(Credit: ngopibareng.id)
Penulis: Iqbal Yanuar Ramadhan
Saya sedang memainkan ponsel pintar. Asyik dengan permainan daring yang saya geluti. Ketika tiba-tiba pemberitahuan masuk ke ponsel pintar dan mengganggu permainan. Biasanya saya menggerutu dan lekas menggeser pemberitahuan itu dari layar ponsel pintar dan segera mengenyahkannya. Tapi, ketika itu saya diam dan membaca lamat-lamat. “BJ Habibie meninggal dunia “. Begitu kira-kira tulisan yang mengejutkan saya. Tulisan yang mungkin juga mengejutkan banyak orang lainnya di Indonesia . Bukan tanpa alasan, Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Saya tutup aplikasi permainan itu. Saya buka laman yang mengabarkan kesedihan itu. Lantas saya berusaha menggali pelan-pelan ingatan yang saya miliki tentang B.J. Habibie.
Bacharuddin Jusuf Habibie, biasa disapa Habibie, meninggal pada tanggal 11 September 2019. Rasanya setiap orang di Indonesia mengenalnya. Tua-Muda, Pria-Wanita tidak terkecuali. Ada yang mengenalnya sebagai mantan Presiden Indonesia. Ada pula yang mengenalnya sebagai seorang lelaki yang setia dalam film romantis yang menceritakan kembali kisah cintanya. Adapun, menurut saya dia adalah revolusioner sejati yang tidak kalah dari Tan Malaka.
Habibie bagi saya pantas disejajarkan dengan tokoh revolusioner lainnya. Ia bercita-cita tinggi untuk membawa perubahan besar dalam tatanan kehidupan bangsa. Bukan hanya bicara tentang perubahan sistem pemerintahan dan ekonomi saja. Bukan pula bicara tentang pengembangan teknologi belaka. Ia jauh lebih daripada itu bicara mengenai revolusi mentalitas bangsa. Perubahan radikal dari mentalitas bangsa bekas jajahan menjadi mentalitas bangsa yang berdiri di kaki sendiri. Perubahan radikal dari bangsa yang inferior dan rendah diri menjadi bangsa yang punya harga dan kepercayaan diri yang tinggi.
Revolusi itu diwujudkan melalui proyek besar pembangunan teknologi Indonesia. Proyek itu adalah pembangunan teknologi kedirgantaraan Indonesia. Pembangunan teknologi kedirgantaraan baginya merupakan batu loncatan bagi Indonesia untuk mengubah pola pikir yang inferior. Bagaimanapun penguasaan teknologi kedirgantaraan merupakan lambang ketinggian kualitas peradaban suatu bangsa. Jika proyek ini terwujud maka rasa ketertinggalan dan ketidakmampuan sebagai akibat traumatik dari penjajahan akan sirna. Inferioritas kolektif, begitu Frantz Fanon menyebutnya, digantikan dengan kepercayaan diri karena kemampuan diri untuk memproduksi teknologi tinggi.
Akhirnya, pembangunan pesawat bagi Indonesia bukan saja akan menghubungkan letak geografisnya. Ia akan meningkatkan Indonesia di mata dunia karena negara manapun yang mampu untuk membuat pesawat akan naik kedudukannya di mata dunia. Pada gilirannya pesawat ini akan menghubungkan kepercayaan diri bangsa yang pernah tercabik. Menyulamnya kembali menjadi suatu kesadaran bahwa negara ini bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan seluruh bangsa beradab lainnya di dunia
Bagi saya ini tidak ada bedanya dengan gagasan “Merdeka 100 %” milik Tan Malaka. “Merdeka 100 %” merupakan gagasan untuk merebut kekuasaan dari tangan asing dengan tangan Indonesia sendiri. Melalui sebuah perjuangan bersenjata, bukan melalui diplomasi dan cara kooperatif lainnya. Sekali lagi, kemampuan untuk merebut kekuasaan dari penjajah dengan tangan sendiri. Dalam gagasannya, Jika Indonesia merebut kekuasaan dengan tangannya sendiri, bukan saja kemerdekaan politik dan ekonomi yang diraih. Kemerdekaan bangsa dari pola pikir feodal dan inferior itu pula yang akan didapat.
Apa yang dilakukan oleh Habibie dan Tan Malaka keduanya adalah cara. Pengembangan teknologi atau perjuangan bersenjata hanyalah metode untuk satu tujuan yang lebih besar. Tujuan itu adalah terlepasnya Indonesia dari belenggu inferioritas kolektif warisan kolonialisme. Mungkin bagi keduanya disanalah letak kemerdekaan yang sejati.
Terlepas dari bagaimanapun hasil dari gagasan yang dibawa oleh Habibie. Sejarah tentu akan mencatatnya. Keberhasilan maupun kegagalannya dapat dipelajari dalam sejarah bagi yang mau membacanya. Begitu pula terlepas dari bagaimanapun orang melihatnya, dan hal tersebut adalah sah, seluruh perjalanan kehidupan Habibie merupakan “mata air”. Kita bisa merasakan manfaat dan inspirasi darinya.
Meskipun begitu, jika saya boleh lebih egois sedikit. Izinkan saya menyampaikan pendapat saya sendiri. Jauh dibenak hati ini, saya meyakini bahwa Habibie telah lama sekali merdeka pikirannya. Jauh melampaui orang-orang di zamannya. Begitu pula dengan hati yang sedih, saya meyakini bahwa beliau juga telah “merdeka” Jiwa dan raganya. Jauh melampaui kita.
Akhirnya, di akhir perenungan saya hanya dapat memanjatkan do’a.
“Selamat tinggal Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. FREng”
“Semoga amal baikmu diterima. Semoga kekal gagasan dan impianmu untuk bangsa ini, dilanjutkan oleh tunas muda Indonesia selanjutnya.”
disiplin mental dari solidaritas kolektif !