/Djin Diplomacy, Pameran Bertema Irasionalitas Pertama di Surabaya
Sumber Foto : Instagram @kecoaktimur

Djin Diplomacy, Pameran Bertema Irasionalitas Pertama di Surabaya

Pada 22 Oktober hingga 20 November 2022, kolektif kecoak timur mengadakan pameran seni rupa  yang bertempat di Unicorn Extension (National Lasik Center Lantai 2), Surabaya. Pameran tersebut berkolaborasi dengan seniman asal Jepang. Tema dari pameran tersebut adalah “Djin Diplomacy”.

“Tema besar dari pameran ini adalah Djin Diplomacy yang berhubungan dengan Djin sebagai representasi pemikiran irasional di masyarakat. Terus diplomacy maksudnya adalah menjalin kerjasama. Jadi, disini maksudnya menjalin kerjasama kebudayaan-kebudayaan irasional antara jepang dan Indonesia. Jadi, di pameran ini memamerkan karya-karya yang bersinggungan atau beririsan dengan hal-hal irasional di masyarakat”, ungkap Anggun salah satu perwakilan Kecoak Timur.

Perlu diketahui, tujuan pameran “Djin Diplomacy” ini digelar adalah untuk mengenalkan kepada masyarakat mengenai karya-karya seni rupa yang berdimensi irasionalitas. Pameran diselanggarakan dua kali di dua negara yang berbeda, yakni di Jepang dan Indonesia.

“Awalnya itu salah satu museum di Jepang mengadakan residensi untuk seniman-seniman dari berbagi negara. Di salah satu museum itu ada kurator yang bernama Yuki, nah tujuan dari pameran ini diadakan adalah untuk menjembatani seni dan masyarakat karena selama ini Kecoak Timur karya-karyanya selalu berhubungan dengan seni dan masyarakat akhirnya museum tersebut mengajak Kecoak Timur untuk berkolaborasi membuat pameran, penelitian, dan juga residensi”, tambah Anggun.

Karya-karya yang ditampilkan di pameran Djin Diplomacy beragam jenis dan bentuknya, diperkiran total 12 seniman yang terlibat dalam acara tersebut.

“Seniman yang terlibat ada sekitar 12 seniman, semuanya seniman dari Kecoak Timur. Karya-karyanya kolektif dari kecoak timur. Kalo di jepang seniman yang menjadi pengantar karya ada satu. Tapi kalo pencipta karya adalah dari kecoak timur. Kemudian, Di jepang kita menampilkan 13 karya itu idenya semua dari Indonesia. terus kemudian setengah dari karya itu kami bawa ke sini. Dan pameran kedua di Jepang memamerkan sebuah karya dengan jumlah 18 panel karya yang berupa narasi, ilustrasi, lukisan dan lain-lain”, tegas Anggun.

Di akhir, pria asal Batu tersebut berpesan agar hal-hal yang bebau irasionalitas perlu dijaga dan dirawat agar nilai-nilai sopan santun tidak hilang begitu saja.

“Harapan setelah pameran selesai adalah berkaitan dengan tujuan awal yakni masyarakat Indonesia tidak mengesampingkan pemikiran-pemikiran irasionalitas, jadi kayak pamali atau sopan santun itu mulai ditinggalkan. Padahal itu merupakan hal-hal irasionalittas yang perlu dijaga dan dirawat. Seperti di jepang, hal-hal irasionalitas selalu dijaga dengan baik sehingga di jepang  negaranya bisa maju karena itu bisa berpengaruh terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kedisiplinan”, tutup Anggun.

Penulis : Primanda Andi Akbar

Editor : Primanda Andi Akbar