Kritik Tidak Harus Menawarkan Solusi

Setiap langkah yang ditempuh oleh manusia, terlepas dari profesi dan statusnya akan selalu berdampingan dengan kritikan. Itu terjadi karena setiap individu memiliki hak dalam menyuarakan pendapatnya. Setiap individu memiliki otoritas kritis untuk menyatakan bahwa “saya suka atau tidak suka” terhadap suatu hal. Itu sudah didukung dengan kuat oleh UUD 1945 Pasal 28E ayat (3) yang menyatakan “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”.

Namun perlu digarisbawahi bahwa seorang pengkritik harus bertanggung jawab, artinya kritik tersebut harus memiliki argumentasi yang logis, serta berdasarkan data dan fakta yang ada. Sehingga kritik yang dilontarkan tidak bermuatan kepentingan dan permasalahan pribadi.

Kritik tidak selalu menawarkan solusi, sebab pada dasarnya kritik hanya menguraikan permasalahan dan menunjukkan suatu kesalahan yang ada. Meski terkadang dari sebuah kritik melahirkan solusi, tetapi bukan tugas seorang pengkritik untuk menemukan solusi dari sebuah kritikan tersebut.

Jika terdapat suatu pihak yang mengatakan bahwa “Kritiklah dengan konstruktif dan solutif, kalau bisa masuk ke dalam sistem tersebut”. Menurut saya ini adalah logika berpikir yang salah. Pihak yang mengatakan hal ini tidak memahami esensi dari sebuah kritik.

Dari sependek sepengetahuan saya, kritik merupakan suatu kegiatan berpikir untuk memisahkan nilai-nilai yang tidak relevan dan nilai-nilai yang relevan dari suatu realitas yang ada. Jadi dapat disimpulkan bahwa sebuah kritik akan tetap valid meski tidak menawarkan sebuah solusi. Sepanjang kritik tersebut dilandasi dari realitas kerangka berpikir yang benar dengan melihat realitas yang ada.

Ini berarti kritik sangat berbeda dengan prosedur berpikir sintesis. Dimana cara kerja berpikir sintesis mengharuskan seorang pengkritik menawarkan adanya solusi. Argumen baru yang dihadirkan berusaha menentang argumen sebelumnya yang dirasa tidak relevan dengan realitas yang ada. Jadi argumen baru tersebut merupakan sebuah solusi dari argumen yang dikiritik tersebut.

Namun kerapkali seseorang menganggap kritik adalah sebuah hal yang buruk. Ini disebabkan karena adanya kebiasaan yang salah antara pengkritik dan yang dikritik. Terkadang seseorang pengkritik menyampaikan sebuah kritik dengan dipenuhi kebencian sehingga kritik tersebut tidak memiliki substansi dari suatu persoalan. Sedangkan di lain pihak yang menerima kritik seringkali menelan mentah-mentah sebuah kritikan yang ditujukan kepadanya sehingga kritik tersebut dirasa sebagai ujaran kebencian.

Ini-lah yang membuat masyarakat melihat bahwa kritik adalah suatu hal yang buruk. Sebab terjadi kebiasaan dan pemaknaan yang salah dari kritik itu sendiri. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya berharap dapat meluruskan logika berpikir teman-teman semua terhadap sebuah kritik, bahwa kritik tidak selalu menawarkan sebuah solusi. Kritik didasarkan dari keresahan seseorang dalam melihat nilai-nilai yang relevan dan tidak relevan dalam suatu realitas sehingga muncul pemikiran bahwa sesuatu hal tersebut harus disampaikan kepada orang yang memiliki kewenangan atas hal tersebut.

Penulis : Alvianta Virgosa

Editor   : Primanda Andi Akbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *