Kamis, (22/09) Kementerian Sosial Politik BEM Universitas Airlangga dan Amnesti Universitas Airlangga bekerja sama untuk bergabung serta berkolaborasi dalam Aksi Kamisan Surabaya yang ke-788 bertempat di depan gedung Grahadi, Surabaya. Para aktivis yang hadir memakai pakaian hitam dan acara dimulai dengan diskusi pada pukul 16:37. Kemudian diteruskan dengan berdiri di pinggir jalan selama kurang lebih 30 menit dengan membawa poster berisi desakan dan kritikan untuk pemerintah yang tidak sigap dalam menangani kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. Selain itu, beberapa perwakilan terkait juga memberikan orasi mengenai kondisi HAM dan ketidakjelasan hukum di Indonesia.
Menurut keterangan salah satu anggota Aksi Kamisan Rozak, aksi ini merupakan inisiatif dari para keluarga korban pelanggaran HAM, seperti Suci Watu (istri dari Munir) dan ibu Sumarsih yang diadakan setiap hari kamis sejak tahun 2007. Pelaksanaan aksi ini terinspirasi pada Aksi Kamisan yang diadakan di Jakarta dan atas inisiatif dari pihak Aksi Kamisan di Surabaya sendiri.
“Sebenarnya aksi Kamisan itu bebas gitu loh. Kita di tiap tiap daerah itu bisa mengangkat tema apa aja. Tapi aksi kamisan Surabaya itu mengacu pada aksi kamisan Jakarta yang dipegang oleh bu Sumarsih,” ungkap Rozak.
Aksi ini dilaksanakan secara rutin dengan tujuan merawat ingatan terhadap para korban dan menuntut pemerintah menuntaskan kasus pelanggaran HAM serta mengembalikan hak-hak korban dan keluarganya yang sebelumnya diabaikan.
Yang berbeda dalam aksi Kamisan kali ini adalah hadirnya Amnesty UNAIR dan Kementerian Sospol BEM UNAIR yang ingin berkolaborasi dalam rangkaian kegiatan September Hitam dan aksi ini dimaksudkan sebagai pembuka. Selain itu tujuan lain dari kolaborasi ini yaitu untuk memasifkan gerakan dan membuka pandangan baru khususnya kepada mahasiswa Universitas Airlangga untuk lebih peka terhadap isu-isu pelanggaran HAM di Indonesia.
“Sebenarnya serangkaian September Hitam yang kita berkolaborasi dengan BEM UNAIR dan human right laws punyanya Fakultas Hukum itu salah satunya memuat kegiatan ini dan kita tidak eksplisit mengundang siapapun, maksudnya mengundangnya secara publik, kita tidak mengundang organisasi khusus, jadi semua terbuka untuk umum,” ujar Vira, ketua Amnesty UNAIR.
Sementara itu, Menteri Kementerian Sospol BEM FISIP UNAIR, Rifat mengungkapkan, “Dengan pertama kali kita mengikuti hal seperti ini, bahwasanya ini untuk regeneratif untuk pembelajaran sebagainya dan memang penting. Jadi memang kedepan kita sangat sangat mengusahakan untuk membuat gerakan-gerakan seperti ini agar semakin bertebaran dan meluas”.
Dengan upaya ini, diharapkan dapat merawat ingatan dan membangkitkan kembali kepedulian terhadap para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia. Aksi Kamisan terbuka untuk umum dan berusaha merangkul seluas mungkin masyarakat agar isu ini terus mendapat perhatian dan mencapai penyelesaian yang langsung dan adil.
Penulis: Savina Rizky Hamid
Editor: Ananda Putra