Kedua paslon Ketua-Wakil Ketua BEM Unair 2019 saling berdebat pada Uji Masyarakat Kampus (UMK) yang diadakan di Lapangan Parkir Magister Manajemen Kampus B Universitas Airlangga, Rabu (20/3) malam. (MERCUSUAR/Faisal)
Reporter: Najmuddin Kholish dan Lailatul Fitriani
Editor: M. Faisal Javier Anwar
Pasca Uji Masyarakat Kampus (UMK) pada Selasa (19/3) malam di Lapangan Parkir Magister Manajemen, LPM Mercusuar menemui kedua paslon untuk menanyakan keseriusan keduanya pada keterbukaan sidang MPM.
Sebelumnya dalam berita LPM Mercusuar berjudul “Ketua MPM Sampaikan Sidang Pemilihan Ketua-Wakil Ketua BEM Unair 2019 Berjalan Tertutup“, Ketua MPM Alif Satria utarakan sidang MPM berjalan tertutup.
Menanggapi hal tersebut, kedua paslon ditanyai LPM Mercusuar mengenai keseriusannya dalam mengawal keterbukaan informasi dalam ruang sidang MPM 2019.
Vigo sebagai calon Ketua BEM nomor urut 1, mengatakan perlunya keterbukaan informasi pers dalam kehidupan kampus. “Keterbukaan pers di sini adalah keharusan dan kewajiban. Lembaga pers wajib ada untuk mengawal isu dan berbagai peristiwa. Oleh karena itu, keterbukaan pers ini kita sangat mendukung,” ujar mahasiswa FEB tersebut.
Melengkapi pernyataan Vigo, Fahmi ucapkan perlunya keseimbangan dalam pers agar tidak berat sebelah. “Memang dalam hal penyeimbang, pers harus tidak berat sebelah dan sebagainya,” ujar mahasiswa FISIP tersebut.
Sementara dari kubu nomor urut 2, pasangan Agung – Aji berpendapat keterbukaan informasi adalah wujud demokrasi.
“Kalau dari kita, dari Agung-Aji apa namanya? Sepakat, sepakat untuk pers masuk dalam sidang. Kenapa? Ini adalah salah satu wujud demokrasi kita, transparansi dan pilar-pilar demokrasi itukan ada di pers,” ujarnya.
Wakil Agung, Aji pun menimpali, “Saya sepakat juga dengan Agung karena pers ini jiwanya mahasiswa.”
Langkah Konkret Kedua Paslon
Ketika ditanyai keseriusan paslon dalam mengawal masuknya pers dalam sidang MPM 2019, kedua paslon berikan pendapat berbeda.
Dari kubu Vi-Fa, Vigo menyayangkan tidak boleh masuknya lembaga pers dalam sidang tertutup ini. Ia mengaku inginkan lembaga pers masuk dalam sidang agar bisa mengawal proses terpilihnya salah satu paslon.
“Kami agak mempertanyakan kenapa pers tidak boleh masuk. Padahal di sidang tertutup seperti ini, saya harap pers bisa ikut turut mengawal jalannya sidang tersebut, supaya Mahasiswa bisa tahu info-info yang akurat dan update mengenai sidang,” aku Vigo.
Sementara Fahmi akui akan turuti peraturan yang dibuat oleh panitia terkait boleh tidaknya pers masuk ke ruang sidang.
“Karena kita tidak punya wewenang apapun, semua dikembalikan ke MPM. Mungkin pers disini bisa mengambil langkah yang lain seperti dari kecepatan berita. Stay di depan ruangan atau sebagainya. Monggo. Ya, kita sebagai calon hanya menerima apa yg diberikan oleh panitia, MPM dan PPK,” ucap Fahmi.
Sedangkan paslon nomor urut 2 akui akan menyuarakan ke fakultas-fakultas untuk mendorong bolehnya pers masuk dalam ruang sidang.
“Dengan cara kita menyatakan sikap ini. Kita nyatakan sikap ini nanti kita dorong dari teman-teman perwakilan. Kalau saya kan dari FISIP, nanti saya dorong dari teman-teman FISIP untuk bagaimana pers ini bisa masuk,” janji Agung.
Senada dengan Agung, Aji akui akan menyuarakan keterbukaan pers di FKM. “Nanti saya bisa dorong teman-teman dari FKM barangkali itu bisa mengusulkan bahwasannya teman-teman pers itu harus masuk,” janji mahasiswa FKM tersebut.
Tunggu Kesepakatan MPM
Ketua MPM 2019 Alif Satria Nosafandra saat ditemui pasca UMK, mengaku bahwa keputusan diperbolehkan atau tidaknya pers masuk dalam ruang sidang masih harus akan dibicarakan lagi dalam forum MPM.
“Itu bukan keputusan pribadi saya, nanti saya kembalikan ke teman-teman lagi untuk rapat, nanti niat saya ngajakin teman-teman rapat, nanti ngabarin pers,” janjinya.
“Soalnya kemarin ada teman-teman yang memberi pengertian bahwa sidang ini sidang tertutup, jadi sepenangkapan saya teman-teman menyetujui kalau sidang (dilaksanakan) tertutup,” tambahnya.
Terkait jika nantinya kedua paslon mendorong MPM untuk melaksanakan sidang terbuka, Alif mengaku itu akan menjadi salah satu pertimbangan nantinya.
“Nah, itu akan jadi pertimbangan kami. Kami enggak akan menutup mata,” janjinya.
“Tergantung rapat besarnya teman-teman (MPM) nanti, jadi enggak murni keputusan saya pribadi,” ulangnya penuh tegas.