/Usut Kasus Pelecehan Seksual di Kampus, LPM Lintas IAIN Ambon Alami Kekerasan Hingga Pembredelan
Sumber Foto : LPM Lintas

Usut Kasus Pelecehan Seksual di Kampus, LPM Lintas IAIN Ambon Alami Kekerasan Hingga Pembredelan

Pembredelan LPM Lintas IAIN Ambon terjadi setelah berita kasus pelecehan seksual kampus diangkat di majalah Lintas edisi kedua pada Senin (14/03).  Pembredelan oleh Rektor IAIN Ambon, Zainal Abidin Rahawarin tercatat dalam Surat Keputusan Rektor No. 95 Tahun 2022.

Pada Kamis (17/03) pukul 06.30 WIT, Kepala Satuan Pengamanan Abdullah Marasabessy mengatakan rekan-rekan LPM Lintas segera meninggalkan sekretariat dan membawa barang-barang keluar. Abdullah juga menerangkan perintah itu datang dari Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Kemahasiswaan (AUAK), Jamaludin Bugis.

Beberapa pengurus LPM Lintas dipanggil menemui Senat IAIN Ambon dan sejumlah pegawai membahas laporan bertajuk “IAIN Ambon Rawan Pelecehan” di ruang Senat pada Rabu (16/03).

 Pada Kamis (17/03) pukul 06.30 WIT, Kepala Satuan Pengamanan Abdullah Marasabessy mengatakan rekan-rekan LPM Lintas segera meninggalkan sekretariat dan membawa barang-barang keluar. Abdullah juga menerangkan perintah itu datang dari Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Kemahasiswaan (AUAK), Jamaludin Bugis.

Dilansir dari lpmlintas.com,  sebelumnya pada (15/03) sekitar pukul 12 siang, dua pengurus LPM Lintas, Muh Pebrianto selaku layouter majalah dan M. Nurdin Kaisupy wartawan yang terlibat dalam proyek liputan khusus bertajuk “IAIN Ambon Rawan Pelecehan” mengalami kekerasan oleh Yusup Laisouw, Ketua Jurusan Sosiologi Agama IAIN Ambon.

Kedatangan Yusup di Sekretariat LPM Lintas semula bertujuan menemui penanggungjawab majalah LPM Lintas agar mengklarifikasi kasus kekerasan seksual yang menyebut namanya sebagai salah satu pelaku dan memuat foto dirinya. Yusup juga mengatakan bahwa tulisan yang dimuat majalah Lintas melanggar kode etik. Yusup mendesak Pebrianto dan Nurdin memanggil penanggung jawab majalah dengan mengancam membawa keluarganya mendatangi Sekretariat LPM Lintas jika tidak dituruti.

Sekitar lima menit setelah Yusup meninggalkan sekretariat, tiga pria datang dan mengaku sebagai keluarga Yusup. Ketiga pria yang diduga mahasiswa IAIN Ambon menuduh berita kekerasan seksual yang diangkat oleh LPM Lintas tidak sesuai fakta. Salah satu dari mereka pun mengambil majalah dan membuka artikel “Tutup Kasus Itu…” lantas membanting majalah di lantai.

Nurdin menegur tindakan tersebut dan salah satu pria berdiri dan melayangkan tinju ke dada Nurdin. Pebrianto pun ditendang pria tersebut karena merekam kekerasan yang terjadi di sekretariat LPM Lintas. Tidak lama, ketiga pria tersebut lantas memukul kaca jendela sekretariat hingga pecah dan berserakan di lantai. Mereka memaksa masuk sekretariat untuk kembali memukul Pebrianto dan Nurdin, tetapi dilerai oleh beberapa anggota LPM Lintas yang datang.

Yolanda Agne, Pimpinan Redaksi LPM Lintas mengutuk keras aksi kekerasan yang dilakukan atas nama Yusup. Yolanda mengatakan tindakan tersebut  tidak patut dilakukan terhadap wartawan Lintas.

“Jika ingin klarifikasi silakan, kami membuka hak jawab. Majalah ini kami liput sesuai kode etik jurnalistik. Jika ada sanggahan, maka harus sesuai prosedur. Bukan main pukul,” kata Yolanda dikutip dari lpmlintas.com.

Majalah Lintas mengadakan liputan khusus kekerasan seksual sejak 2017 yang mencatat adanya 32 orang, 25 perempuan dan 7 laki-laki, mengaku menjadi korban pelecehan seksual di IAIN Ambon Sementara jumlah terduga pelaku 14 orang. Di antaranya 8 dosen, 3 pegawai, 2 mahasiswa, dan 1 alumnus. Kasus kekerasan seksual di Kampus Hijau itu berlangsung sejak 2015-2021.

Menindaklanjuti kasus yang dialami LPM Lintas IAIN Ambon, pihak Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) mengeluarkan pernyataan sikap, di antaranya sebagai berikut:

1. Mendesak pihak rektor untuk mencabut Keputusan Rektor IAIN Ambon Nomor 92 Tahun 2022 tentang Pembekuan Lembaga Pers Mahasiswa Lintas (LPM Lintas).

2. Mengacu pada Kode Etik Jurnalistik yang ditetapkan Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/ Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/lll/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik Sebagai Peraturan Dewan Pers, maka sikap yang diambil oleh LPM Lintas sebagai pemantau kekuasaaan, dalam hal ini kampus, sudah sewajarnya dilakukan;

3. Pers mahasiswa, sesuai nama dan idealismenya adalah lembaga yang difungsikan untuk menekan alat kekuasaan agar menjalankan tugas dan fungsinya yang ideal. Di dalam kasus ini, LPM tidak bisa dipahami hanya sebagai lembaga yang menjalankan fungsi publisitas saja, tapi memang menjadi satu lembaga yang mesti menjunjung tinggi idealisme. Berita seburuk apapun tentang kampus, jika itu fakta dan menjadi hak publik untuk tahu, sudah semestinya menjadi tugas LPM untuk mempublikasikan fakta-fakta tersebut.

4. Jika terdapat pihak yang keberatan dengan isi pemberitaan, harusnya pihak tersebut menempuh mekanisme hak jawab, bukan asal main sikat dan pembekuan. LPM Lintas pun wajib melayani hak jawab tersebut.

5. Kalau ternyata LPM Lintas dinilai melanggar kode etik, sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan, IAIN Ambon harusnya melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap awak LPM Lintas alias tidak langsung dibekukan begitu saja. Selain tidak menyelesaikan masalah, sikap itu justru menghentikan kreativitas dan perkembangan awak LPM Lintas.

6. Meminta rektorat IAIN Ambon untuk menghormati dan menjamin kebebasan pers dan kebebasan akademik.

7. Meminta pihak kampus untuk menindaklanjuti kasus pemukulan dua awak LPM Lintas.

8. Mendesak pihak rektorat untuk menindaklanjuti temuan fakta LPM Lintas tentang kekerasan dan pelecehan kekerasan seksual yang terjadi di IAIN Ambon. Hal ini harus dilakukan karena 2019 lalu telah terbit Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementrian Agama Nomor 5494 Tahun 2019 tentang Pedoman Pencegahan Penanggulangan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTIK). Selain itu, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, RIset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pada tahun 2021 juga telah menerbitkan Permendikbud Ristek tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi.

9. Meminta civitas akademika IAIN Ambon untuk tidak mendiskriminasi seluruh awak LPM Lintas, khususnya para punggawa majalah ini.

Penulis : Mutiara R. J.

Editor   : Primanda Andi Akbar