Hari ini
Bagaimana jika kau ingat salah satu bangun dari lelapmu
Bukan dari bisingnya weker
yang tetap saja berakhir di samping dipan kayu
Bukan pula dari teriakan mamak ayam kampung
Yang menangisi anaknya yang tak mau menetas
,Sayang sekali
Rupanya masih ada beberapa seruput kopi lagi,
Bisakah habisnya bersamaan dengan larik terakhir dari ku?
Agar mau lagi kau mengumpat
Pada parit padi yang menjerat ban motor mu
Huh, kukenyangkan juga kau pada akhirnya
AHAHAHA Lihat! kau ditertawakan
Memangkah kau tak mengenal kerasnya bahak-an itu?
Lagi, kau lupa lagi
Tidaklah lagi kan ku salahkan
Anai-anai pengirim rasa
Ternyata memang kau dalangnya
Tuan biji bunga matahari
Tuan mentari pagi
Tuan seranai api
Tuan pujaan yang ternyata pelupa
Saat siratnya kupuja
Bagai puisi hujan, yang berbunyi berbait kali
Penulis : Bahraini Dinar
Editor : Petrus Perlindungan Zai
