Sumber: Suku Mentawai/Pinterest

Buku-buku sejarah telah menggariskan bagaimana selama ratusan tahun kita sebagai masyarakat telah dipaksa untuk berada di bawah tapak sepatu manusia-manusia bengis yang membanggakan jati diri mereka sebagai kaum berkulit putih. Tiada boleh dilupakan bahwa bendera kolonialisme yang tertancap dalam air muka masyarakat adat telah membangkitkan semangat pergerakan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan oleh bangsa-bangsa Barat. Perjuangan ini kemudian diikuti oleh seluruh komponen bangsa untuk dapat menggenggam nama Indonesia dalam kebanggaan hati sanubari mereka.

Perlu kita syukuri bahwa perjuangan tersebut telah mencapai titik yang kita dapat katakan sebagai sebuah kemerdekaan yang diakui secara de Facto dan de Jure. Kendati demikian, dewasa ini perlu kita renungkan bersama, mungkinkah sisa-sisa kolonialisme masih tertanam dalam jiwa raga bangsa kita ini? Ataukah kini ada sosok bengis yang menjadi pewaris pemikiran penjajah? Benarkah kita yang memiliki hak atas bumi manusia kita sendiri?

Kritik keras atas masyarakat adat ini dinarasikan melalui “Pemutaran Film dan Diskusi” yang diselenggarakan oleh komunitas Anthfluence dengan tajuk Mentawai: Souls of The Forest. Film ini digarap oleh seorang penulis dan peneliti dari Jerman bernama Joo Peter yang mendedikasikan waktunya sepanjang tahun 2022 untuk melakukan ekspedisi ke pedalaman masyarakat Mentawai di Pulau Siberut, sekitar 10 jam dari Padang, Sumatera Barat.

Film Mentawai: Souls of The Forest menitikberatkan kepada kehidupan masyarakat Mentawai yang begitu erat dengan kepemilikan alam dan hutan mereka. Masyarakat Mentawai percaya bahwa semua hal yang ada dalam kehidupan ini memiliki sebuah “jiwa” dan “roh” yang membersamai kehidupan setiap makhluk yang ada di sana. Alam memiliki hubungan timbal balik dengan manusia di mana alam adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia, begitu juga manusia yang dimiliki oleh alam. Hubungan ini menciptakan kebutuhan mereka untuk menjaga hutan-hutan yang telah menyediakan berbagai kebutuhan secara alami, mulai dari obat-obatan hingga racun untuk memperkuat senjata berburu. 

Selama waktu yang lama, masyarakat Mentawai dapat hidup dengan hukum alam mereka sendiri tanpa terusik dan mengusik yang lain, hingga waktu manusia-manusia yang ada di Barat sana mulai mencari sesuatu untuk dapat mereka kuasai. Kebudayaan menjadi sesuatu yang dianggap harus dibayarkan untuk memenuhi nafsu para kulit putih dalam menyelaraskan pemikiran mereka. Kompromi menjadi hal yang haram dalam misi menghancurkan kepemilikan budaya masyarakat Mentawai ini. Tato yang menjadi budaya mereka dipaksa untuk dihilangkan, bahasa adat yang secara nyaman mereka gunakan mulai dipaksa untuk menjadi hal yang ilegal, baju-baju dipaksakan untuk terus menempel pada tubuh alami mereka, dan rambut panjang sudah seharusnya dipotong dari kepala mereka. Jelas orang-orang dari Barat ini teramat ambisius untuk menjamah dan mengikis kebudayaan yang melekat pada masyarakat Mentawai, termasuk juga dalam hal pemikiran.

Empirisme dan rasionalisme yang menjadi pegangan teguh para manusia Barat pada waktu itu bertentangan dengan kepercayaan masyarakat Mentawai selama ini—kepercayaan akan roh dan alam. Pemikiran yang melibatkan hubungan timbal-balik manusia dengan alam ini, tanpa perasaan, ditolak oleh para penjajah, yang pada akhirnya berinvestasi dalam penghancuran kebudayaan di masa setelahnya.

Lantas apakah setelah penjajahan dari Barat diselesaikan dengan Proklamasi Kemerdekaan, masyarakat Mentawai telah mendapat kemerdekaan atas kepemilikan alam dan budayanya? Amat disayangkan bahwa tiada sepenuhnya hal baik yang dapat diucapkan kepadanya. Wajah kolonialisme Barat kini telah dikonversi ke dalam wujud baru dengan dalih kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, dengan amat senang memberantas lahan-lahan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit yang dianggap menguntungkan fondasi keuangan negara. Sudah berapa banyak lahan di daratan Indonesia yang dirampas dan dijadikan lahan sawit? Terutama dapat kita lihat di daerah Sumatera, Kalimantan, dan Papua yang sebagian besar diantaranya telah dibabat habis meninggalkan alam yang diwariskan sejak lama.

Dapat terlihat jelas berbagai dampak yang tercipta dari penanaman sawit dalam menghilangkan alam dan hutan. Sebutlah bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi, spesies-spesies yang kehilangan habitat dan makanan sehingga akhirnya berpotensi untuk punah. Jelas tidak ada hal baik dari situasi ini, terutama terhadap kondisi alam yang mulai diambil alih oleh tangan yang merasa memiliki kuasa terhadapnya.

Selain penjajahan dalam bentuk lahan, terdapat juga penjajahan dalam bentuk pangan atau gastro-kolonialisme yang dapat diartikan sebagai penjajahan terhadap pola makan masyarakat lokal. Selain sawit, lahan-lahan yang ada juga ditanami dengan sawah berisi padi dan menjadikannya nasi. Adanya penyeragaman pangan ini menjadi salah satu bentuk usaha peniadaan kebudayaan masyarakat lokal—masyarakat Mentawai—yang terbiasa dalam memakan sagu sebagai makanan pokok mereka. Jelas kita tidak dapat memaksakan semua masyarakat Indonesia untuk memakan nasi dikarenakan itu adalah makanan yang diproduksi secara besar di Indonesia. 

Penulis sendiri mendukung upaya mempertahankan berbagai lahan dan budaya yang telah melekat di Indonesia karena kebudayaan juga mencerminkan jati diri kita sebagai warga negara yang multikultural. Apabila usaha pemusnahan lahan dan kebudayaan ini diteruskan, maka kita hanya akan meniadakan konsep multikultural itu sehingga hanya akan menjadi bagian dari sejarah yang pernah ada. Jika multikulturalisme tidak lagi ada, maka tiada lagi yang dapat menjadi jati diri bangsa Indonesia di masa mendatang. 

Oleh karena itu, marilah kita menyatukan diri menjadi suatu kekuatan besar untuk membumihanguskan kejahatan yang ada dalam konsep neo-kolonialisme ini. Janganlah mau diobrak-abrik oleh tangan-tangan yang telah bersumpah di bawah kitab sucinya, lalu berbuat semaunya saja. Sebagai manusia muda, kita memiliki kecukupan untuk melakukan perubahan dan peduli dengan kepahitan yang dirasakan oleh masyarakat Mentawai.

Sebagai penutup, penulis ingin mengutip salah satu kalimat yang dilontarkan oleh teman-teman dalam sesi diskusi kemarin, “bahwa kenyamanan yang kita dapat hari ini berasal dari ketertindasan masyarakat adat yang tidak mengerti mengapa mereka selalu dipaksa untuk hilang”.

Penulis: Damar Wicaksono

Editor: M. Nafis Wirasaputra 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *