Sumber Gambar: ANTARA

Permasalahan ekonomi dan lingkungan yang sedang berkembang di masyarakat saat ini adalah naiknya harga bahan pangan. Komoditas bahan pangan  merupakan komoditas paling utama yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka harga bahan pangan yang terjangkau menjadi suatu harapan yang diinginkan masyarakat. Namun harapan tersebut seringkali dibenturkan pada kenyataan bahwa harga komoditas pangan di Indonesia semakin lama semakin jauh dari jangkauan. Kenaikan harga komoditas bahan pangan di Indonesia telah dimulai sejak awal tahun 2024 sampai dengan saat ini menjelang bulan ramadhan. Adapun komoditas bahan pangan yang mengalami kenaikan harga adalah beras, bawang, cabai, daging sapi, telur ayam, hingga gula.

Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sabtu (9/3/2024) pukul 18.53 WIB harga beras premium mengalami kenaikan 0,3% menjadi Rp 16.640 per kilogram dan beras medium tidak mengalami kenaikan. Harga beras hari ini masih jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Adapun HET beras premium yakni Rp12.800-Rp13.300 per kilogram dan harga beras medium yakni Rp9.450-Rp10.250 per kilogram. 

Kenaikan harga beras premium dan medium yang terjadi diakibatkan oleh adanya penundaan masa tanam yang terjadinya karena El Nino sehingga jadwal masa panen menjadi berubah dari masa prediksinya.  Hal tersebut menjadi pemicu kenaikan komoditas beras tidak berhenti pada awal tahun 2024 saja. Selain komoditas beras berbagai komoditas pangan lainnya, juga mengalami kenaikan seperti komoditas cabai, daging ayam ras, daging sapi murni, komoditas minyak goreng serta berbagai macam komoditas sayuran. Hal ini tentunya semakin memperberat beban masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan harga yang tidak kunjung menurun. 

Di tengah kenaikan harga berbagai komoditas pangan, mengakibatkan permintaan bahan pangan di Indonesia di masa depan menjadi semakin kompleks. Tren kenaikan harga ini tidak hanya memengaruhi aspek ekonomi masyarakat, tetapi juga menimbulkan dampak signifikan terhadap kebutuhan pokok sehari-hari. Sehingga terjadi  dinamika permintaan bahan pangan di masa depan, mengingat proyeksi pertumbuhan populasi dan perubahan pola konsumsi setiap waktunya.

Permintaan bahan pangan di Indonesia kedepannya tentu akan melebihi dari stok bahan pangan yang tersedia. Berdasarkan data dari Center of Indonesia Policies Studies (CIPS) pada 2045, total permintaan beras per kapita per minggu di 20 kabupaten terpilih diproyeksikan akan mencapai 26,62 kg dengan rata-rata 1,33 kilogram untuk setiap kabupaten. Angka ini 20% lebih tinggi dibandingkan pada 2021 ketika total permintaan hanya 21,96 kg per kapita per minggu dengan rata-rata 1,09 kilogram per kapita per minggu untuk setiap kabupaten.

Dari 2025 hingga 2045, jumlah permintaan beras di 20 kabupaten terpilih diproyeksikan akan naik rata-rata 1,20% setiap tahunnya–sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahunan pada periode 2018–2021, yakni 1,17%. Meskipun permintaan beras di beberapa kabupaten tersebut diproyeksikan akan terus bertumbuh, namun lajunya akan melambat dari waktu ke waktu per tahun 2025-2030. Meski produksinya menurun, konsumsi pangan diprediksikan akan meningkat hingga 2045. Memenuhi permintaan pangan dalam jangka waktu ini tentu akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Indonesia.

Penulis : PD-09

Editor: HR-09

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *