(Sumber gambar: Tirto.id)(Sumber gambar: Tirto.id)

Berdasarkan jajak pendapat yang dihimpun LPM Mercusuar mengenai pembelajaran daring, diperoleh hasil sebanyak 62,7% mahasiswa mengaku kesulitan memahami materi selama pembelajaran daring, namun, sebanyak 82,6% justru mengaku nilainya mengalami peningkatan.

Berangkat dari hasil survei tersebut, LPM Mercusuar menelisik terkait alasan di baliknya. Padahal, umumnya, sulitnya menerima materi kuliah justru menjadi salah satu kendala dan hambatan tersendiri mengingat indikator penilaian dilihat dari hasil pengerjaan tugas, hasil  Ujian (Tengah Semester/Akhir Semester) yang seluruhnya membutuhkan pemahaman komprehensif terhadap materi yang disampaikan selama perkuliahan.

Rudi Cahyono, M.Psi., Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, menjelaskan beberapa hal terkait indikator penilaian mahasiswa selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) serta kesehatan mental mahasiswa yang menjadi concern dalam penilaian selama pandemi.

Menurutnya, selama pandemi tidak ada perubahan indikator penilaian mahasiswa, tetapi yang berbeda adalah mekanisme penilaian yang disesuaikan dengan situasi yang ada saat ini, misalnya, indikator terampil pada mata kuliah praktik yang disesuaikan dengan kondisi mahasiswa itu sendiri.

“Kami tetap selalu mengupayakan untuk tidak ada perbedaan indikator capaian. Namun jika yang dimaksud adalah kendala yang mengarah kepada indikator tersebut, pasti ada. Misalnya tentang kendala untuk indikator terampil (penguasaan praktik),” jelas Rudi.

Mata kuliah yang seringkali mengalami kendala disebut Rudi yaitu yang disertai praktikum. Ia mengatakan persoalan itu akan tetap diatasi dengan cara berbeda.

“Prinsipnya, kita tetap berupaya tidak mengubah indikator. Hanya cara/mekanisme penilaian yang disesuaikan. Sekalipun ada perubahan di indikator, mungkin pada cara pencapaian indikatornya” ujarnya.

Perubahan mekanisme pencapaian indikator saat ini, menurut Rudi lebih disesuaikan dengan keadaan mahasiswa, sehingga tidak memberatkan. Sedangkan, bagi dosen sendiri, perlu memutar otak untuk mengupayakan ketercapaian indikator penilaian dengan sistem yang baru.

“Dampak bagi dosen, ya kami perlu penyesuaian ekstra keras untuk tetap mengupayakan ketercapaian indikator. Tapi ini membuat para dosen belajar banyak. Ini kesempatan yang bagus untuk mengembangkan berbagai metode penilaian” tambahnya.

Selain itu, dalam mekanisme pembelajaran daring, kesehatan mental mahasiswa perlu menjadi perhatian. Dosen berperan dalam memahami kesehatan mental mahasiswa selama pandemi, yaitu mengutamakan sikap harus mau terbuka dan mendengarkan mahasiswa terkait perkembangan tugas dan keluhan selama perkuliahan. Menurut Rudi, komunikasi antara dosen dan mahasiswa perlu dijaga.

“Kontak ini yang tetap harus dijaga, karena dengan demikian, kami (dosen) tidak hanya memantau perkembangan pengerjaan tugas, tetapi juga memantau respon atau pengalaman mereka sehubungan dengan tugas, termasuk tentang keluhan yang mempengaruhi kesehatan mental” pungkasnya.

Penulis: Diyanah Shabitah
Editor: Risma D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *