Invasi Rusia ke Ukraina: Wujud Cinta atau Bencana?

Ilustrasi : Dimas Septo Nugroho

Pernah menjadi satu republik bernama Uni Soviet, tidak membuat Ukraina dan Rusia flashback terhadap kisah masa lalu yang pernah dilalui bersama. Pemecahan negara-negara bagian Uni Soviet yang terjadi pada 1991 seolah memupuskan harapan Rusia untuk hidup bersama-sama dengan Ukraina menjadi satu kesatuan negara utuh.

Jika dilihat dari sudut pandang geografis, Ukraina merupakan negara yang memiliki posisi strategis. Negara yang terkenal dengan julukan “Keranjang Roti Eropa” ini berada di sebelah utara pesisir Laut Hitam dan Laut Azov serta berbatasan langsung dengan sejumlah negara-negara Eropa Timur seperti Polandia, Slovakia, Hongaria, Belarusia, Moldova, Romania, dan Rusia.

Ukraina memiliki iklim yang cenderung hangat jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa lain, hal ini membuat komoditas pertanian di Ukraina tumbuh subur. Bahkan, impor gandum terbesar di Indonesia berasal dari Ukraina.

Selain terkenal akan iklimnya yang hangat, Ukraina juga terkenal sebagai negara produksi kapal. Salah satu kapal buatannya yang sudah mashur di kawasan Eropa Timur bernama Admiral Kuznetsov, kapal induk dengan panjang 305 M ini didesain oleh Nevskoye Planning and Design Bureau, dengan basis pembangunan dipercayakan kepada galangan kapal Nikolayev South Shipyard.

 Dengan pisahnya Ukraina dari Republik Uni Soviet membuat Amerika Serikat memberanikan diri untuk menawarkan kepada Ukraina agar masuk kedalam North Atlantic Treaty Organization  (NATO). Sebagai negara yang merasa memiliki kesamaan kultur dengan Ukraina, tentu Russia marah mendengar kabar tersebut. Rusia menganggap bahwa Amerika Serikat dan North Atlantic Treaty Organization (NATO) adalah biang keladi pecahnya Uni Soviet serta negara-negara Eropa Timur lainnya.

 Kedekatan antara Ukraina dan Amerika Serikat dilandasi atas dasar kerjasama peningkatan perekonomian seperti perjanjian perdagangan Internasional yang diharapkan mampu memberikan keuntungan yang berlebih bagi kedua negara. Namun, sekali lagi, Rusia yang notabene adalah negara tetangga Ukraina tidak menyetujui kedekatan tersebut. Buntut dari permasalahan itu adalah Invasi Russia ke Ukraina yang terjadi akhir – akhir ini. Rusia tidak rela jika negara yang pernah menjadi satu bagian dengannya bergabung dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO).

 Presiden Rusia, Vladimir Putin, memperingatkan kepada seluruh negara di dunia termasuk Amerika Serikat  agar  tidak mencampuri urusan invasi Rusia ke Ukraina. Sebagai mantan anggota Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB), Putin juga mengancam akan menghancurkan negara-negara yang mencoba terlibat dalam pertikaian kedua negara tersebut.

Penulis : Muhammad Seto Duta

Editor   : Siti Nur Rahmawati

Daftar Pustaka

Amstutz, M, R.(1995). “International Conflict and Cooperation:An Introduction to World Politics”. Dubuque Brown&Bechmark.

Salushev, S. (2014). “Annexation of Crimea : Cause, Anlysis & Global Implication”. Global Societies, Vol 2.

Wicaksana, I, G, W. (2015). Understanding Russia II : Russia’s Foreign Policy. Surabaya: Universitas Airlangga.

Yarmawati, D. (2016) Strategi Amerika Serikat dalam Menggunakan Posisi Ukraina untuk Membendung Pengaruh Rusia di Eurasia. Padang: Universitas Andalas.

Yayan, Y, M. (2016). Politik Luar Negeri. Bandung: Universitas Padjajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *