya, seseorang yang memiliki tubuh yang kuat mungkin merasa bangga dan percaya diri ketika berbagi foto atau video latihan di gym. Hal tersebut tentu dapat membantu meningkatkan rasa kepercayaan diri orang tersebut.
Sebagai apresiasi terhadap pencapaian diri, flexing dapat memberikan kebanggan dan motivasi untuk terus berusaha dan berkembang. Beberapa orang juga melakukan flexing sebagai upaya memperkuat citra atau reputasi mereka di hadapan orang lain. Namun, jika flexing dilakukan secara berlebihan atau semata-mata untuk mencari validasi sebagai pengakuan untuk merasa lebih baik daripada orang lain, itu dapat menjadi masalah. Hal tersebut dapat menciptakan kebutuhan untuk terus-menerus mempertahankan citra yang sempurna dan bisa mengakibatkan ketidakseimbangan emosional bahkan finansial yang serius. Terlalu banyak memamerkan diri pada ranah sosial media yang berhubungan langsung dengan orang lain dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman atau bahkan merugikan reputasi seseorang.
Dikutip dari kampus.republika.co.id, flexing juga dapat berdampak pada arah impulsif buying. Seseorang akan menjadi sangat impulsif untuk membeli barang-barang branded hanya untuk flexing. Apabila flexing ditujukan untuk mengatasi self esteem rendah, maka hal tersebut hanya bersifat semu dan tidak berujung serta bersifat adiktif. Flexing justru menghalangi seseorang untuk dapat mengatasi self esteem secara efektif.
Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa mencari validasi dari orang lain bukanlah suatu yang buruk atau salah. setiap orang memiliki kebutuhan untuk merasa dihargai dan diakui, terkadang memperoleh validasi dari orang lain bisa menjadi bagian yang sehat dari interaksi sosial. Namun, jika seseorang terus-menerus mencari validasi dari orang lain dan tidak mampu merasa puas dengan diri mereka sendiri, itu bisa menjadi masalah yang perlu ditangani lebih lanjut. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan motivasi di balik melakukan flexing serta perlu dievaluasi terlebih dahulu apakah itu sudah dilakukan dengan cara yang sehat dan positif. Memiliki rasa percaya diri yang sehat dan bangga dengan diri sendiri penting, namun hal tersebut tidak dapat dilihat dari bagaimana kita membandingkan diri kita dengan orang lain atau seberapa banyak uang atau materi yang kita miliki.
Penulis : Ameyliarti Bunga Lestari
Editor : Ina Shofiyana
