Hari Film Nasional: Refleksi dan Prestasi Perfilman Indonesia

Hari Film Nasional ke-72 jatuh pada hari ini, tepatnya setiap tanggal 30 Maret. Peringatan itu menjadi refleksi perjalanan panjang industri perfilman tanah air yang mengalami perubahan dari generasi ke generasi hingga sederet prestasi film nasional yang berhasil menembus kancah internasional.

Kilas Balik Penetapan Hari Film Nasional

Eksistensi perfilman Indonesia tak luput dari usaha Usmar Ismail. Beliau merupakan sutradara yang pertama kali memproduksi film lokal berjudul Darah dan Doa bekerja sama dengan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) miliknya.

Dilansir dari Kompas.com, film tersebut melakukan pengambilan gambar hari pertama pada 30 Maret 1950 yang sejak saat itu tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional berdasarkan keputusan konferensi kerja Dewan Film Indonesia dengan organisasi perfilman pada 11 Oktober 1962.

Namun, pemerintah baru menetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 25 Tahun 1999 yang disahkan oleh Presiden Republik Indonesia B. J. Habibie sekaligus pengangkatan Usmar Ismail menjadi Bapak Perfilman Nasional bersama Djamaludin Malik selaku pendiri Perseroan Artis Indonesia (Persari). Adapun kedua tokoh tersebut juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional untuk menghargai kontribusinya dalam dunia perfilman Tanah Air.

Perkembangan Industri Perfilman Indonesia

Dari tahun ke tahun, produksi film di Indonesia tentu mengalami pasang surut. Sebagaimana Garin Nugroho dan Dyna Herlina dalam Krisis dan Paradoks Film Indonesia (2015) membagi perkembangan film Indonesia menjadi enam periode.

Periode pertama (1900-1930) menjadi tahapan seni kaum urban yang ditandai dengan lahirnya film pertama Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng.

Periode kedua (1930-1950) merupakan tahapan film sebagai hiburan di tengah krisis ekonomi dunia. Selama periode ini, tercatat ada 30 judul film berhasil diproduksi karena pengaruh penjajahan Jepang saat membentuk Ganseikanbu Sendenbu yaitu suatu badan yang bertugas di bidang propaganda.

Periode ketiga (1950-1970) disebut masa ketegangan ideologi dimana marak terjadi sensor yang berhubungan dengan politik radikal baik sayap kanan maupun sayap kiri. Selain itu, produksi film nasional mengalami penurunan akibat dominasi film-film impor.

Periode keempat (1970-1985) dikatakan sebagai globalisme semu sebab keberadaan film asing semakin menggempur perfilman nasional, sementara pemerintah terkesan tidak peduli. Akan tetapi, masa kejayaan film Indonesia juga dimulai pada tahun 1970-an dengan banyaknya film yang diadaptasi dari produk budaya populer.

Periode kelima (1985-1998) yakni periode krisis di tengah globalisasi. Para pekerja film harus bersaing keras dengan menjamurnya sinetron di berbagai televisi swasta serta kemunculan film-film Indonesia yang mengandung unsur sensualitas.

Terakhir, periode keenam (1998-2013) ditandai dengan euforia demokrasi. Setelah industri film sempat meredup di pertengahan tahun 1990-an, periode ini menjadi era kebangkitan perfilman nasional yang dibuktikan dengan peningkatan produksi film secara signifikan sekaligus hadirnya genre baru.

Tak hanya itu, kemajuan teknologi pun mempengaruhi perkembangan film nasional mulai dari film-film hitam putih, kemudian ada warna sampai penggunaan animasi komputer.

Meroketnya Prestasi Film Indonesia

Semangat reformasi telah memberikan ruang kebebasan dan kreativitas dalam industri perfilman. Hal tersebut terlihat dari pencapaian luar biasa film-film tanah air yang berhasil tampil bahkan memperoleh penghargaan di berbagai festival film internasional.

Baru-baru ini, film Nana (Before, Now & Then) yang disutradarai Kamila Andini (2022) melakukan pemutaran perdana secara internasional di Festival Film Internasional Berlin pada 12 Februari 2022. Film bergenre drama sejarah ini juga mendapat nominasi Penghargaan Golden Bear untuk kategori film terbaik.

Tidak hanya Nana, film Kamila Andini lainnya berjudul Yuni (2021) tayang perdana dan berkompetisi di ajang Festival Film Internasional Toronto 2021. Film berdurasi 122 menit ini mengangkat isu perempuan di tengah budaya patriarki. Menariknya, beberapa film karya Andini selalu identik dengan menggunakan dialog bahasa daerah.

Film-film tersebut hanya sebagian kecil dari banyaknya film Indonesia yang go international. Dilansir dari CNN Indonesia, daftar film berikut mampu melenggang di panggung luar negeri seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) garapan Mouly Surya, Kucumbu Tubuh Indahku (2018) karya sutradara kawakan Garin Nugroho yang sempat kontroversial karena dianggap tidak sesuai dengan budaya Indonesia, dan Perempuan Tanah Jahanam (2019) oleh Joko Anwar.

Ketiga film di atas merupakan perwakilan film Indonesia bersama 19 film lain yang pernah dikirim dalam perhelatan penghargaan bergengsi Academy Awards atau Oscars pada kategori Best International Feature Film. Film berjudul Naga Bonar (1986) yang disutradarai M. T. Risyaf menjadi film pertama yang dikirim, meski dari keseluruhan belum ada film Indonesia mampu masuk nominasi Oscars.

Selanjutnya, ada Laskar Pelangi (2008) yang menjadi film populer kala itu dari sutradara Riri Riza, 27 Steps Of May (2018) karya Ravi L. Bharwani, Ave Maryam (2018) produksi Ertanto Robby Soediskam, film pendek Prenjak (2016) dan Penyalin Cahaya (2021) yang keduanya disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, serta Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) karya Edwin yang sukses mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Hari Film Nasional sebagai momentum yang tepat untuk merefleksikan kecintaan terhadap film Indonesia. Peringatan ini tak hanya semata-mata bagi para insan film saja, tetapi juga masyarakat patut mendukung dan mengapresiasi berbagai film dalam negeri dengan beragam genre dan isu-isu menarik sehingga meningkatkan prestasi perfilman Indonesia, khususnya di masa pandemi Covid-19 sekarang yang membawa dampak pada industri film.

Penulis : Sela Septi Dwi Arista

EditorĀ  : Primanda Andi Akbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *