/Retorika Aneksasi
Ilustrasi : Mirna Tiara Sari

Retorika Aneksasi

Selaras janji-janji berkepal jari

Berteriak mengais keadilan hidup petani

Diatas bentala bersorak

Dibawah dirgantara sok bagak

Sebenarnya ini birokasi atau pembual aksi agitasi ?

Teriak, terisak, terpecah, terambang, teramat panjang jalan menuju surga yang usang

Bayi-bayi menjadi raja atas jabatan kekosongan kursi

Meninggi diri atas kebijakan aliansi

Menjelma mati pada rakyat tak punya bupati

Atau menjadi barua yang tengah mencari duniawi

Nyatanya hanya budak koalisi

Harta benda, binasa, tak punya putri, jadi ilusi saat berada dijeruji besi

Mengapa tidak berteman sunyi ?

Sedang puan bisa berambisi diatas jati diri

Beradaptasi dengan imajinasi

Bercumbu dibawah pokok akurasi

Berpeluk mesra disamping ilmu tuli

Atau berlari mengelilingi dedikasi—apresiasi

Puan,

Dari balik lapak yang kau kira rumah

Peneduh lara yang kau anggap absah

Tempat pulang untuk kau datang

Menapak agar dirimu dapat terbang

Bersua untuk rasamu yang merana

Bersemayam untuk tutur bisu yang bungkam

Tuan dan nona, yang berkelana menjadi dewasa dalam kedunguan, bukan menjadi pelayan atas tanah-tanah keadilan penguasa jabatan—mendadak mati dikoyak kaderisasi.

Amunisi basi !

Penulis : Mirna Tiara Sari

Editor : Balqis Primasari