Jagat Twitter beberapa kali dihebohkan dengan kebijakan baru Elon Musk, sosok yang berhasil mengakuisisi media sosial tersebut sejak 2022 lalu. Pasalnya, operasional Twitter beberapa kali mengalami perubahan yang tak familiar sehingga menimbulkan berbagai macam reaksi dari para penggunanya. Baru-baru ini Musk dalam cuitan akun twitter pribadinya mengumumkan bahwa Twitter akan membatasi akses membaca Tweets dalam sehari berdasarkan jenis akun. Cuitan tersebut sukses menarik lebih dari 500 juta viewers dan retweet per Sabtu (8/7). Mayoritas warganet menyayangkan keputusan salah satu pendiri Tesla Motors bakırköy escort tersebut.

Seolah memanfaatkan kesempatan, perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat, Meta, sergap meluncurkan aplikasi Threads pada 6 Juli lalu dan berhasil mendapatkan 10 juta pengguna dalam sehari. Peluncuran aplikasi Threads oleh Meta ternyata menuai kontroversi dari warganet. Perilisannya yang dilakukan selang 4 hari setelah pengumuman kebijakan baru limitasi Twitter menarik banyak perhatian di jagad maya, khususnya penikmat situs microblogging. Tak dapat dipungkiri, perhatian netizen akan aplikasi tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai kebijakan baru Twitter yang dianggap kapitalis dan merugikan pengguna. Sejumlah pengguna Twitter dalam akun mereka mengatakan bahwa Threads dapat menjadi alternatif situs microblogging selain Twitter. Hal ini juga didukung dengan maraknya influencers yang mempromosikan akun Threads miliknya sehingga gelombang FoMO terhadap Threads pun semakin besar. 

Pada hari yang sama dengan peluncuran aplikasi Threads, Twitter melayangkan gugatan melalui pengacaranya, Alex Spiro kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg atas dugaan kasus penyalahgunaan rahasia dagang Twitter serta kekayaan intelektual lain secara sistematis, sengaja, dan melanggar hukum yang dilakukan oleh pihak tergugat.  Selain itu, Twitter juga menuduh Meta mempekerjakan puluhan mantan pekerja Twitter untuk membuat platform media sosial serupa. Gugatan ini pertama kali diberitakan oleh media internasional, Semafor.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Komunikasi Meta menampik tuduhan tersebut melalui postingannya di Threads pada Kamis (6/7) lalu bahwa tidak ada mantan pegawai Twitter yang bekerja sebagai Engineering Team di platform Threads. 

Walaupun intensitas ketertarikan warganet terhadap aplikasi Threads cukup fantastis, sejumlah masyarakat masih beranggapan bahwa fitur dalam aplikasi Twitter masih merajai situs microblogging saat ini. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tidak adanya fitur Direct Message, Space, dan yang paling ikonik adalah Hastag dalam pelacakan topik trending di aplikasi buatan Meta tersebut. Terlebih, Threads juga harus tersinkronisasi dengan akun Instagram yang membuat beberapa pengguna merasa kurang nyaman. Kendati begitu, perlu diingat bahwa Threads sangat mungkin untuk melakukan pengembangan dan optimalisasi fitur kedepannya. Jadi, Twitter VS Threads, mana yang kamu pilih? 

Penulis: Shofiyah Sajidah

Editor: Fira Ila 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *