/International Woman’s Day Surabaya: Suarakan Tuntutan Lewat Wayang Kardus
Fotografer : Primanda Andi Akbar

International Woman’s Day Surabaya: Suarakan Tuntutan Lewat Wayang Kardus

Aksi peringatan International Woman’s Day (IWD) di Surabaya pada (8/3) lalu berhasil diramaikan oleh puluhan perempuan dari beragam latar belakang. Berlokasi di depan Alun-Alun Surabaya, Slogan Lawan Diskriminasi Gender dan tagar #SetaraKitaBerdaya digaungkan bersama. Tema tersebut diangkat untuk menghancurkan bias gender, menghapus stereotip perempuan, dan melawan segala bentuk diskriminasi terhadap kaum marginal. Mereka menyuarakan berbagai tuntutan melalui orasi atas ketidakadilan gender yang sudah lama terjadi dengan medium berupa wayang kardus.

Menurut Ketua IWD Surabaya, Syska La Veggie, tim IWD Surabaya dibatasi untuk mendapatkan perizinan tempat orasi di tengah situasi pandemi.

“Kita dibatasi, tidak boleh ada longmarch atau keliling karena rencana awalnya kita ada. Terus hanya diberi kesempatan orasi selama satu jam saja dan diikuti maksimal 70 orang dengan protokol Kesehatan,” ungkap Syska.

Syska juga mengatakan bahwa tema yang diusung dalam peringatan IWD di Surabaya tahun ini selaras dengan tema global yakni #BreakTheBias.

“Konsep yang kita usung tiap tahun juga berbeda. Kita ingin melibatkan seni untuk ikut ke dalam gerakan. Kita percaya bahwa seni bisa menjadi sebuah kendaraan kita untuk gerakan perlawanan terhadap diskriminasi gender dan wayang kardus jadi medium kita buat melakukan orasi,” terang Syska.

Seniman dan aktivis perempuan asal Sidoarjo ini juga mengungkapkan bahwa gerakan IWD Surabaya sendiri juga terdiri dari beragam individu, kelompok hingga volunteer yang bergabung untuk memperingati Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret.

Peringatan IWD di Surabaya tahun ini tidak berhenti hanya di orasi saja. Ada rentetan program lainnya yang telah dirancang oleh IWD Surabaya bersama Perempuan Pengkaji Seni seperti webinar “Ruang Aman Untuk Semua, Kita Mulai Dari Mana?” yang telah diselenggarakan pada (25/2) lalu, Workshop Pembuatan Wayang Kardus secara hybrid pada (6/3) dan pameran wayang kardus secara luring pada (12/3) mendatang.

“Jadi semua material atau medium yang dipakai untuk orasi akan dipamerkan di Samata House untuk menyasar publik lain yang tidak bisa menyaksikan secara langsung orasi. Dan wayang-wayang ini merupakan hasil dari workshop pada (6/3) bersama kelompok Perempuan Pengkaji Seni”, jelas Syska.

Salah satu founder Perempuan Pengkaji Seni, Nabila Warda Safitri, menceritakan singkat awal berdiri kelompok Perempuan Pengkaji Seni ini hadir sebagai grup menulis pada tahun 2019 untuk mengkaji seni, perempuan dan ekosistemnya. Hingga pada November 2021 grup ini mengadakan pameran pertamanya di Unicorn Creative Space Surabaya dengan mengusung tema “Vulgaritas”.

“Sebenarnya kalau mengangkat tema vulgar sendiri itu adalah tentang bagaimana edukasi, karena selama ini vulgar itu dianggap lebih condong kepada perempuan, dan kayak karya-karya vulgar oleh seniman perempuan di Jawa Timur juga masih belum terekspos karena dianggap kayak ‘nggak baik kalau bikin karya vulgar’ “, tutur Nabila.

Pada Workshop Pembuatan Wayang Kardus sebagai salah satu serangkaian program IWD Surabaya tahun ini, Nabila mengungkapkan bagaimana mengajak teman-teman bersuara melalui wayang kardus sebagai hasil karya seni.

“Kalau dari kita lebih ke bagaimana mengkaji seni dan aktivisime itu sendiri. Perempuan Pengkaji Seni kan lebih ke arah seni tentang perempuan dan permasalahnnya. Jadi ya, lebih ke arah aktivis. Seperti di Workshop Pembuatan Wayang Kardus ini bertemakan ‘Suarakan Tuntutanmu’”, lanjut Nabila.

Nabila juga berharap perempuan lebih aktif dan tidak takut dengan apa yang ada di ekosistem, khususnya seni dan tidak takut menyuarakan apa yang dirasakan.

Sama halnya dengan Nabila, Syska La Veggie juga berharap International Woman’s Day bukan hanya sebagai perayaan tetapi gerakan bersama untuk melawan diskriminasi gender dan tuntutan yang disampaikan dapat didengar oleh pubik serta penentu kebijakan (pemerintah).

Penulis : Mutiara R. J.

Editor   : Primanda Andi Akbar