Bangunan Rusunawa Puspa Agro yang Ditempati oleh Pengungsi dari Kabupaten Sampang (Sumber Foto : Dok.Pribadi)
Rusunawa yang ditempati selama sebelas tahun oleh pengungsi asal Kabupaten Sampang ini menyimpan berjuta suka duka yang begitu mendalam.
Perselisihan antara kelompok muslim Sunni dan Syiah di Kabupaten Sampang, Madura telah tertanam sejak 2004. Kala itu terjadi perselisihan antara Tajul Muluk dengan sejumlah ulama setempat yang tidak setuju dengan dakwahnya yang dianggap membawa penyebaran ajaran Syiah.
Perselisihan tersebut awalnya hanya sebatas intimidasi dan penolakan terhadap kelompok Syiah. Avcılar’ın en güzel kızları burada. avcılar bayan escort internet sitemizde sizi bekliyor.
Namun pada 29 Desember 2011, sebuah kelompok menyerang dan membakar rumah Tajul Muluk beserta musala Jamaah Syiah. Tidak berhenti sampai situ, penyerangan kedua kembali dilakukan pada 26 Agustus 2012. Serangan dilakukan di pemukiman kelompok Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.
Dalam penyerangan kedua ini, dikabarkan satu orang tewas dan sepuluh orang mengalami luka-luka. Akibat penyerangan ini, kelompok Syiah dengan terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi di GOR Sampang.
Lalu pemerintah daerah merelokasi korban kelompok Syiah dengan memindahkan mereka ke Rusunawa Puspa Agro, Sidoarjo menggunakan kendaraan TNI.
Pada Maret 2023, LPM Mercusuar Universitas Airlangga berkesempatan mengunjungi tempat pengungsian masyarakat yang menjadi korban konflik di Kabupaten Sampang pada 26 Agustus 2012.
Kedatangan kali ini untuk merekam kisah para korban konflik Sampang selama tinggal di Rusunawa Puspa Agro.
Kisah dimulai dari pengakuan lelaki tua yang dianggap sebagai sesepuh di kalangan para pengungsi.
“Jadi, kegiatan sehari-hari saudara-saudara yang ada di sini itu ada yang jualan di pasar Sukodono dan pasar Sepanjang, ada yang buka potong rambut, jualan sate, kerja di pabrik, dan lain sebagainya,” cerita pria berusia 68 tahun yang akrab dipanggil Pak Iklil.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa para pengungsi masih bisa beraktivitas seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
“Sebenarnya, selama dua tahun ini kami sudah kembali ke paham kami yakni ahlusunnah wal jama’ah, memang dulu kami sempat masuk ke dalam kelompok minoritas syia tetapi sekarang sudah kembali ke ajaran kami terdahulu,” tambahnya.
Setelah itu, lelaki yang gemar memelihara burung tersebut mengambil sebungkus rokok dari sakunya, lalu melanjutkan pembicaraannya.
“Memang di awal-awal ketika pindah disini itu situasinya cukup sulit. Saudara-saudara di sini sangat susah untuk mencari pekerjaan. Mungkin, saat itu masih bermunculan stigma-stigma negatif yang melekat kepada kami. Namun, seiring berjalannya waktu, saudara-suadara sudah bisa mendapatkan pekerjaan. Dulu banyak yang kerja di Pasar Puspa Agro ini. Ada yang kupas kelapa, kuli panggul, dan lain-lain. Setelah itu, pekerjaan yang mereka dapatkan lebih beragam,” lanjutnya.
Saat ditanya terkait penjaminan akses pekerjaan untuk penghuni rusunawa, Iklil menjawab bahwa mereka mencari pekerjaan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Tidak ada yang menjamin akses pekerjaan saudara-saudara di sini, selama ini ya mereka berusaha sendiri. Cari uang buat makan, buat biaya anak sekolah kemudian buat benerin fasilitas-fasilitas di sini jika ada yang bermasalah. Coba sampean lihat bangunan di sini, banyak bagian yang sudah rusak. Kalau hanya mengandalkan dana bantuan hidup saja ya tidak cukup,” jawab dia.
Dari pantauan LPM Mercusuar ada banyak bagian bangunan di rusunawa yang sudah mulai rusak. Iklil menjelaskan penghuni rusunawa tak mengetahui siapa yang bertanggungjawab ats kerusakan fasilitas-fasilitas bangunan.
“Jadi sebenarnya disini ada dua pengelola rusunawa, ada Pemerintah Provinsi dan Cipta Karya. Tapi, saya tidak tahu siapa pihak yang bertanggung jawab secara teknis untuk memperbaiki bangunan di sini. Selama ini ya kalau ada yang rusak, kami perbaiki sendiri. Sekarang semua kamar disini rembes air semua temboknya sehingga airnya masuk ke dalam kamar, tapi kami berusaha untuk memperbaikinya kembali,” keluhnya.
Lalu, saat ditanya mengenai gaji pekerjaan untuk pemenuhan biaya hidup, Iklil menjawab.
“Kalau untuk gaji sih saya tidak bisa menyebutkan ya, mas karena itu masalah privasi para pengungsi disini. Tapi, alhamdulillah untuk sekarang cukup digunakan buat makan, beli pakaian, beli perabotan, dan lain-lain. Kalau dulu saat kami belum mendapat pekerjaan, kami ya semampunya mas bertahan hidup sampai jual-jual barang yang kami bawa dari Sampang,” jawab Iklil.

Salah satu bangunan yang rusak di Rusunawa Puspa Agro (Sumber Foto : Dok.Pribadi)
Keesokan harinya, LPM Mercusuar kembali ke rusunawa untuk menemui adik Iklil yakni Ustaz Tajul Muluk (50 tahun). Di sela-sela menaiki tangga lantai dua, terdengar suara anak-anak kecil sedang belajar membaca Al Qur’an..
“Setiap hari ada pengajian untuk anak-anak disini, liburnya hanya di hari Jum’at aja. Jamnya dimulai habis dhuhur sampai sebelum ashar,” ucap seorang pria dengan perawakan tinggi.
“Nama saya Zakaria mas, saya rutin mengajar mengaji disini. Murid-murid yang saya ajar disini ada kurang lebih 15 orang terdiri dari anak-anak TK sampai SD,” kata dia memperkenalkan diri.

Kegiatan anak-anak kecil mengaji di Rusunawa Puspa Agro (Sumber Foto : Dok.Pribadi)
Setelah naik ke lantai empat, LPM Mercusuar bertemu dengan Ustadz Tajul Muluk. Ia pun menceritakan kondisi para korban konflik Sampang yang bertahan di rusunawa itu selama hampir 11 tahun.
“Waktu konflik di Sampang memang benar-benar sulit. Bahkan, keluar rumah pun kami dikawal oleh aparat keamanan. Tetapi, untuk disini sudah tidak begitu, jadi saudara-saudara kami disini bisa lebih bebas. Apalagi, masyarakat di sekitar sini baik-baik orangnya, mereka tidak pernah ada masalah dengan kami,” ungkap Tajul Muluk.
Selama tinggal di rusunawa yang menjadi tempat pengungsian, ia mengaku kerap merasakan kerinduannya kepada keluarga di kampung halaman di Kabupaten Sampang.
“Kalau sekarang mungkin sudah biasa ya, tapi kalau dulu memang sedih karena tidak bisa kumpul dengan keluarga di Madura. Apalagi, di Madura kan tradisinya kalau hari raya kan pada pulang kumpul dengan keluarga. Ya, kalau dibilang kangen kumpul sama keluarga di Madura,” kata dia sambil tertawa.
Sambil menikmati kopi asli Madura, Tajul Muluk kembali melanjutkan kisahnya.
“Sekarang kan bangunan disini sudah mulai rapuh semua, apalagi di penyangga bagian bawah lantai satu itu sudah dilubangi sama tikus. Sebenarnya tidak hanya lantai satu, semua lantai penyangganya sudah dilubangi tikus tapi yang paling parah memang lantai satu. Itu nanti kalau nggak dibenerin, lubangnya bisa kemasukan air, dan bisa ambruk juga bangunan ini,” kata dia.
Lalu, saat ditanya mengenai jumlah pengungsi di Rusunawa, Tajul Muluk menjawab.
“Awalnya disini ada 83 kepala keluarga dengan total 352 jiwa. Kemudian, ada yang memutuskan kembali ke Sampang sekitar 30 kepala keluarga. Jadi, disini sekarang tinggal 63 kepala keluarga dengan total kurang lebih 260 jiwa. Tapi, nanti ketika hari raya akan ada yang menyusul balik ke Sampang sekitar 12 kepala keluarga dan tidak kembali ke sini lagi,” kata dia.
Ia bercerita keluarga yang pulang ke Sampang mengendarai motor, sementara barang-barang milik mereka diangkut dengan mobil yang disewa bersama-sama.
Kemudian, Tim LPM Mercusuar mencoba menanyakan alasan pengungsi yang tidak kembali ke Sampang, Tajul Muluk bercerita.
“Ya itu mas, kalau disini itu karena mungkin ada beberapa yang sudah kerja jadi memutuskan untuk tetap tinggal disini dan sisanya karena beberapa hal yang berkaitan dengan fenomena kecemburuan sosial seperti ketidaksukaan, keirian, kesinisan, dan lain sebagainya terhadap kami dari beberapa kelompok masyarakat di Sampang. Kemudian, ada syarat-syarat tertentu yang harus kami lakukan untuk bisa menetap di sana seperti tidak boleh bikin pesantren sendiri, tidak boleh mengajar ngaji, dan selebihnya harus mengikuti kegiatan mereka. Jadi, itu mas yang membuat kami memutuskan untuk tetap tinggal disini. Saya pikir ya, mereka belum ikhlas untuk bisa menerima kami,” jawabnya.

Kondisi bangunan yang dilubangi tikus (Sumber Foto : Dok.Pribadi)
Sementara itu, istri Tajuk Muluk, Umi Fitri bercerita hampir setiap sore anak-anak kecil bermain di halaman Rusunawa untuk menghibur diri.
“Kalau pulang sekolah anak-anak disini selalu bermain di halaman depan parkiran motor itu, mas,” kata Umi Fitri sambil jarinya menunjuk ke arah depan.
Umi Fitri kemudian mengajak ke ruangan yang digunakan untuk anak-anak kecil menempuh pendidikan formal yang berada di rusunawa lantai satu.
“Ruangan ini digunakan anak-anak kecil bersekolah, dari PAUD sampai TK. Ruangannya jadi satu disini, mas. Untuk kegiatannya dilaksanakan dari hari Senin sampai Jum’at, kalo Sabtu Minggu libur.” Lanjutnya.
Umi Fitri bercerita ia dan koleganya yang berstatus pengungsi yang mengajar di PAUD dan TK.
“Di sini yang mengajar ada dua guru salah satunya saya, yang satunya adalah tetangga kamar saya. Muridnya ada sekitar dua puluh dua anak,” kata dia.

Ruangan untuk anak-anak kecil bersekolah dari Paud sampai TK (Sumber Foto : Dok.Pribadi)
Tim LPM Mercusuar pun penasaran mengenai kehidupan anak-anak di rusunawa, akhirnya tim LPM Mercusuar memutuskan untuk ngobrol lebih panjang dengan Umi Fitri.
“Kalau di awal-awal memang sulit, kurang lebih empat tahunan saya dan beberapa ibu-ibu disini terpaksa mengadakan pendidikan non-formal terutama untuk anak-anak Paud dan TK. Tetapi, semenjak 2016 kami mencoba untuk mengusahakan anak-anak bisa menempuh pendidikan formal. Alhamdulillah, dari situ anak-anak bisa menempuh pendidikan formal di SMP-SMA kawasan Sidoarjo ini. Untuk yang di perguruan tinggi, sebelum kasus konflik terjadi ada beberapa anak-anak sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi,” ucap Umi Fitri.
Untuk masalah pembiayaan sekolah, Umi Fitri bercerita bahwa anak-anak di rusunawa banyak yang mendapatkan beasiswa.
“Alhamdulillah, anak-anak disini pintar-pintar, mas. Banyak yang mendapatkan beasiswa di sekolahnya masing-masing. Bahkan, ada beberapa anak yang bisa sampai berkuliah di luar negeri karena beasiswa. Jadi, mereka nggak merepotkan orang tuanya,” jawab Umi Fitri.
Dengan nada lirih, Umi Fitri berkata, “Ya, beginilah mas kehidupan kami pasca konflik di Sampang. Kami mengambil hikmah dari kejadian yang sudah terjadi, dan mensyukuri apa yang kami miliki saat ini.”
LPM Mercusuar menemui Johan Avie, salah satu pendamping hukum pengungsi di Rusunawa, Puspa Agro saat konflik Sampang masih terjadi.
Pria lulusan Fakultas Hukum, Universitas Airlangga tersebut menegaskan adanya syarat-syarat untuk bisa kembali ke kampung halaman merupakan suatu koersi (paksaan).
“Mereka itu berkompromi bukan pulang, masak mau pulang aja harus memenuhi syarat. Jadi, definisi pulang itu harus diganti dengan terpaksa berkompromi. Dalam hukum, hak kebebasan beragama dan berkeyakinan itu adalah bagian dari pemaksaan pindah keyakinan atau bagian dari koersi,” kata dia saat ditemui pada (Senin, 10 April 2023).
“Jadi, menetapkan syarat itu adalah bagian dari koersi dalam hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Koersi itu paksaan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Nah, mereka berkompromi dengan koersi itu, terpaksa tunduk dengan koersi itu untuk bisa pulang,” tegasnya.
Kemudian, pria yang akrab disapa Johan tersebut mengungkapkan harapannya untuk para pengungsi yang masih tinggal di Rusunawa.
“Harapannya, ya mereka semua bisa kembali tanpa syarat, bisa hidup lagi di kampung halamannya tanpa syarat apapun dan itu butuh proses yang lama. Nah, problemnya proses itu tidak pernah dijalannkan. Jadi, sejak awal itu mengusulkan ada proses rekonsiliasi dan perdamaian dengan pendekatan resolusi konflik,” kata dia.
“Nah, salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam rekonsiliasi dan resolusi konflik itu adalah rekayasa sosial. Nah, rekayasa sosial itu perlu kerja-kerja budaya untuk kemudian membuat perspektif masyarakat sampang dan kyai-kyai di sampang bisa menerima pengungsi-pengungsi ini. Cuma proses rekayasa sosial itu disalapahami jadi seminar, itu dituangkan oleh pemerintah dalam bentuk seminar akhirnya jadi formal, ndak bermakna,” tambah dia.
“Jadi, gini sampai sekarang proses memulangkan pengungsi-pengungsi itu selalu gagal karena proses rekayasa sosialnya ndak jalan, begitu kira-kira. Rekayasa sosial itu kan membutuhkan kerja budaya, kerja kesadaran, dan itu membutuhkan proses panjang, menggunakan pendekatan lobby dan sebagainya. Nah, itu ndak pernah dijalankan sama pemerintah. Proses pendekatan budaya itu dimaknai sebagai workshop, dimaknai sebagai Forum Grup Discussion, dimaknai sebagai program-program mati,” ungkapnya.
Penulis : Primanda Andi Akbar (Kontributor)
Editor : Ira Rahmawati
***
Liputan ini menjadi bagian dari program pelatihan dan hibah Story Grant “Anak Muda Ciptakan Ruang Aman Keberagaman di Media” yang dilaksanakan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK). Terlaksana atas dukungan rakyat Amerika Serikat melalui USAID. Isinya adalah tanggung jawab SEJUK dan tidak mencerminkan pandangan Internews, USAID, atau pemerintah AS.
