Gelar Kehormatan Untuk Jajaran Petinggi Negeri

Gelar Kehormatan Untuk Jajaran Petinggi Negeri

Setelah gelar King of Lip Service diberikan untuk Presiden Joko Widodo oleh BEM Universitas Indonesia (UI), BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) turut serta memberikan gelar kehormatan untuk jajaran petinggi negara lainnya.

BEM KM UNNES melalui unggahan media sosial resmi BEM KM UNNES (6/7) memberikan hidangan panas untuk Wakil Presiden, Ma’ruf Amin. BEM KM UNNES menyematkan gelar King of Silent untuk Ma’ruf Amin.

BEM KM UNNES menyebut bahwa Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden tidak menunjukkan eksistensi dan perannya. Dilansir dari laman nasional.tempo.co, Ketua BEM KM UNNES, Wahyu Suryono Pratama memberikan statement bahwa Ma’ruf Amin hanya menanggapi hal-hal yang tidak berkaitan dengan tupoksinya sebagai wakil presiden. Wahyu juga berpendapat seharusnya jabatan Wakil Presiden bisa mengisi kekosongan peran Presiden yang tidak mampu dilakukan Presiden.

Mengingat latar belakang Ma’ruf Amin yang merupakan tokoh agama, Wahyu menilai peran Ma’ruf Amin hanya terkesan sebagai legitimator kebijakan pemerintah yang argumentasi dan klaimnya bias dengan agama. Sebagai Wakil Presiden, Ma’ruf Amin seharusnya tidak bias terhadap identitas agama tertentu dan bisa menempatkan diri sebagai sosok yang merepresentasikan seluruh agama.

Senada dengan BEM KM UNNES, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun juga menilai bahwa Ma’ruf Amin tidak banyak mengambil peran penting dalam menghadapi situasi akibat pandemi Covid-19. Ubed menganggap wajar jika Ma’ruf yang banyak diam dijuluki sebagai King of Silent. Ia melihat hal tersebut sebagai ekspresi kekecewaan terhadap elit penguasa.

Tak berhenti pada jajaran eksekutif, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani juga mendapat gelar kehormatan Queen of Ghosting. Puan Maharani dianggap meninggalkan rakyat dalam pengambilan keputusan saat pembuatan Undang-Undang. Melansir dari nasional.tempo.co, Sosiolog bidang Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubed mengatakan DPR lebih terlihat sebagai stempel pemerintah dan meninggalkan aspirasi rakyat, serta pengawasan terhadap eksekutif tidak dijalankan dengan baik.

Ketika mencium ketidakberesan ulah elit penguasa, masyarakat tak perlu lagi turun ke jalan mengingat kasus Covid-19 yang semakin pelik. Respons BEM UI dan BEM KM UNNES yang vokal melalui konten kreatif dan atensi besar dari mahasiswa dan masyarakat umum membuktikan bahwa media sosial bukan hanya tempat untuk berkeluh tentang melayangnya uang 20 juta. Perkara itu tetap harus diusut tuntas juga, namun sepertinya negara tidak butuh generasi penerus yang tergiur hanya dengan 20 juta.

Referensi:

Riana, F. (2021, Juli 7). BEM Unnes Beri Gelar The King of Silent untuk Ma’ruf Amin. tempo.co. Retrieved Juli 9, 2021, from https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1480608/bem-unnes-beri-gelar-the-king-of-silent-untuk-maruf-amin

Riana, F. (2021, Juli 8). Ma’ruf Amin Dijuluki King of Silent, Akademikus: Tak Ambil Peran Sebagai Wapres. Tempo.co. Retrieved Juli 9, 2021, from https://nasional.tempo.co/read/1480937/maruf-amin-dijuluki-king-of-silent-akademikus-tak-ambil-peran-sebagai-wapres

Penulis: Tata Ferliana
Editor: Astri Irmaulidiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *