Sumber Gambar: Tim LPM Mercusuar

Bulan Syawal merupakan salah satu bulan yang istimewa bagi umat Islam karena setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan, kini saatnya umat Islam merayakan hari besar yakni Hari Raya Idul Fitri. Selain merayakan Hari raya Idul Fitri, beberapa umat Islam di berbagai daerah di Indonesia juga merayakan Hari raya Ketupat yang dilaksanakan pada hari ketujuh di bulan Syawal. Di pulau Madura, tradisi Hari raya Ketupat biasa disebut dengan Tong Areh. Tong berasal dari kata petto’ atau pettong yang memiliki arti tujuh serta Areh memiliki arti Hari, jadi Tong Areh merupakan “Lebaran hari Ketujuh” yang dirayakan oleh beberapa umat Islam di Pulau Madura. Pada tahun ini, Tong Areh dilaksanakan pada tanggal 7 Syawal 1445 H yang kebetulan tepat pada hari Selasa, 16 April 2024.

Di Desa Kesek, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Madura, tradisi ini rutin diadakan setiap tahun sekali pada hari ketujuh setelah perayaan Hari raya Idul Fitri. Tong Areh biasanya dilaksanakan pada pagi hari hingga menjelang siang di pesisir pantai. Meski Tong Areh dilaksanakan di kawasan pesisir, biasanya para warga yang jauh dari pesisir juga turut memeriahkan dengan datang dan menyaksikan berlangsungnya tradisi Tong Areh itu sendiri.

Tradisi Tong Areh merupakan salah satu tradisi yang masih rutin dilaksanakan setiap tahunnya, tradisi ini melibatkan semua lapisan masyarakat, mulai dari kalangan atas, menengah, hingga kalangan bawah yang turut serta meramaikan tradisi ini. Masyarakat Desa Kesek yang berprofesi sebagai nelayan menjadi tokoh utama berjalannya tradisi ini, di mana masyarakat berkumpul dan menyiapkan berbagai jenis makanan serta buah yang nantinya akan diletakkan di perahu nelayan. Makanan dan buah-buahan tersebut nantinya akan diperebutkan oleh anak-anak yang naik perahu tersebut.

Setelah berebut buah serta makanan yang ada di perahu nelayan, nantinya masyarakat akan diajak berkeliling sepanjang bibir pantai hingga melewati jembatan Suramadu dengan menggunakan perahu nelayan. Setelah puas berkeliling dengan menggunakan perahu, masyarakat lain yang berasal dari desa lain juga diperkenankan untuk turut serta naik perahu dan berkeliling sepanjang bibir pantai. Ditemani ombak yang tenang, para perahu nelayan membawa para penumpang menyusuri bibir pantai sembari menyantap makanan maupun buah yang telah didapat.

Talib, seorang nelayan yang turut berperan penting dalam tradisi Tong Areh, menyadari keharusan atas kelanjutan tradisi ini hingga generasi berikutnya karena terdapat banyak pesan moral yang tersirat di dalamnya. Salah satu pesan moral yang terkandung adalah kita sebagai umat Islam agar selalu bersyukur dengan segala rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai agen perubahan dan pergerakan turut melestarikan dan mencintai tradisi-tradisi yang sudah turun temurun dilaksanakan.

Penulis: N2A07

Editor: PD-09

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *